Friday, October 30, 2009

Tugas Manager dalam Perusahaan

0 komentar

    Fungsi Manager dalam Perusahaan
  1. Para manajer perusahaan dapat beroperasi sesuai dengan serarigkaian tujuan yang kompleks dan dengan berbagai kendala. Namun, kita dapat berasumsi bahwa perusahaan berperilaku seakan-akan mereka memaksi­malkan laba jangka pan+jangnya.
  2. Banyak pasar mendekati persaingan sempurna dalam arti bahwa satu atau lebih perusahaan bertindak seakan­akan mereka menghadapi kurva permintaan yang hampir horizontal. Pada umumnya, jumlah perusahaan dalam suatu industri tidak selalu menjadi indikator yang baik tentang sejauh mana industri tersebut bersaing.
  3. Karena perusahaan dalam pasar bersaing hanya memiliki pangsa pasar yang kecil (small share) dari keluaran total industri, perusahaan membuat pilihan keluarannya dengan asumsi bahwa keputusan produksinya tidak berpengaruh terhadap harga produk tersebut. Dalam hal ini kurva permintaan dan kurva penerimaan marginalnya identik.
  4. Dalam jangka pendek, perusahaan yang bersaing memaksimalkan laba dengan memilih tingkat keluaran pada harga sama dengan biaya marginalnya (jangka pendek), selama harganya lebih besar atau sama dengan biaya produksi variabel rata-rata minimum perusahaan tersebut.
  5. Kurva penawaran pasar jangka pendek adalah ju­horizontal dari kurva penawaran tiap perusahaa dalam industri tersebut. Kurva penawaran ini ditanda dari elastisitas penawarannya persentase perubahan jumlah penawaran karena persentase perubahan harga.
  6. Surplus produsen bagi perusahaan adalah selisih antara penerimaan suatu perusahaan dan biaya minimum yang diperlukan untuk memproduksi keluaran yang memaksimalkan laba. Dalam jangka pendek mau ­dalam jangka panjang, surplus produsen adalah dan ­di bawah garis harga horizontal dan di atas biaya produksi marginal dari suatu perusahaan.
  7. Rente ekonomis adalah pembayaran untuk suatu faktor produksi yang langka dikurangi dengan jum minimum yang diperlukan untuk menyewa faktor tersebut. Dalam jangka panjang dalam pasar bersaing surplus produsen adalah sama dengan rente ekonor_- - yang dihasilkan oleh semua faktor produksi yang langka.
  8. Dalam jangka panjang, perusahaan bersaing yang memaksimalkan laba akan memilih tingkat keluaran ada harga yang sama dengan biaya marginal jangka panjang.
  9. Ekuilibrium bersaing jangka panjang akan terjadi bila (a) perusahaan memaksimalkan laba; (b) semua Perusahaan menerima laba ekonomis nol, sehingga Tidak ada insentif untuk memasuki atau meninggalkan industri tersebut; dan (c) jumlah permintaan produk sama dengan jumlah penawaran.
  10. Kurva penawaran jangka panjang bagi suatu perusahaan adalah horizontal bila industrinya adalah industri biaya­ konstan, dengan permintaan yang meningkat untuk masukan produksi (berkaitan dengan kenaikan permintaan untuk produk) tidak berpengaruh terhadap harga masukan. Namun kurva penawaran jangka panjang perusahaan kemiringannya menaik dalam industri biaya­meningkat, dengan peningkatan permintaan terhadap ma­sukan menyebabkan naiknya harga pasar dari beberapa atau semua masukan nroduksi.
[read more..]

Fungsi biaya menghubungkan biaya produksi terhadap tingkat keluaran perusahaan.

0 komentar
  1. Manaier, investor, dan ahli ekonomi harus ikut memperhitungkan biaya kesempatan sehubungan dengan pemakaian sumber daya perusahaan-yakni biaya dari kesempatan yang lepas apabila perusahaan selanjutnya menggunakan sumber dayanya pada alternatif yang terbaik.
  2. Biaya hangus adalah pengeluaran yang telah dipakai tidak dapat diperoleh kembali. Setelah biaya ini terjadi, biaya ini harus diabaikan ketika melakukan keputusan ekonomi di masa mendatang
  3. Dalam jangka pendek, satu atau lebih masukan perusa­haan adalah tetap. Biaya total dibagi dengan biaya tetap dan biaya variabel. Biaya marginal perusahaan adalah tambahan biaya variabel dari tiap unit keluaran ,tam­bahan. Biaya variabel rata-rata adalah biaya variabel total dibagi dengan jumlah unit keluaran.
  4. Apabila tidak semua masukan adalah variabel tunggal, seperti halnya dalam jangka pendek, adanya skala pengembalian menurun menentukan bentuk kurva biaya. Khususnya, ada hubungan terbalik antara pro­duk marginal dari masukan variabel dan biaya marginal produksi: Kurva biaya variabel rata-rata dan kurva biaya total rata-rata berbentuk U. Kurva biaya marginal jangka pendek meningkat melampaui titik tertentu dan memotong kedua kurva biaya rata-rata dari bawah pada titik minimumnya.
  5. Dalam jangka panjang, semua masukan pada proses produksi adalah variabel. Akibatnya, pemilihan masukan tergantung kepada biaya relatif dari faktor­faktor produksi dan sejauh mana perusahaan dapat mensubstitusi masukan dalam proses produksi. Pemilihan masukan yang meminimalkan biaya dilakukan dengan mencari titik singgung antara isokuan tingkat keluaran yang diinginkan dengan garis iso-biaya.
  6. Jalur perluasan (expansion path) perusahaan meng­gambarkan bagaimana pilihan masukan yang meminimalkan biaya bervariasi sementara skala atau keluaran operasinya meningkat. Akibatnya, jalur perluasa­memberikan informasi yang berguna untuk keputusa­n perencanaan jangka panjang.
  7. 7. Kurva biaya rata-rata jangka panjang adalah selubung da­kurva biaya rata-rata jangka pendek perusahaan, dan mencerminkan ada atau tidaknya skala pengembalian. Apabila ada skala pengembalian tetap dan ada banyak kemungkinan ukuran pabrik; kurva biaya jangka panjang adalah horizontal dan selubungnya terciri atas titik min:­mum biaya rata-rata jangka pendek. Namun, bila pada mulanya ada skala pengembalian yang meningkat da:­ kemudian skala pengembalian yang menurun, kurva rata­rata jangka panjang berbentuk U dan selubungnya tidak mencakup semua titik minimum biaya rata-rata jangka pendek.
  8. Perusahaan, menikmati skala ekonomis apabila dapa: menggandakan keluarannya dengan biaya kurang dari dua kali lipat. Sehubungan dengan ini, skala ekonomis terjadi bila penggandaan keluaran membutuhkan biaya lebih dan dua kali lipat. Skala ekonomis dan tidak ekonomis juga berlaku apabila proporsi masukan bervariasi; skala pengembalian hanya berlaku apabila proporsi masukan tetap.
  9. Bila suatu perusahaan memproduksi dua (atau lebih) keluaran, penting untuk diperhatikan apakah dalam produksi terdapat cakupan ekonomis. Cakupan ekonomis terjadi apabila perusahaan dapat memproduksi setiap kombinasi dari dua keluaran lebih murah daripada yang dapat dilakukan oleh dua perusahaan yang masing-masing memproduksi satu produk. Tingkat cakupan ekonomis diukur dari persentase pengurangan biaya apabila satu perusahaan menghasilkan dua produk dibandingkan dengan biaya untuk memproduksinya secara individual.
1. Biaya produksi rata-rata suatu perusahaan dapat menurun sepanjang waktu jika perusahaan "belajar bagaimana memproduksi secara lebih efektif. Kurva belajar menggambarkan berapa banyak penurunan masukan yang dibutuhkan untuk memproduksi suatu keluaran tertentu selagi keluaran kumulatif dari perusa­haan itu meningkat.
2. Fungsi biaya menghubungkan biaya produksi terhadap tingkat keluaran perusahaan. Fungsi tersebut dapat diukur dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang dengan memakai data perusahaan dalam industri tersebut pada waktu tertentu atau data industri di masa lalu. Sejumlah hubungan fungsional seperti linear, kuadrat, dan pangkat tiga dapat dipakai untuk menyatakan fungsi biaya.
[read more..]

Kurva permintaan perorangan konsumen

0 komentar

    Kurva permintaan perorangan konsumen
  1. Kurva permintaan perorangan konsumen untuk suatu komoditi dapat diperoleh dari informasi rnengenai selera mereka untuk semua barang dan dari kendala anggaran mereka.
  2. Kurva Engel, yang menggambarkan hubungan antara jumlah suatu barang yang dikonsumsi dan pendapatan, berguna untuk membahas bagaimana pengeluaran konsumen bervariasi dengan pendapatan.
  3. Dua barang dapat merupakan substitusi jika neningkatan harga satu barang mengakibatkan peningkatan jumlah permintaan dari barang lain. Sebaliknya, dua barang adalah komplemen bila kenaikan harga satu barang mengakibatkan pengurangan jumlah permintaan barang lain.
  4. Efek perubahan harga atas jumlah permintaan dari suatu barang dapat dipecah menjadi dua bagian-efek substitusi, dengan kepuasan tetap konstan tetapi harga berubah, dan efek pendapatan, dengan harga tetap tetapi kepuasan berubah. Karena efek pendapatan dapat positif atau negatif, perubahan harga dapat mempunyai efek kecil atau besar atas jumlah permintaan. Pada suatu kasus yang tidak biasa yaitu pada barang Giffen, jumlah permintaan mungkin bergerak searah dengan perubahan harga, mengakibatkan kemiringan kurva permintaan menaik.
  5. Kurva permintaan pasar adalah penjumlahan dari kurva permintaan perorangan semua konsumen dalam pasar untuk barang yang bersangkutan. Kurva permintaan pasar dapat dipakai untuk menghitung sejauh mana orang-orang menilai konsumsi dari barang dan jasa tertentu.
  6. Permintaan tidak elastis terhadap harga apabila peningkatan harga 1 persen mengakibatkan penurunan kurang dari 1 persen dalam jumlah permintaan, sehingga pengeluaran konsumen meningkat. Permintaan elastis terhadap harga apabila peningkatan harga 1 persen mengakibatkan penurunan lebih dari 1 persen dalam jumlah permintaan, sehingga pengeluaran konsumen menurun. Permintaan elastis satuan apabila peningkatan 1 persen dalam harga mengakibatkan penurunan 1 persen dalam jumlah permintaan.
  7. Konsep surplus konsumen dapat berguna dalam rnenentukan keuntungan yang diterima orang dari mengkonsumsi suatu produk. Surplus konsumen adalah perbedaan antara apa yang bersedia dibayar seorang konsumen untuk suatu barang dan apa yang sebenarnya dibayarnya ketika membeli barang tersebut.
  8. Terdapat eksternalitas jaringan apabila permintaan seseorang dipengaruhi langsung oleh keputusan pembelian konsumen lain. Suatu contoh dari eksternalitas jaringan positif, efek ikut-ikutan, terjadi apabila jumlah permintaan seorang konsumen secara khas meningkat karena ia menganggap membeli produk yang dibeli orang lain merupakan suatu gaya. Sebaliknya, eksternalitas jaringan negatif, efek snob, terjadi apabila jumlah permintaan seorang konsumen meningkat jika lebih sedikit orang yang memiliki barang itu:

    Beberapa metode dapat dipakai untuk memperoleh informasi tentang permintaan konsumen. Ini mencakup wawancara, pendekatan eksperimen, dan pendekatan statistik yang tidak langsung. Pendekatan statistik sangat bermanfaat untuk diterapkan, tetapi penting untuk menetapkan variabel yang tepat yang mempengaruhi permintaan sebelum pekerjaan statistik itu selesai.
  1. Konsumen dan manajer sering membuat keputusan dalam situasi ketidakpastian akan masa depan. Ketidakpastian ini dinyatakan dengan istilah risiko, yaitu setiap hasil yang mungkin dan probabilitas terjadinya diketahui.
  2. Konsumen dan investor khawatir dengan ekspektasi nilai dan variabilitas dari ketidakpastian hasil. Ekspektasi nilai diukur dari kecenderungan utama dari oilai hasil yang berisiko. Variabilitas sering diukur dengan simpangan baku dari hasil, yang merupakan akar pangkat dua dari rata-rata kuadrat penyimpangan tiap kemungkinan hasil dari ekspektasi nilai.
  3. Dengan menghadapi ketidakpastian pilihan, konsumen memaksimalkan ekspektasi utilitasnya, rata-rata utilitas dari setiap hasil, dengan menyatakan probabilitas sebagai bobot.
  4. Seseorang yang lebih suka dengan pengembalian yang samdah pasti dalam jumlah tertentu daripada investasi beresiko dengan jumlah ekspektasi pengembalian yang sama disebut orang yang enggan terhadap risiko (risk aversa) Jumlah maksimun uang yang tersedia yang dibayarkan oleh seseorang yang enggan terhadap risiko untuk menghindari risiko disebut premi risiko (risk premium). Seseorang yang tidak peduli antara investasi yang berisiko dan penerimaan pasti dari ekspektasi return dari investasi tersebut disebut netral terhadap risiko (risk neutral). Seorang konsumen yang menyukai risiko akan lebih suka investasi yang berisiko dengan ekspektasi return daripada menerima ekspektasi jumlah yang sudah pasti.
  5. Risiko dapat dikurangi dengan (a) diversifikasi, b) membeli asuransi, dan (c) memperoleh informasi tambahan.
  6. The law of large numbers memungkinkan perusahaan asuransi memberikan asuransi yang cukup memadai dengan premi yang dibayarkan sama dengan nilai yang diharapkan dari kerugian yang diasuransikan. Kita menyebutnya penaksiran yang wajar (acturially fair).
  7. Teori konsumen dapat diterapkan untuk keputusan melakukan investasi pada aset yang berisiko. Garis anggaran mencerminkan harga risiko dan kurva indiferensi konsumen mencerminkan sikap mereka terhadap risiko.
[read more..]

Teori pilihan konsumen dibangun atas asumsi

0 komentar

1. Teori pilihan konsumen dibangun atas asumsi bahwa orang-orang berperilaku secara rasional dalam usaha untuk memaksimalkan kepuasan yang dapat diperolehnya dengan membeli kombinasi tertentu dari barang dan jasa.
2. Pilihan konsumen mempunyai dua bagian yang saling berhubungan: studi tentang preferensi konsumen dan analisis dari garis anggaran, yang membatasi pilihan seseorang.
3. Konsumen membuat pilihan dengan membandingkan keranjang pasar atau kumpulan komoditi. Diasumsi bahwa preferensinya adalah lengkap (mereka dapat membandingkan semua kemungkinan keranjang pasar dan transitif (jika mereka lebih suka keranjanng pasar A daripada B, dan B daripada C, maka mereka lebih suka daripada C). Sebagai tambahan, kita telah - mengasumsikan bahwa lebih banyak barang selalu disukai daripada kurang.
4. Kurva indiferens, yang mengambarkan semua kombinasi barang dan jasa yang memberikan tingkat kepuasan yang sama, kemiringannya menurun dan tidak dapat saling memotong.
5. Preferensi konsumen dapat digambarkan secara lengkap oleh serangkaian kurva indiferens atau peta indiferens. Peta indiferens ini memberikan pemering­katan ordinal dari semua kemungkinan pilihan yang dapat dibuat oleh konsumen.
6. Tingkat substitusi marginal F untuk C adalah jumlah maksimum C yang bersedia dilepaskan seseorang untuk memperoleh satu tambahan unit F. Tingkat substitusi marginal berkurang ketika kita bergerak ke bawah melalui kurva indiferens. Dengan adanya tingkat substitusi marginal yang berkurang, maka preferensi berbentuk cembung
7. Garis anggaran menggambarkan semua kombinasi barang di mana konsumen membelanjakan seluruh pendapatan mereka. Garis anggaran bergeser ke luar sebagai reaksi terhadap peningkatan pendapatan konsumen; tetapi garis itu berputar dan melingkar pada satu titik tetap (pada sumbu vertikal) apabila harga suatu barang (pada sumbu horizontal) berubah tetapi pendapatan dan harga barang yang lain tidak.
8. Konsumen memaksimalkan kepuasan yang dibatasi oleh kendala anggaran. Apabila seorang konsumen me­maksimalkan kepuasan dengan mengkonsumsi beberapa dari kedua barang tersebut, tingkat substitusi marginal sama dengan perbandingan harga dua barang vang sedang dibeli.
9. Pemaksimalan ini kadang-kadang dicapai pada pemecahan sudut yang mana suatu barang tidak dikonsumsi. Dalam hal itu tingkat substitusi marginal tidak perlu sama dengan rasio harga.
10. Teori tentang preferensi terungkap menunjukkan bagai­mana pilihan-pilihan yang dibuat seseorang apabila narga dan pendapatan yang bervariasi dapat dipakai untuk menetapkan preferensi mereka. Apabila seseorang memilih keranjang A sedangkan ia mampu membeli B, kita tahu bahwa A lebih disukai daripada B.
11. Teori konsumen dapat digambarkan dengan memakai pendekatan kurva indiferens, yang menggunakan ciri­ciri ordinal dari utilitas (yaitu, yang memberi peluang untuk pemeringkatan alternatif), atau pendekatan fungsi utilitas. Fungsi utilitas diperoleh dengan memasang angka pada setiap keranjang pasar; jika keranjang pasar A lebih disukai daripada keranjang pasar B, A menghasilkan lebih banyak utilitas daripada B.
12. Apabila pilihan yang berisiko dianalisis atau apabila harus dibuat perbandingan antara para individu, sifat kardinal dari fungsi utilitas menjadi penting. Biasanya fungsi utilitas akan menunjukkan berkurangnya utilitas marginal. Dengan semakin banyak suatu barang dikonsumsi, semakin sedikit peningkatan utilitas yang diperoleh konsumen.
13. Apabila pendekatan fungsi utilitas digunakan dan dua barang dikonsumsi, pemaksimalan utilitas terjadi apabila rasio dari utilitas marginal dari dua barang (yang merupakan tingkat substitusi marginal) sama dengan perbandingan harga.
14. Indeks biaya hidup ideal mengukur biaya untuk membeli kumpulan barang pada harga sekarang yang membangkitkan tingkat utilitas yang sama seperti telah dinikmati dari kumpulan barang yang telah dikonsumsi pada harga tahun dasar. Namun, indeks harga Laspeyres, menggambar-kan biaya untuk membeli kumpulan barang yang dipilih pada tahun dasar dengan harga sekarang ini relatif terhadap biaya untuk membeli kumpulan yang sama pada harga tahun dasar. CPI, seperti halnya semua indeks harga Laspeyres, melebih-lebihkan indeks biaya hidup ideal. Sebaliknya, indeks Paasche mengukur biaya pada tahun ini dengan membeli sekumpulan barang yang dipilih pada tahun sekarang dibagi dengan biaya pembelian kumpulan yang sama dengan harga pada tahun dasar. Jadi bentuk ini membuat indeks biaya hidup ideal menjadi lebih rendah.
[read more..]

Analisis penawaran-permintaan

0 komentar

  1. Analisis penawaran-permintaan merupakan alat dasar mikroekonomi. Dalam pasar bersaing, kurva pena­waran dan permintaan memperlihatkan kepada kita berapa banyak yang akan diproduksi oleh perusahaaan dan berapa banyak permintaan konsumen sebagai fungsi dari harga.
  2. Mekanisme pasar adalah kecenderungan dari pena­waran dan permintaan dalam menuju keseimbangan (karena harga bergerak ke tingkat ekuilibrium pasar), sehingga tidak ada kelebihan permintaan dan juga tidak ada kelebihan penawaran.
  3. Elastisitas menggambarkan reaksi penawaran dan permintaan terhadap perubahan harga, pendapatan, atau variabel lainnya. Misalnya, elastisitas harga _ mintaan mengukur persentase perubahan jumlah mintaan akibat kenaikan harga sebesar 1 persen.
  4. Elastisitas terikat pada kerangka waktu dan untuk ~ banyakan barang adalah penting untuk memberi, antara elastisitas jangka pendek dan jangka panjang
  5. Jika kita dapat memperkirakan, paling sedikit secara kasar, kurva penawaran dan permintaan untuk pa­tertentu, kita dapat menghitung harga ekuilibriu­pasar dengan menyelesaikan persamaan-persama.-­untuk jumlah penawaran dan jumlah permintaan. Jug: jika kita mengetahui bagaimana penawaran da­permintaan bergantung pada variabel ekonomi lain, seperti pendapatan atau, kita dapat menghitung bagaimana harga dan jumlah ekuilibrium pasar akan berubah selagi variabel-variabel lainnya berubah. Inilah suatu cara untuk menjelaskan atau memprediksi verilaku pasar.
  6. Analisis numerik yang sederhana seringkali dapat di­lakukan dengan mencocokkan kurva linear penawaran dan permintaan pada data mengenai harga dan jumlah serta pada perkiraan elastisitas. Untuk banyak pasar tersedia data dan perkiraan tersebut, dan perhitungari yang sederhana pada "back of envelope" dapat membantu kita mengerti karakteristik dan perilaku pasar.
[read more..]

Mikroekonomi

0 komentar

  1. Mikroekonomi berurusan dengan keputusan yang dibuat oleh unit-unit ekonomi yang kecil-konsumen, pekerja, penanam modal, pemilik sumber daya, dan perusahaan bisnis. Juga berurusan dengan interaksi konsumen dan perusahaan untuk membentuk pasar dan industri.
  2. Mikroekonomi sangat menggantungkan diri pada pemakaian teori, yang (melalui penyederhanaan) dapat membantu untuk menjelaskan bagaimana unit-unit ekonomi berperilaku dan meramalkan perilaku di kemudian hari. Model-model tersebut adalah representasi matematis dari teori yang dapat membantu dalam proses penjelasan dan ramalan ini.
  3. Mikroekonomi menangani pertanyaan-pertanyaan posi­tif yang harus dilakukan dengan penjelasan dan prediksi dari suatu fenomena, tetapi mikroekonomi juga penting untuk analisis normatif, yang mana kita mempertimbangkan pilihan-pilihan mana yang ter­baik-bagi perusahaan atau untuk masyarakat secara keseluruhan. Analisis normatif harus sering dikombi­nasikan dengan "value judgment" individual karena mungkin melibatkan kesamarataan dan keadilan dan juga efisiensi ekonomi.
  4. Istilah pasar mengacu pada sekelompok pembeli dan penjual yang saling berinteraksi dan menuju kemung­kinan terjadinya penjualan dan pembelian sebagai hasil interaksi tersebut. Mikroekonomi mencakup studi ten­tang pasar bersaing sempurna yang mana tak satu pun pembeli atau penjual mempunyai dampak terhadap harga dan pasar yang tidak bersaing merupakan tempat di mana setiap individu dapat mempengaruhi harga.
  5. Harga pasar ditetapkan oleh interaksi pembeli dan pen­jual. Dalam pasar bersaing sempurna biasanya satu harga saja yang berlaku. Dalam pasar bersaing tidak sempurna penjual yang berbeda-beda dapat menetap­kan harga yang berbeda pula. Maka harga pasar adaiah harga rata-rata.
  6. Apabila membahas pasar, kita harus jelas tentang luas­nya pasar dalam pengertian batas-batas geografisnya dan kisaran produk yang mungkin dicakupnya. Bebe­rapa pasar (misalnya perumahan) sangat terlokalisir sedangkan yang lain (misalnya emas) luas sekali.
  7. Untuk mengurangi pengaruh inflasi, kita menguku­harga dolar yang riil (atau konstan) daripada harga dolar yang nominal (atau kini). Harga riil menggunaka•­indeks harga agregat, seperti CPI, untuk mengadaka:­koreksi karena inflasi.
[read more..]

Thursday, October 29, 2009

Pengertian Tarekat

0 komentar

BAB I
PENDAHULUAN

1. Kenyataan Sejarah 
Cikal bakal tasawuf dan tarekat, benih-benih dan dasar ajarannya tak dapat dipungkirisudah ada sejak dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa yang terjadi dalam hidup, dalam ibadah dan dalam pribadi Nabi Muhammad SAW. Cikal bakal itu semuanya berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Cikal bakal inilah yang diteruskan pengamalannya oleh Ahlul Bait, Khulafaur-Rasyidin, para sahabat yang lain, para Ahlus Shufah , para Salafus Shaleh, zaman tabi’in, tabi’it tabi’in sampai dengan zaman muta-akhirin sekarang ini. 

Para Sufi dan Syekh-syekh Mursyid dalam tarekat, merumuskan bagaimana sistematika, jalan, cara, dan tingkat –tingkat jalan yang harus dilalui oleh para calon sufi atau muri tarekat secara rohani untuk cepat bertaqarrub, mendekatkan diri kehadirat Allah SWT.

Kenyataan dalam sejarah juga menunjukkan, bahwa peran serta aktif dari para sufi dan para tuan syekh, mursyid, adalah amat besar dalam dakwah islam dan dalam pembinaan umat, tidak hanya dalam bidang ibadah ubudiyah, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan perorangan, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pendapat yang menyatakan bahwa tasawuf dan tarekat itu menghambat kemajuan atau menyebabkan umat menjadi terbelakang adalah sangat keliru. Kenyataan juga membuktikan, sejak dahulu sampai sekarang, kemajuan pembangunan yang serba canggih buah dari ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), tanpa dikendalikan oleh iman dan taqwa(IMTAQ), tidak hanya mengancam timbulnya kehancuran umat manusia. Dengan kata lain, kemajuan dalam bidang benda material tanpa diimbangi degan kemajuan pembinaan mental spiritual , akan menjurus kepada kehancuran menyeluruh.

2. Tarekat di Indonesia
Seperti diketahui dari sejarah, masuknya tasawuf dan tarekat ke Indonesia bersamaan dengan masuknya islam. Aliran lembaga tarekat yang masuk ke Indonesia bersamaan dengan memuncaknya gerakan tasawuf internasional, seperti Tarekat Khalwatiyah,Syattariyah, Syadziliyah, demikia juga tarekat-tarekat yang lain, yaitu Tarekat Qadiriyah, Rifa’iyah,Idrisiyah, dan yang paling besar dan menyeluruh tersebar di seluruh kepulauan Nusantara adalah tarekat Naqsabandiyah.

BAB II PEMBAHASAN
TAREKAT DAN PERKEMBANGANNYA

1. Pengertian Tarekat
Asal kata “tarekat” dalam bahasa arab yaitu “thariqah” yang berarti jalan, keadaan, aliran, atau garis pada sesuatu.[1]

Menurut istilah tasawuf, tarekat berarti perjalanan seorang salik (pengikut tarekat) menuju Tuhan dengan cara mensucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh secara rohani, maknawi oleh seseorang untuk dapat mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Allah SWT. 

Menurut Syekh Amin al-Kurdi tarekat ialah cara mengamalkan syariat dan menghayati inti syariat itu dan menjauhkan diri dari hal-hal yang bisa melalaikan pelaksanaan dan inti serta tujuan syariat.

2. Hubungan Tarekat dengan Tasawuf
Didalam ilmu tasawuf, istilah tarekat tidak saja ditujukan kepada aturan dan cara-cara tertentu yang digunakan oleh seorang syekh tarekat dan bukan pula terhadap kelompok yang menjadi pengikut salah seorang syekh tarekat, tetapi meliputi segala aspek ajaran yang ada didalam agama Islam, seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya, yang semua itu merupakan jalan atau cara mendekatkan diri kepada Allah.[2] 

Sebagaimana telah diketahui bahwa tasawuf itu secara umum adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat mungkin, melalui penyesuaian rohani dan memperbanyak ibadah. Usaha mendekatkan diri ini biasanya dilakukan dibawah bimbimngan seoang guru atau syekh. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan tarekat adalah cara dan jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah. Gambaran ini menunjukkan bahwa tarekat adalah tasawuf yang terlah berkembang dengan beberapa variasi tertentu, sesuai dengan spesifikasi yang diberikan seorang guru kepada muridnya.

3. Sejarah Timbulnya Tarekat
Peralihan tasawuf yang bersifat personal pada tarekat yang bersifat lembaga tidak terlepas dari perkembangan dan perluasan tasawuf itu sendiri. Semakin luas pengaruh tasawuf, semakin banyak pula orang berhasrat mempelajarinya.

Seorang guru tasawuf biasanya memformulasikan suatu sistem pengajaran tasawuf berdasarkan pengalamannya sendiri. Sistem pengajaran itulah yang kemidian menjadi ciri khas bagi suatu tarekat yang membedakannya dari tarekat yang lain.[3] Tarekat adalah organisai dari pengikut sufi-sufi besar. Mereka mendirikan organisasi-organisasi untuk melestarikan ajaran-ajaran tasawuf gurunya. Maka timbullah tarekat. Tarekat ini memakai suatu tempat pusat kegiatan yang disebbut ribat (disebut juga zawiyah, hangkah atau pekir).

Teori lain sejarah kemunculan tarekat dikemukakan oleh Jhon O. Voll. Ia mejelaskan bahwa penjelasan mistis terhadap Islam muncul sejak awal sejarah islam, dan para sufi yang mengembangkan jalan-jalan spiritual personal mereka dengan melibatkan praktik-praktik ibadah, pembacaan kitab suci, dan kepustkaan tentang keshalehan. Para sufi ini kadang-kadang terlibat konflik dengan otoritas-otoritas dalam komunitas islam dan memberikan alternatif terhadap orientasi yang lebih bersifat legalistik, yang disampaikan oleh kebanyakan ulama. Namun, para sufi secara bertahap menjadi figur-figur penting dalam kehidupan keagamaan dikalangan penduduk awam dan mulai mengumpulkan kelompok-kelompok pengikut diidentifikasi dan diikat bersama oleh jalan taswuf khusus (tarekat) sang guru. Mejelang abad ke-12 M (ke-5 H), jalan-jalan ini mulai menyediakan basis bagi kepengikutan yang lebih permanen, dan tarekat-tarekat sufi pun muncul sebagai organisasi sosial utama dalam komunitas islam.[4]

Pada awal kemunculannya, tarekat berkembang dari dua daerah, yaitu Khurasan (Iran) dan Mesopotamia (Irak). Pada priode ini mulai timbul beberapa, diantaranya tarekat Yasafiah yang didirikan oleh Ahmad al-Yasafi (w. 562 H/1169 M), tarekat Khawajagawiyah yang disponsori oleh Abd al-Khaliq al-Ghzudawani (w. 617 H/1220 M), tarekat Naksabandiyah, yang didirikan oleh Muhammad Bahauddin an-Naksabandi al-Awisi al-Bukhari (w. 1389 M) di Turkistan, tarekat Khalwatiyah yang didirikan oleh Umar al-Khalwati (w. 1397 M). Karena banyaknya cabang-cabang tarekat yang timbul dari tiap-tiap tarekat induk, sangat sulit untuk menelusuri sejarah perkembangan tarekat itu se cara sistematis dan konsepsional. Akan tetapi yang jelas sesuai dengan penjelasan Harun Nasution, cabang-cabang itu muncul sebagai akibat tersebarnya alumni suatu tarekat yang mendapat ijazah tarekat dari gurunya untuk membuka perguruan baru sebagai perluasan dari ilmu yang diperolehnya. Alumni tadi meninggalkan ribat gurunya dan membuka ribat baru didaerah lain. Dengan cara ini, dari satu ribat induk kemudian timbul ribat cabang tumbuh ribat ranting dan seterusnya, samapi tarekat itu berkembang keberbagai dunia islam.[5] Namun, ribat-ribat tersebut tetap mempunyai ikatan kerohanian, ketaatan, dan amalan-amalan yang sama dengan syekhnya yang pertama.

Dalam seluruh tarekat terdapat kegiatan ritual sentral yang melibatkan pertemuan-pertemuan kelompok secara teratur untuk melakukan pembacaan do’a, syair dan ayat-ayat pilihan dari Al-Qur’an.

4. Aliran-aliran Tarekat Dalam Islam 
Tarekat Qadiriyah

Qadiriyah didirikan oleh Abd Al-Qadir Jailani [470/1077-561/1166] atau quthb al-awiya. Ciri khas dari Tarekat Qadiriyah ini adalah sifatnya yang luwes,tidak sempit sehingga tuan syekh atau Syekh Mursyid yang baru dapat menentukan langkahnya menuju kehadirat Allah SWT guna mendapat keridlaan-Nya. Keluwesan dan kemandirian inilah, yang menyebabkan tarekat ini cepat berkembang di sebagian besar dunia Islam. Terutama di Turki, Yaman, Mesir, India, Suria, Afrika dan termasuk ke Indonesia.

2. Syadziliyah
Tarekat Syadziliyah didirikan oleh Abu Al-Hasan Asy-Syadzili [593/1196-656/1258]. Syadziliyah menyebar luas di sebagian besar Dunia Muslim. Ia diwakili di Afrika Utara teerutama oleh cabang-cabang Fasiyah dan Darqawiyah serta berkembang pesat di Mesir, tempat 14 cabangnya dikenal secara resmi pada tahun 1985.[6]

Tarekat Naqsabandiyah 
Tarekat Naqsabandiyah didirikan oleh Muhammad Bahauddin An-Naqsabandi Al-Awisi Al-Bukhari [w. 1389M] di Turkistan. Tarekat ini mempunyai dampak dan pengaruh sangat besar kepada masyarakat muslim di berbagai wilayah yang berbeda-beda. Tarekat ini pertama kali berdiri di Asia Tengah, kemudian meluas ke Turki, Suriah, Afganistan, dan India. Cirri menonjol Tarekat Naksabandiyah adalah : Pertama, mengikuti syariat secara ketat, keseriusan dalam beribadah yang menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, dan lebih menyukai berdzikir dalam hati. Kedua, upaya yang serius dalam memengaruhi kehidupan dan pemikiran golongan penguasa serta mendekati Negara pada agama. 
Tarekat Yasafiyah dan Khawajagawiyah

Tarekat Yasafiyah didirikan oleh Ahmad Al-Yasafi [w. 562H/1169M] dan disusul tarekat Khawajagawiyah yang disponsori oleh Abd Al-Khaliq Al-Ghuzdawani [w. 617 H/1220 M]. kedua tarekat ini menganut paham tasawuf Abu Yazid Al-Bustami [w. 425 H/1034 M] dan dilanjutkan oleh Abu Al-Farmadhi [w. 477 H/1084 M].[7] Tarekat Yasafiyah berkembang ke berbagai daerah, antara lain ke Turki.

Tarekat Khalwatiyah 
Tarekat ini didirikan oleh Umar Al-Khalatawi [w. 1397 M] dan merupakan salah satu tarekat yang berkembang di berbagai negeri, seperti Turki, Syiria, Mesir, Hijaz, dan Yaman. Di Mesir, tarekat Khalwatiyah didirikan oleh Ibrahim Gulsheini [w. 940 H/1534 M] yang kemudian terbagi kepada beberapa cabang, antara lain tarekat Sammaniyah yang didirikan oleh Muhammad bin Abd Al-Karim As-Samani [1718-1775].

Tarekat Syatariyah
Tarekat ini didirikan oleh Abdullah bin Syattar [w. 1485] dari India. Tarekat ini tidak mementingkan shalat lima waktu, tetapi mementingkan shalat permanen [shalat dhaim]. Adapun dasar tarekat ini adalah martabat tujuh yang sebenarnya tidak begitu erat hubungannya dengan praktik ritualnya.[8]

Tarekat Rifa’iyah
Tarekat ini didirikan oleh Ahmad bin Ali ar-Rifa’I [1106-1182]. Tarekat sufi Sunni ini memainkan peranan penting dalam pelembagaan sufisme. Dari segala praktik kaum Rifa’iyah, dzikir mereka yang khas patut dicatat.

Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah 
Tarekat ini merupakan gabungan dari dua ajaran tarekat, yaitu Qadiriyah dan Naqsabandiyah. Tarekat ini didirikan oleh Ahmad Khatib Sambas yang bermukim dan mengajar di Mekkah pada pertengahan abad ke-19. Tarekat ini merupakan yang paling berpengaruh dan tersebar secara melua di Jawa saat ini.[9]

Tarekat Sammaniyah 
Tarekat ini didirikan oleh Muhammad bin ‘Abd Al-Karim Al-Madani Asy-Syafi’I As- Samman [1130-1189/1718-1775]. Hal menarik dari tarekat ini yang menjadi ciri khasnya adalah corak wahdat al-wujud yang dianut dan syathahat yang terucap olehnya tidak bertentangan dengan syariat.

Tarekat Tijaniyah 
Tarekat Tijaniyah didirikan oleh Syekh Ahmad bin Muhammad At-Tijani [1150-1230 H/1737-1815 M]. Bentuk amalan tarekat Tijaniyah terdiri dari dua jenis,yaitu wirid wajibah dan wirid ikhtiyariyah.

Tarekat Chistiyah 
Chistiyah adalah salah satu tarekat sufi utama di Asia Selatan. Tarekat ini meyebar ke seluruh kawasan yang kini merupakan wilayah India, Pakista dan Banglades. Namun, tarekat ini hanya terkenal di India. Pendiri tarekat ini di India adalah Khwajah Mu’in Ad-Din Hasan, yang lebih populer dengan panggilan Mu’in Ad-Din Chisti.

Tarekat Mawlawiyah 
Nama Mawlawiyah berasal dari kata “mawlana” [guru kami], yaitu gelar yang diberikan murid-muridnya kepada Muhammad Jalal Ad-Din Ar-Rumi [w. 1273]. Oleh karena itu, Rumi adalah pendiri tarekat ini, yang didirikan sekitar 15 tahun terakhir hidup Rumi. Salah satu mursyid sekaligus wakil yang terkenal secara internasional dari tarekat ini adalah Syekh Al-Kabir Helminski yang bermarkas di California, Amerika Serikat.[10] 

Tarekat Ni’matullahi 
Tarekat Ni’matullahi adalah suatu mazhab sufi Persia yang segera setelah berdirinya dan mulai berjaya pada abad ke-8-14 mengalihkan loyalitasnya kepada Syi’I Islam. Tarekat ini didirikan oleh Syekh Ni’matullahi Wal. Tarekat ini secara khusus menekankan pengabdian dalam pondok sufi itu sendiri. 

Tarekat Sanusiyah 
Tarekat ini didirikan oleh Sayyid Muhammad bin ‘Ali As-Sanusi. Dalam tarekat ini, dzikir bisa dilakukan bersama-sama atau sendirian. Tujuan dzikir itu lebih dimaksudkan untuk “melihat Nabi” ketimbang “melihat Tuhan”, sehingga tidak dikenal “keadaan ekstatis”’ sebagaimana yang ada pada tarekat lain. 

Di samping tarekat-tarekat diatas, ada pula tarekat lokal yang didirikan di Indonesia diantaranya : [11]

Tarekat Akmaliyah [Hakmiyah]
Didirikan oleh Kyai Nurhakim. Ia dikenal sebagai dukun dan tukang jimat. 
Tarekat Shiddiqiyah

Didirikan oleh Kyai Mukhtar Mukti di Losari Plodo [Jombang] pada tahun 1958. Ia dikenal sebagai dukun yang sakti sehingga banyak pengikutnya dari kalangan penderita penyakit kronis dan bekas pecandu minuman.
Tarekat Wahidiyah 

Didirikan oleh Kyai Majid Ma’ruf dari Kedunglo[Kediri] pada tahun 1963. 
Tarekat-tarekat yang ajaran-ajarannya sesuai dengan doktrin Islam [Al-Qur’an dan AsSunnah] dikelompokkan ke dalam tarekat yang muktabarah. Sebaliknya, tarekat-tarekat yang ajaran-ajarannya bertentangan dengan doktrin Islam dikelompokkan ke dalam tarekat ghair muktabarah. Menurut Syekh Jalaluddin sebagaimana dikutip ole Aboe Bakar Atjeh, ada 41 jenis tarekat yang masuk ke dalam tarekat muktabarah, diantaranya Qadiriyah, Naqsabandiyah, Syadziliyah, Rifa’iyah, Qubrawiyah, Suhrawardiyah, Khalwatiyah, Alawiyah, Syatariyah, Aidrusiyah, Sammaniyah, dan Sanusiyah. Di luar yang 41 macam tersebut dipandang sebagai tarekat ghair muktabarah yang tidak diakui kebenarannya seperti tarekat Akmaliyah, Siddiqiyah, dan Wahidiyah.

Walaupun bermacam-macam, ternyatatarekat-tarekat yang beragam itu memiliki kesamaan tertentu. Dalam kaitan ini, Nicholson mengungkapkan hasil penelitiannya, bahwa sistem hidup bersih dan bersahaja [zuhd] adalah dasar semua tarekat yang berbeda-beda itu. Semua pengikut dididik dalam disipin itu, dan pada umumnya tarekat-tarekat tersebut walupun beragam namanya dan metodenya ada cirri yang menyamakannya. 

Dari sisem dan metode tersebut, Nicholson menyimpulkan bahwa tarekat-tarekat sufi merupakan bentuk kelembagaan yang terorganisasi untuk membina suatu pendidikan moral dan solidaritas social. Sasaran akhir dari pembinaan pribadi dalam pola hidup bertasawuf adalah hidup bersih, bersahaja, tekun beribadah kepada Allah, membimbing masyarakat ke arah yang diridai Allah, dengan jalan pengamalan syariat dan penghayatan haqiqah dalam sistem/metode thariqah untuk mencapai makrifat. Apa yang dimaksud dengan makrifat dalam tema mereka adalah penghayatan puncak pengenalan keesaan Allah dalam wujud semesta dan wujud dirinya sendiri. Pada titik pengenalan ini akan terpadu makna tawakkal dalam tauhid, yang melahirkan sikap pasrah total kepada Allah, dan melepaskan dirinya dari ketergantungan mutlak kepada sesuatu selain Allah. 

BAB III
KESIMPULAN

Tarekat adalah perjalanan seorang salik (pengikut tarekat) menuju Tuhan dengan cara mensucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh secara rohani, maknawi oleh seseorang untuk dapat mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Allah SWT. 

Tarekat-tarekat dalam Islam :
Tarekat Qadiriyah
Tarekat Syadziliyah 
Tarekat Naqsabandiyah 
Tarekat Yasafiyah dan Khawajagawiyah
Tarekat Khalwatiyah
Tarekat Syatariyah
Tarekat Rifa’iyah 
Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah 
Tarekat Sammaniyah
Tarekat Tijaniyah 
Tarekat Chistiyah
Tarekat Mawlawiyah
Tarekat Ni’matullahi
Tarekat Sanusiyah
[read more..]

MAKALAH TENTANG PERKEBUNAN

0 komentar

PENDAHULUAN
1. Lokasi Kebun
Lokasi Kebun PTP Nusantara II Kebun Tanjung Garbus – Pagar Marbau berada di Kabupaten Deli Serdang Propinsi Sumatera Utara, dan berjarak 25 km dari kota Medan PTPN – II ini terbesar dalam tiga Kecamatan yaitu Kecamatan Lubuk Pakam, Kecamatan Pagar Marbau, dan Kecamatan Perbaungan, Perkebunan PTPN – II Tanjung Garbus – Pagar Marbau berada pada ketinggian 14 – 20 m dpl, dengan iklim basah, dan curah hujanpertahun berkisar antara 1500-2000 mm/tahun, dengan jenis tanah latosol, dan tofografi dataran rendah.
Adapun perbatasan areal perkebunan PTPN – II Tanjung Garbus – Pagar Marbau adalah :
· Sebelah utara berbatasan dengan kota Lubuk Pakam.
· Sebelah selatan berbatasan dengan Daerah Jati Baru.
· Sebelah barat berbatasan dengan kampung Tanjung Garbus I dan Desa Batu Delapan.
2. Sejarah Kebun
Perkebunan Tanjung Garbus- Pagar Marbau pada awalnya dimilki oleh Perusahaan Belanda yang bernama “ NV SENEMBAH MAAT CHAAAPY” dengan komoditi tanaman karet. Pada tahun 1957 perkebunan Belanda ini diambil alih oleh pemerintah Indonesia dari tangan Belanda. Setelah diambil alih Pemerintah Indonesia namanya berganti menjadi PPN baru, dan selama diambil alih oleh Pemerintah Indonesia, juga telah banyak mengalami perubahan – perubahan nama yaitu sebagai berikut :
a. Pada tahun 1963 PNP baru unit II menjadi PPN Sumut V.
b. Pada tahun 1964 menjadi PPN karet III.
c. Pada tahun 1970 berdiri sendiri menjadi PNP II / Sws.
d. Kebun PTPN – II Tanjung Morawa dan Perusahaan Peserta PT. Perkebunan yang bergerak di dalam bidang pertanian perkebunan, didirikan dengan Akta Notaris pada tanggal 12 Desember 1976, dan disyahkan oleh menteri Kehakiman dengan SE. I. A. 5 / 43 B pada tanggal 28 januari 1977 dan telah dirumuskan dalam lembaran Negara No. 52 / 1978 sebagai tambahan informasi RI No. 6 tanggal 20 januari 1978.
e. Di daftarkan pada pengadilan Negeri Tingkat I Medan tanggal 19 Februari 1978 No. 10. 1077. PT. Perseroan Terbatas ini bersama dengan perusahaan Perseroan PTP - I disingkat menjadi PTP – I, yang merupakan Perseroan bentuk gabungan dengan PNP – II Sawit seberang.
f. Pendirian Perusahaan ini melaksanakan UU No. 9 tahun 1969 dan peraturan pemerintah tahun 1975.
g. Pada tahun 1984, menurut keputusan pemengang saham, setelah akta pendiriannya dirubah maka dituangkan dalam Akta Notaris Inas Patimah, SH Jakarta No. 94 tanggal 13 Agustus 1984.
h. Pada tahun 1989 Kebun Melati digabung dengan kebun Tanjung Garbus dan menjadi PTP – II TG MEL ( Tanjng Garbus Melati).
i. Pada tahun 1989 kebun TG MEL beralih komiditi tanaman, yaitu dari tanaman karet menjadi tanaman kelapa sawit.
j. Pada tanggal 11 Maret 1996 PTPN – II digabung dengan PTPN – IX dan menjadi PTPN – II Persero, disingkat dengan TG – PM II, yang berkantor pusat di Tanjung Morawa.
GAMBARAN UMUM PERKEBUNAN
1. Luas Kebun Seluruhnya
Luas kebun seluruhnya PTPN – II Tanjung Garbus – Pagar Marbau adalah 4.789.69 Ha.
1.1. Luas Kebun Yang Di Tanami
Luas areal kebun PTPN – II Tanjun Garbus – Pagar Marbau yang ditanami tanaman kelapa sawit terdiri dari tanaman belum menghasilkan memiliki luas 402,70 Ha,dan untuk menghasilkan 3,802,97 Ha.
1.2. Pemakian tanah Yang Lain
Untuk pemakain tanah lain, PTPN II Tanjung Garbus – Pagar Marbau menyisikan tanah seluas 268,69 Ha.Tujuan dari penyisian tanah ini adalah untuk sarana lapangan bola kaki, jalan , Kuburan, PLN, Emplasmen, rumah sekolah, dan lain – lain.
2. Susunan Tanamnan / Luas
Susunan tanaman atau luas areal yang ditanami oleh kelapa sawit antara lain :
2.1. Luas Bibitan, TBM, TM
Untuk luas areal bibitan 13,00 Ha, dan untuk tanaman belum menghasilkan 402,70 Ha, dan untuk tanaman menghasilkan luas areal 3,802,97 Ha.
2.2. Varietas / Klon Yang Di Tanami
Varietas atau klon yang ditanam di kebun PTPN II Tanjung Garbus – Pagar Marbau adalah jenis D x P (Tenera ) yang berasal dari PPKS Marihat, DY x P (Dumpy) yang berasal dari PPKS Medan, dan kultur jaringan yang berasal dari marihat.
2.3. Luas Untuk Setiap Varietas
Kebun PTPN – II Tanjung Garbus Pagar Marbau merupakan Perkebunan yang hampir keselurahannya menggunakan varietas ini adalah 4,789,69 Ha, dengan jarak tanam 9,42 x 8,16 m, dengan sistem tanam segi tiga sama sisi.
RINGKASAN EKSEKUTIF
Perkebunan PTPN – II Tanjung Garbus – Pagar Marbau merupakan perusahaan yang termasuk perusahaan BUMN Indonesia, yang mana lokasi perkebunan ini berada di Kabupaten Deli Serdang Propinsi Sumatera Utara, dan berjarak ± 25 km dari kota Medan. PTPN – II ini terbesar dalam tiga kecamatan yaitu, kecamatan Lubuk Pakam, kecamatan Pagar Marbau, dan kecamtan Perbaungan. Perkebunan PTPN – II Tanjung Garbus – Pagar Marbau berada pada ketinggian ± 14 – 20 m dpl, dengan iklim basah, dan curah hujan pertahun berkisar antara 1500 – 2000 mm / tahun, dengan jenis tanah latosol, dan topografi datar.
Perkebunan Tanjung Garbus – Pagar Marbau semula dimilki oleh perusahaan Belanda yang bernama “ NV SENEMBAH MAAT CHAAPY “ dengan komiditi tanaman karet. Namun pada tahun 1957 perkebunan belanda ini diambil alih oleh pemerintah Indonesia dari tanggan Belanda. Setelah diambil alih oleh Pemerintah RI namanya berubah menjadi Perusahaan Perkebunan Negara ( PPN ).
Luas kebun keseluruhan PTPN – II Tanjung Grabus – Pagar Marbau adalah 4.789,68 Ha, yang mana luas kebun yang ditanami tanamna kelap sawit adalah , untuk pembibitan luas areal ±13,00 ha, untuk tanaman belum menghasilkan ± 402,70 Ha, untuk tanaman menghasilkan ( TM ) ±3.802,97 Ha, dan untuk pemakaian tanah lain – lain seluas ± 268,69 Ha.
Jarak tanam yang digunakan PTPN – II Tanjung Garbus – Pagar Marbau adalah 9,42 x 8,16 m dengan sistem segtiga sama sisi. Dan varietas yang digunakan adalah Varietas jenis D x P ( Tenera ).
Fasiitas yang tersedia di perkebunan PTPN – II Tanjung Garbus – Pagar Marbau agi karyawan dan masyarakat setempat adalah berupa fasilitas pendidikan, klinik, sarana olahraga, tempat beribadah, dan jalan. Fasilitas ini diberikan sebagai penunjang dalam memeberikan pelayanan bagi keluarga karyawan, dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat setempat agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial.
Perkebunan PTPN – II Tanjung Garbus – Pagar Marbau memperkerjakan pekerja dan staf adalah sebagai berikut :
  1. Administratur ( ADM ) : 1 orang
  2. Staf : 12 orang
  3. Karyawan Tanaman : 773 orang
  4. BHL : 312 orang
  5. Umum / Administrasi : 273 orang
DAFTAR TABEL
No Judul Halaman
1. Standart Kebutuhan Kecambah ........................................................
2. Dosis Pemupukan Pada Pembibitan Main Nursery..........................
3. Dosis Pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM).............
4. Kriteria Buah yang di Panen............................................................
5. Jumlah Tenaga Kerja.......................................................................
[read more..]
 
SEO Stats powered by MyPagerank.Net
My Ping in TotalPing.com