Friday, July 23, 2010

Pengertian Manajemen

0 komentar
A. Pengertian Manajemen
Istilah manajemen, terjemahannya dalam bahasa Indonesia hingga saat ini belum ada keseragaman.
Selanjutnya, bila kita mempelajari literatur manajemen, maka akan ditemukan bahwa istilah
manajemen mengandung tiga pengertian yaitu:

Manajemen sebagai suatu proses,

1. Manajemen sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen,

2. Manajemen sebagai suatu seni (Art) dan sebagai suatu ilmu pengetahuan (Science)

Menurut pengertian yang pertama, yakni manajemen sebagai suatu proses, berbeda-beda definisi yang
diberikan oleh para ahli. Untuk memperlihatkan tata warna definisi manajemen menurut pengertian
yang pertama itu, dikemukakan tiga buah definisi.


Dalam Encylopedia of the Social Sience dikatakan bahwa manajemen adalah suatu proses denga
mana pelaksanaan suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi.
Selanjutnya,Hilm an mengatakan bahwa manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan yang sama.

Menurut pengertian yang kedua, manajemen adalah kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas
manajemen. Jadi dengan kata lain, segenap orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam
suatu badan tertentu disebut manajemen.


Menurut pengertian yang ketiga, manajemen adalah seni (Art) atau suatu ilmu pnegetahuan. Mengenai
inipun sesungguhnya belum ada keseragaman pendapat, segolongan mengatakan bahwa manajemen
adalah seni dan segolongan yang lain mengatakan bahwa manajemen adalah ilmu. Sesungguhnya
kedua pendapat itu sama mengandung kebenarannya.<1>

Menurut G.R. Terry manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan
atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud
yang nyata. Manajemen juiga adalah suatu ilmu pengetahuan maupun seni. Seni adalah suatu
pengetahuan bagaimana mencapai hasil yang diinginkan atau dalm kata lain seni adalah kecakapan
yang diperoleh dari pengalaman, pengamatan dan pelajaran serta kemampuan untuk menggunakan
pengetahuan manajemen.

Menurut Mary Parker Follet manajemen adalah suatu seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan
melalui orang lain. Definisi dari mary ini mengandung perhatian pada kenyataan bahwa para manajer
mencapai suatu tujuan organisasi dengan cara mengatur orang-orang lain untuk melaksanakan apa saja
yang pelu dalam pekerjaan itu, bukan dengan cara melaksanakan pekerjaan itu oleh dirinya sendiri.

Itulah manajemen, tetapi menurut Stoner bukan hanya itu saja. Masih banyak lagi sehingga tak ada satu definisi saja yang dapat diterima secara universal. Menurut James A.F.Stoner, manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi danmenggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[3]
[read more..]

Pentingnya Kestabilan Harga

0 komentar

Definisi Inflasi I : Secara sederhana inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi.
Indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Sejak Juli 2008, paket barang dan jasa dalam keranjang IHK telah dilakukan atas dasar Survei Biaya Hidup (SBH) Tahun 2007 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Kemudian, BPS akan memonitor perkembangan harga dari barang dan jasa tersebut secara bulanan di beberapa kota, di pasar tradisional dan modern terhadap beberapa jenis barang/jasa di setiap kota.
Indikator inflasi lainnya berdasarkan international best practice antara lain:
  1. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB). Harga Perdagangan Besar dari suatu komoditas ialah harga transaksi yang terjadi antara penjual/pedagang besar pertama dengan pembeli/pedagang besar berikutnya dalam jumlah besar pada pasar pertama atas suatu komoditas. [Penjelasan lebih detail mengenai IHPB dapat dilihat pada web site Badan Pusat Statistik
  2. Deflator Produk Domestik Bruto (PDB) menggambarkan pengukuran level harga barang akhir (final goods) dan jasa yang diproduksi di dalam suatu ekonomi (negeri). Deflator PDB dihasilkan dengan membagi PDB atas dasar harga nominal dengan PDB atas dasar harga konstan.
[read more..]

Kebijakan Moneter Bank Indonesia

0 komentar

Tujuan Kebijakan Moneter Bank Indonesia
Bank Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Tujuan ini sebagaimana tercantum dalam UU No. 3 tahun 2004 pasal 7 tentang Bank Indonesia.
Hal yang dimaksud dengan kestabilan nilai rupiah antara lain adalah kestabilan terhadap harga-harga barang dan jasa yang tercermin pada inflasi. Untuk mencapai tujuan tersebut, sejak tahun 2005 Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan moneter dengan inflasi sebagai sasaran utama kebijakan moneter (Inflation Targeting Framework) dengan menganut sistem nilai tukar yang mengambang (free floating). Peran kestabilan nilai tukar sangat penting dalam mencapai stabilitas harga dan sistem keuangan. Oleh karenanya, Bank Indonesia juga menjalankan kebijakan nilai tukar untuk mengurangi volatilitas nilai tukar yang berlebihan, bukan untuk mengarahkan nilai tukar pada level tertentu.
Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk melakukan kebijakan moneter melalui penetapan sasaran-sasaran moneter (seperti uang beredar atau suku bunga) dengan tujuan utama menjaga sasaran laju inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah. Secara operasional, pengendalian sasaran-sasaran moneter tersebut menggunakan instrumen-instrumen, antara lain operasi pasar terbuka di pasar uang baik rupiah maupun valuta asing, penetapan tingkat diskonto, penetapan cadangan wajib minimum, dan pengaturan kredit atau pembiayaan. Bank Indonesia juga dapat melakukan cara-cara pengendalian moneter berdasarkan Prinsip Syariah.
[read more..]

Monday, July 19, 2010

Defenisi Teknologi Informasi

0 komentar
TI (Teknologi Informasi) : pada zaman Globalisasi kita sering mendengar denga istilah Teknologi Informasi.
Teknologi Informasi Adalah Suatu alat yang digunakan Branwere untuk lebih mudah melakukan suatu perancangan kegiatan secara cepat.

Defenisi Teknologi Informasi : Data : sekumpulan item yang belum mempunyai arti bagi penggunanya.
Contoh : Mega, 1050502, 2002501, 18, Dipati Ukur
Informasi : Data yang terstruktur hasil olahan dan telah memiliki arti bagi penggunanya.
Contoh : 1050502, Mega, 022-2002501, Jl. Dipati Ukur No. 18 Bandung
Defenisi Informasi secara Internasional adalah sebagai hasil dari pengolahan data yang secara prinsip memiliki nilai atau value yang lebih dibandingkan data mentah.
Teknologi adalah
• Ilmu yang berkaitan dengan seni atau sains dengan pengaplikasian pengetahuan saintifik ke praktis
• Aplikasi praktis dari sains dalam industri dan bisnis
Teknologi Informasi : teknologi yang berhubungan dengan pengolahan data menjadi informasi dan proses penyaluran data/informasi tersebut dalam batas – batas ruang dan waktu.
Teknologi informasi merupakan pengembangan dari teknologi komputer dipadukan dengan teknologi telekomunikasi.
Komputer hanyalah salah satu produk dalam domain teknologi informasi. Modem, Router, Oracle, SAP, Printer, Cabling System, VSAT dan sebagainya merupakan contoh – contoh dari produk – produk teknologi informasi.

Defenisi Sistem Informasi
Sistem : Kumpulan dari komponen – komponen yang memiliki unsur keterkaitan dan terintegrasi antara satu dengan lainnya dan saling bekerjasama untuk mencapai tujuan.
Sistem Informasi merupakan suatu kumpulan dari komponen – komponen dalam perusahaan atau organisasi yang berhubungan dengan proses penciptaan dan pengaliran informasi.

Pada masa lalu Teknologi Informasi yang digunakan berupa goresan/gambar, arsip, telegraf, dan lain – lain. Pada masa kini Teknologi Informasi yang digunakan antara lain berupa komputer, faks, telekonferensi.

Informasi dapat diperoleh melalui :
- Pustaka (ilmiah, semi – ilmiah, popular)
- Media massa (cetak, radio, tv)
- Lisan (wawancara, telepon)
- Tulisan (surat, fax)
Perangkat Bantu yang digunakan untuk memperoleh informasi adalah :
- Manual (Pena, Pensil)
- Mesin Mekanis (Mesin Tik)
- Alat Elektronis (Komputer)
- Alat Telekomunikasi

Data sebaiknya diolah dengan cara :
- Perekaman awal
- Pengklasifikasian
- Penyusunan/ Pengurutan
- Penghitungan
- Penyimpanan
- Cara pengambilan kembali
- Perbanyakan
- Penyampaian

SEJARAH TEKNOLOGI INFORMASI
Alat Manual
Alat manual untuk mengolah data sudah digunakan sejak jaman primitif.
Bangsa Barbara menggunakan batu karang yang digoreskan untuk mencatat data. Batu karang yang digoreskan ini disebut petroglyphs. Di timur tengah bangsa Babylonia dan Sumeria menggunakan tablet tanah liat untuk melakukan perhitungan dan pencatatan informasi. Bangsa Yunani dan Romawi menggunakan lempengan kayu yang dilapisi lilin dan kulit bianatang sebagai tempat pencatatan data dan menggunakan kayu, tulang ataupun metal sebagai alat tulisnya.

Pada abad 17 ahli matematika Skotlandia menciptakan alat yang dibuat dari tulang untuk perhitungan perkalian yang disebut Napier’s Bones.

Alat Mekanis
Pascaline merupakan mesin penghitung mekanis pertama yang diciptakan oleh Blaise Pascal. Mesin ini hanya dapat melakukan penambahan dan pengurangan saja.
Charles Babbage menciptakan Babbage’s Difference Engine dan kemudian mengembangkan dengan konsep yang lebih mendalam dan umum menjadi Babbage’s Analytical Engine. Prinsip kerja mesin ini merupakan dasar kerja dari komputer sekarang. Mesin ini dapat melakukan operasi pertambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.

Alat Elektronis
1. Generasi Pertama (1942 -1959 )
? Komponen terbuat dari tabung hampa (Vacuum Tube)

Gambar 1. Tabung Hampa

? Program berupa bahasa mesin (Machine Languange)
? Menggunakan konsep store program dengan memori utamanya adalah magnetic core storage
? Menggunaka simpanan luar magnetic tape dan magnetic disk
? Karakteristik :
- Ukuran besar
- Cepat panas
- Prosesnya kurang cepat
- Kapasitas untuk penyimpanan data kecil
- Membutuhkan daya listrik besar
- Orientasinya terutama pada aplikasi bisnis
Contoh : Eniac (Electronic Numerical Integrator and Calculator)

Gambar 2. Eniac

2. Generasi Kedua (1959 -1965)
? Komponennya terbuat dari transistor untuk sirkuitnya

Gambar 3. Transistor

? Program dapat dibuat dalam bahasa tingkat tinggi (high level language seperti Fortran, Cobol, dan Algol
? Kapasitas memori utama sudah cukup besar dengan pengembangan dari magnetic core storage, dapat menyimpan puluhan ribu karakter
? Menggunakan simpanan luar magnetic tape dan magnetic disk yang berbentuk removable disk atau disk pack
? Mempunyai kemampuan real time dan time sharing
? Karakteristik :
- Ukuran fisik lebih kecil dari generasi pertama
- Proses operasi sudah cepat
- Kapasitas memori lebih besar
- Membutuhkan lebih sedikit daya listrik
- Orientasinya pada aplikasi bisnis dan teknik
Contoh : IBM 1401 yang digunakan oleh kalangan industri

Gambar 4. Komputer IBM

3. Generasi Ketiga (1965 -1970)
? Komponen yang dipergunakan adalah IC (Integrated Circuit)
? Peningkatan Software
? Pengembangan alat input output
? Memungkinkan untuk melakukan Multiprocessing dan Multi programming
Contoh : IBM system 360, UNIVAC 1108

4. Generasi Keempat (1970 -1983)
Ada dua perkembangan yang dianggap sebagai generasi keempat
1. Penggunaan LSI (Large Scale Integration) atau Bipolar Large Scale Integration yang merupakan pemadatan dari beribu IC dijadikan satu dalam sebuah chip

Gambar 5. Chip

2. Perkembangan komputer mikro yang menggunakan microprocessor dan semiconductor yang berbentuk chip untuk memori komputer (Internal Memory), sedangkan komputer generasi sebelumnya masih menggunakan magnetic core storage.

Gambar 6. Komputer palmtop

5. Generasi kelima
Komputer kelima sedang dalam pengembangan . Komponen yang dipergunakan adalah VLSI dan ULSI. Juga sedang dikembangkan Josephson Junction, teknologi yang kemungkinan bisa menggantikan chip.

Komponen Teknologi Informasi
Komponen teknologi informasi terdiri dari :
1. Hardware (CPU, memory, I/O device, Interconnector)
2. Software (Sistem Operasi, program paket, program aplikasi)
3. Brainware (Analis, Programmer, manajer, Database Administrator)
4. Firmware (Instruksi yang disimpan permanent dalam ROM)
5. Infoware (user manual, SOP, cyber law)

EVOLUSI PERKEMBANGAN SISTEM INFORMASI
Penggabungan antara teknologi informasi dan teknologi telekomunikasi telah menghasilkan suatu revolusi di bidang sistem informasi.
Secara garis besar ada empat era perkembangan sistem informasi, yang dimulai dari pertama kali ditemukannya komputer hingga saat ini.

Era Komputerisasi
Periode ini dimulai sekitar tahun 1960 – an ketika mini komputer dan mainframe diperkenalkan perusahaan, seperti IBM, ke dunia industri. Kemampuan menghitung sedemikian cepat menyebabkan banayak sekali perusahaanyang memanfaatkannya untuk keperluan pengolahan data (data processing).

Pemakaian komputer dimasa ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, karena terbukti untuk pekerjaan – pekerjaan tertentu, mempergunakan komputer jauh lebih efisien dibandingkan dengan mempekerjakan berpuluh – puluh SDM untuk hal serupa.
Pada era tersebut, kebanyakan perusahaan – perusahan besar yang bergerak di bidang infrastruktur (listrik dan telekomunikasi) dan pertambangan pada saat itu membeli komputer untuk membantu kegiatan administrasinya.

Era Teknologi Informasi
Diawal tahun 1970 – an, teknlogi PC (Personal Computer) mulai diperkenalkan sebagai alternatif pengganti Mini Computer. Kegunaan komputer diperusahaan tidak hanya untuk meningkatkan efisiensi, tetapi juga untuk mendukung terjadinya proses kerja yang lebih efektif. 

Tidak seperti halnya pada era komputerisasi ketika komputer hanya menjadi “milik pribadi” divisi EDP (Elektronik Data Processing) perusahaan, di era kedua ini setiap individu di organisasi dapat memanfaatkan kecanggihan komputer, seperti untuk mengolah database, spreadsheet, maupun data processing (end user computing).

Era Sistem Informasi
Pada era ini yang lebih ditekankan adalah sistem informasi, karena komputer dan teknologi informasi merupakan komponen dari sistem informasi. Kunci keberhasilan perusahaan di era tahun 1980 – an adalah penciptaan dan penguasaan informasi secara tepat dan akurat.

Tidak dapat disangkal lagi bahwa kepuasan pelanggan terletak pada kualitas pelayanan. Disinilah peranan sistem informasi sebagai komponen utama dalam memberikan keunggulan kompetitif perusahaan.

Oleh karena itu, kunci kinerja perusahaan adalah pada proses yang terjadi baik dalam perusahaan (back office) maupun yang langsung berhubungan langsung dengan pelanggan (front office). Dengan memfokuskan diri pada penciptaan proses bisnis yang efisien, efektif dan terkontrol dengan baik, sebuah perusahaan akan memiliki kinerja yang andal.

Tidak heran di era tahun 1980 – an sampai dengan awal tahun 1990 – an terlihat banyak sekali perusahaan yang melakukan Business Process Reengineering (BPR), restrukturisasi, implementasi ISO – 9000, implementasi TQM, instalasi dan pemakaian sistem informasi korporat (SAP, Oracle, BAAN) dan sebagainya. Pendayagunaan teknologi informasi terlihat sangat mendominasi setiap program manajemen perubahan perusahaan.

Era Globalisasi Informasi
Fenomena yang terlihat sejak tahun 1980 – an, perkembangan di bidang teknologi informasi (komputer dan telekomunikasi) demikian pesat. Keberadaannya telah menghilangkan batas – batas antar negara dalam hal flow of information. Tidak ada Negara yang mampu membatasi aliran informasi dari atau keluar negara lain karena batasan antar negara tidak dikenal di dunia maya.

Penerapan teknologi seperti LAN, WAN, GlobalNet, Intranet, internet dan ekstranet semakin hari semakin merata dan membudaya di masyarakat. Perusahaan – perusahaan pun tidak lagi terikat pada batasan fisik . Melalui dunia maya, seseorang dapat mencari pelanggan di seluruh dunia yang terhubung dengan jaringan internet.
[read more..]

Contoh Penulisan Daftar Pustaka Skripsi

0 komentar

Daftar Pustaka
Althusser, Louis, 1984,Tentang Ideologi-Marxisme Strukturalis, Psikoanalisis, Cultural Studies, terjemahan essays on ideology, Jogyakarta:Jalasutra.
Arneson, Pat (ed),2007, Perspectives on Philosopy of Communication,Indiana:Purdue University Press
Ball-Rkeach, SandraJ. and Melvin L DeFleur, 1982, Theories of Mass Communication, Newyork: Logman
Bennett, Tony, 1982, Theories of The Media, Theories of Society dalam Michael Gurevitch etall (ed). Culture, Society and the Media, New York: Methuen.
Chandler, Daniel. Marxist Media Theory. http://www.aber.ac.uk/~dgc/marxism.html.
Corotty, Michael, 1998, The Foundation of Social Research. St Leonard: Allen &Unwin
Curan, James., 1982, Communications, power and social orders dalam Michael Gurevitch etall (ed). Culture, Society and the Media, New York: Methuen.
Dellinger, Brett. 1995. Critical Discourse Analysis. Finnish View of CNN Television News. WWW.
Fairclough, Norman, 1998, Critical Discourse Analysis. The Critical Study of Language. London: Logman.
Fiske, John.1992. Introduction to Communications Stydy. 2nd edition. London: Routledge
Fowler, Roger, 1996, Language In The News. Discourse and Ideology in The News. London: Routledge.
Giddens, Anthony, 1986, Central Problems in Social Theory. Actions, Structure and Contradictions Analysis. Bekerly and Los Angeles: University California Press.
Golding, Peter and Graham Murdock. 1997. Ideology and The Mass Media: The Question of Determination. Dalam Pete Golding and Garham Murdock, The Political Economy of Media. Volume I, Cheltenham, UK. Broolfield, US: The International Library of Studi and culture.
Hall, Struart, 1995, The rediscovery of ‘ideology’: return of the repressed in media studies dalam Oliver Boyd-Barrett & Chris Newbold, Newyork:Foundation in Media.
Hall, Struat, 1986, Recent Developments in theories of language and ideology: Critical note dalam Struat Hall etall (ed). Culture, Media,Language. London: Hutchinhon & Co.
Hall, Stuart, 1982, The rediscovery of ‘ideology’: return of repressed in media studies dalam Michael Gurevitch etall (ed). Cultur, Society and the Media, New York: Methuen
Hawkes, David, 1996. Ideology. The New Critical Idiom. London: Routletge.
Heck, Marina Camargo. 1986. The Ideological dimension of Media Message dalam Struat Hall, etall (ed). Culture,Media,Language. London: Hutchinhon & Co
Heiner, Robert, 2006, Social Problems – An introduction to Critical Constructionisme,NewYork: Oxford university
Littlejohn, Stephen and Karen Foss,2008, Theories of Human Communication, ninth edition,United State: Thomson-wodswort
O’Shaughnessy and Jane Stadler,2005, Media and Society-an introduction, second edition, Newyork: Oxford University.
Sunarto,2007, Kekerasan Televisi terhadap manita.-Studi Strukturasi Gender Inudtri Televisi dalam naturalisasi Gender Industri Televisi terhadap wanita melalui Program televise untuk anak-anak Indonesia, Disertai UI
Suparno, Paul, 1997,Filsafat Kontruktivisme dalam Pendidikan,Jogyakarta: Kanisius
Takwin, Bagus, 2003, Akar-Akar Ideologi – Pengantar Kajian Konsep Ideologi dari Plato hingga Bourdieu, Yogyakarta: Jalasutra.
[read more..]

Konsep Ideologi

0 komentar

Konsep Ideologi : Dalam pengertian umum ideologi sering dihubungkan dengan suku kata isme yang melekat pada akhir suatu suku kata, seperti komunisme, liberalisme, otoritarianisme yang berarti menunjukan subyek ideologi dari suku kata depannya. Secara etimologis ideologi berasal dari dua suku kata yaitu idea dan logos, yang berarti aturan atau hukum tentang idea (Takwin,2003:8). Tentang idea, secara philosofis dikemukakan oleh Plato dan Aristoteles. Plato memisahkan dunia idea yang ada dalam jiwa dengan dunia fisik atau badan. Kebenaran sejati adanya di dunia idea. Kebaikan di dunia fisik merupakan tiruan dari kebaikan di dunia idea, sehingga benda tiruan bersifat maya dan fana sedangkan dunia idea sifatnya abadi dan kekal. Jika ingin mengetahui suatu kebenaran dilakukan proses anamnesis atau proses pengingat kembali pengetahuan mengenai kebenaran yang sudah ada dalam jiwa. Menurut pengertian Plato, ideologi merupakan kebenaran sejati sebagai ideologi dalam pengertian positif (Takwin, 2003,10).

Aristetoles ( Takwin,2003:11,14) memiliki paham berbeda dengan Plato tentang hubungan dunia idea dan fisik yang terpisah, bagi Aristoteles badan jiwa tidak dalam kondisi yang terpisahkan, keduanya menyatu sebagai sebuah substansi yang mewakili badan dan jiwa. Hubungan keduanya disebut dengan hylemorphisme, yang mempunyai makna bahwa segala sesuatu dalam alam semesta terdiri dari materi (hyle) dan bentuk (morphe) sehingga manusia sebagai bagian dari alam semesta terdiri dari badan sebagai materi jiwa merupakan bentuk atau forma. Jiwa yang menurut konsep Plato merupakan sumber kebenaran sejati atau dunia idea, oleh Ariestotles disebut idea yaitu merupakan representasi mental yang ada dalam benak manusia dan dibentuk dari kenyataan melalui panca indra. Jadi menurut Aristoteles, pengetahuan diperoleh dari alam semensta melalui proses indrawi yang kemudian diolah menjadi idea. Kebenaran yang menjadi sebuah ide kualitasnya ditentukan oleh proses indrawi yang disebut proses logika. Pengetahuan yang diperoleh dari proses logika yang salah akan menghasikan idea yang salah. Dalam pandangan Ariestoteles Ideologi dipandang sebagai hasil dari proses pengolahan informasi yang ditangkap oleh indera manusia bisa negatif dan bisa positif.
Pemikir lain Sigmund Freud (Takwin, 2003:14) yang membagi proses psikis manusia terdiri dari wilayah kesadaran dan ketidaksadaran dimana kepribadian dan tingkahlaku manusia lebih banyak dipengaruhi oleh wilayah ketidaksadaran daripada wilayah kesadaran. Dalam pandangan Freud tersebut, manusia sering melakukan tindakan yang tidak rasional, tidak didasari motif dasarnya dan lebih bersifat instingkif. Dengan demikian manusia memiliki ideologi individual yang sering melakukan tindakan-tindakan yang irasional. Ideologi mengandung pengetahuan-pengetahuan yang irasional mengarahkan manusia melakukan tindakan-tidakan yang tidak rasional.

Menurut pemikiran Marxis (Chandler,www ) bahwa kesadaran ditentukan oleh kehidupan manusia. Ideologi merupakan faktor fungsi dari kelas masyarakat, sehingga ideologi dominan ditentukan oleh kelas masyarakat dominan. Ideologi sengaja dibuat oleh kekuasaan dominan sebagian sebuah kesadaran palsu untuk mempengaruhi kelompok yang akan dikuasainya (kaum proletar). Dalam konsep Marx, mereka yang dominan adalah golongan kapitalis. Kesadaran palsu, dibentuk dari hasil proses pengalaman yang memberikan input negatif sehingga hasilnya negatif. Dalam pandangan Freud (Takwin,2003) kesadaran palsu tersebut sebagai produk dari wilayah ketidaksadaran dari psikis manusia. Dalam konsep ini kesadaran palsu yang diamksud Marx tersebut, berupa kesadaran palsu yang ditanamkan oleh kaum borjuasi terhadap kaum proletar. Iklim yang diciptakan menjadi input pengalaman sebagai bagian dari proses perumusan ideologi, yang tentunya negatif, karena kaum proletar tidak akan pernah mengalaminya

George Lukacs (Takwin,2003:16) melihat ideologi sebagai keasadaran kelas yang diperjuangkan. Bagi Lukacs Ideologi merupakan sekumpulan pengetahuan yang dipercayai oleh suatu kelas sosial, sehingga setiap kesadaran kelas menjadi ideologis. Dengan demikian kesadaran dalam konsep Lukas merupakan kesadaran yang aktif, yang juga dipahami oleh Antonio Gramcy. Bagi Gramcy, penguasaan Negara terhadap rakyat tidak selalu dengan pemaksaan tetapi juga bisa melalui tindakan persuasif,dengan proses penguasaan kesadaran sehingga sasaran tidak sadar bahwa dirinya dikuasai. Penguasaan ini disebut hegemoni sebagai bentuk ideologi yang posisinya semakin meluas dan dominan, sehingga cakupan hegemoni lebih luas tidak terbatas pada satu kelas.

Dalam pandangan struktuaralisme, pemikiran manusia merupakan produk dari struktur . Althusser (Takwin,2003:15) yang termasuk dalam kelompok strukturalis menjelaskan bahwa sejak lahir manusia sudah dipengaruhi oleh struktur, mulai dari struktur keluarga, lingkungan, masyarakat dan keluarga. Pikiran manusia dengan demikian secara tidak disadari dipengaruhi oleh berbagai struktur yang dialami sejak awal hidupnya, dan bukan semata atas dasar realitas yang objektif. Pemahaman mengenai realitas telah terdistorsi oleh struktur yang dialaminya, sebagai “kesadaran palsu”, Dengan demikian Ideologi secara tidak sadar telah terbentuk dalam setiap diri manusia. Dalam pandangan Althusser, maka kedasadaran palsu yang dimiliki oleh kaum buruh tadi diperjuangkan untuk dikembalikan, dari sisi pandangan Althusser, apa saja yang dimiliki oleh kaum buruh merupakan bagian dari proses pengalamannya Jadi yang penting ialah bagaimana memberdayakan ideologi yang dimilikinya untuk mengembangkan diri manusia.

Berbeda dengan Marxis, Althusser (Chandler,www ) berpedapat bahwa Ideologi merupakan medium dimana kita mengalami berbagai realitas yang ada di dunia. Althuser menekankan pada anti pengurangan (reducionism) dan mematerialkan ideologi. Artinya ia menolak pengertian ideology sebagai kesadaran palsu dan mengangggap ideologi sebagai sebuah realitas. Hal ini didasarkan pada proses terbentuknya ideologi yang berlangsung sepanjang proses pengalaman. Ideologi merupakan sebuah representasi imajiner antara individu dengan proses pengalaman yang melahirkan individu tersebut (Althusser,1984:39) .)Setiap orang, setiap organisasi atau lembaga memiliki ideologi, yang direperesntasikan dari sepanjang proses yang melairkan individu, lembaga atau organisasi tersebut.

Volosinov (Chandler,www, Takwin,2003:103) memiliki pandangan yang menggabung keduanya, ideologi bukan dilahirkan dari proses pengalaman dan bukan juga ditentukan oleh kelas dominan masyarakat. Sebagaimana Marxis, ideologi dibentuk namun merupakan hasil pertukaran (share) diantara anggota kelompok. Hasil perbincangan di bidang ekonomi. Sistem penandaan yang melahirkan ruang persebaran ideologi yang diproduksi dari kesadaran agen sosial . Pemikir dari Rusia tersebut, memasuki konsep Ideologi dalam ranah bahasa dimana ideologi merupakan internalisasi kata-kata yang termuat dalam bahasa. Kesadaran hanya dapat muncul dalam wadah material yaitu bahasa yang tidak hanya cerminan dari realitas tapi menjadi satu dengan realitas yang ditandainya. Dalam kaitan ini dengan logika semiotik Marx, ideologi sebagai kumpulan penanda yang digunakan oleh kelas dominan untuk memenangkan kepentingannya. Pemikiran volosinov kemudian diteruskan oleh pemikir lainnya antara lain Roland Barthes sebagai pemikir Post Strukturalis yang mengkritisi pemikiran Suassure, tentang Langue (paradigma, pondasi, forma) diatas parole (ujaran, tulisan), serta setiap individu merupakan produk dari struktur. Kekakuan ini dikritik oleh Roaland Bartes, dengan menunjukan bahwa memusatkan pada struktur mengangap parole atau individu bersifat pasif tergantung pada struktur yang dalam kenyataannya tidak demikian tetapi dinamis. Apabila makna yang terbentuk dari denotative ke konotatif kemudian menetap dan meluas maka oleh Barthes disebut mitos. Dengan demikian mitos berkembang menjadi ideologi setelah tersebar secara konvensi dari satu wilayah dan pemaknaanya melampaui daya individual.
[read more..]

LAPORAN PELAKSANAAN TUGAS

0 komentar

LAPORAN PELAKSANAAN TUGAS
Nomor : /BLSDM-5/KOMINFO/4/2010
Kepada Yth.
:
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Kominfo
Dari
:
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Profesi Kominfo
Perihal
:
Laporan Pelaksanaan Tugas Pelatihan Chief Information Officer (CIO) di Padang, Sumatera Barat
Tanggal
:
6 April 2010
A. Dasar Pelaksanaan :
Surat Penugasan dari Kepala Pusat Pengembangan Profesi Kominfo Nomor: 05/BLSDM-5/KOMINFO/3/2010 perihal Pelatihan Chief Information Officer (CIO) di Padang, Sumatera Barat tanggal 09 Maret 2010.
B. Lokasi :
Ruang Pangeran II, Hotel Pangeran City, Jl.Dobi No. 3 – 5 Padang,Sumatera Barat.
Telepon : (62-751) 31233; Fax : (62-751) 27180
Website : www.pangerancity.com
C. Waktu Pelaksanaan :
Dilaksanakan selama 4 (empat) hari terhitung mulai tanggal 17 s.d. 20 Maret 2010.
D. Peserta :
Bimbingan tekhnis pengembangan SDM Program Chief Information Officer (CIO) ini diikuti oleh 30 (tiga puluh) orang peserta pejabat yang bertugas membidangi Komunikasi dan Informatika dari SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Riau, Provinsi Kepulauan Riau dan Provinsi Jambi, dengan rincian:
1) 7 Kota di Sumatera Barat
2) 1 Kota di Riau
3) 1 Kota di Jambi
4) 9 Kabupaten di Sumatera Barat
5) 7 Kabupaten di Riau
6) 5 Kabupaten di Jambi
E. Tujuan Kegiatan
Kegiatan pelatihan Chief Information Officer (CIO) secara garis besar bertujuan untuk menyongsong Implemantasi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan Undang – Undang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) serta untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang penerapan tatakelola TIK yang selaras dengan birokrasi pemerintahan untuk mendukung proses transformasi serta untuk mendorong terjadinya pertukaran informasi, pengetahuan, dan pengalaman dalam usaha-usaha pengembangan e-Goverment berdasarkan praktek-praktek terbaik untuk meningkatkan tingkat keberhasilannya.
F. Laporan Kegiatan
Kegiatan pelatihan Chief Information Officer (CIO) di Padang, Sumatra Barat dimulai pada pukul 15.00 WIB diawali dengan Laporan Panitia Penyelenggara oleh Ka. Bid. Perencanaan dan Kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Profesi Kominfo, Bapak Edi Suryadi, SE melaporkan tentang tujuan diselenggarakannya kegiatan tersebut, selanjutnya Sambutan Kepala Badan Litbang SDM KemKominfo yang diwakili oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Profesi Kominfo, Bapak Dr. Udi Rusadi, MS yang dalam sambutannya menjelaskan bahwa SDM di lembaga pemerintahan ke depan akan mengembangkan kompetensi CIO sehingga pemanfaatan TIK lebih efektif lagi. Acara pelatihan Chief Information Officer (CIO) di Padang, Sumatra Barat secara resmi dibuka oleh Setda Provinsi Sumatera Barat, Bapak Firdaus K, SE, M.Si, yang dalam sambutannya mengharapkan dengan pelaksanaan pelatihan Chief Information Officer (CIO) di daerah khususnya di Provinsi Sumatera Barat sehingga akan dapat meningkatkan kerjasama pemerintah daerah dengan perguruan tinggi dalam rangka pengembangan Chief Information Officer (CIO) khususnya di daerah serta untuk dapat meningkatkan kemampuan aparat pemerintah provinsi dalam menguasai TI.
Kegiatan Pelatihan Chief Information Officer (CIO) ini dilaksanakan dalam bentuk penyajian materi dan diskusi / tanya jawab. Bertindak selaku penyaji materi adalah sebagai berikut :
1. Yudho Giri Sucahyo, Ph.D, cisa, CEP, pembicara dari APCICT-UNESCAP, yang memberikan materi mengenai “TIK untuk Pembangunan dan Kebijakan dan Manajemen TIK” dalam uraiannya mengemukakan pentingnya kaitan antara penerapan TIK dan Pembangunan yang bermakna serta Kebijakan Proses, dan tata kelola TIK untuk pembangunan.
2. Yova Ruldeviyani, M.Kom, pembicara dari Universitas Indonesia (UI), yang memberikan materi “e-Goverment” dalam uraiannya mempresentasikan mengenai “e-Goverment “ secara umum yang dapat didefinisikan sebagai penggunaan tekhnologi digital untuk mentransformasi kegiatan-kegiatan pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan penyampaian layanan.
3. Dana Indra, Ph.D, pembicara dari Universitas Indonesia (UI), yang memberikan materi mengenai “Perencanaan TIK” dalam uraiannya mengemukakan tentang perencanaan strategis TIK yang memerlukan keselarasan TIK dengan tujuan pemerintah untuk mendapatkan keungulan dalam pelayanan sehingga dapat menciptakan efektivitas pembiayaan sehingga tercapai pengembangan sumber daya yang sesuai. Adapun peran CIO dalam pemerintahan yaitu berfungsi sebagai Pricipal advisor terhadap pimpinan / deputi Departemen dalam hal pengelolaan IT.
4. Setiadi Yazid, Ph.D, pembicara dari Universitas Indonesia (UI), yang memberikan materi mengenai “Keamanan TIK” dalam uraiannya mengemukakan beberapa yang dapat dipahami yaitu, konsep informasi dan keamanan informasi serta memahami domain keamanan informasi, dan memahami trend terkini seperti metode-metode yang ada untuk menghadapi ancaman.
Setelah diberikan pembekalan materi, pada hari terakhir peserta mengisi angket Evaluasi Pelatihan CIO yang kemudian diserahkan ke panitia penyelenggara. Kemudian peserta pelatihan CIO ditugaskan untuk membuat proposal program/kegiatan pelayanan publik yang memanfaatkan TIK di daerah masing-masing. Sebagai contoh, topik yang dapat dipilih antara lain mengenai:
1. Perencanaan layanan untuk tertib administrasi pemerintahan dan kependudukan;
2. Perencanaan layanan untuk peningkatan kualitas layanan kesehatan dan layanan publik lain, serta;
3. Topik lain yang memungkinkan untuk diaplikasikan pada tempat kerja masing-masing.
Tugas diharapkan dapat diselesaikan dalam waktu dua minggu, untuk kemudian diperiksa oleh tim penilai dari UI. Dan selanjutnya akan dipilih dua penulis penugasan terbaik untuk disertakan pada acara implementasi UN-APCICT di Denpasar, Bali pada bulan September 2010
G. Hasil yang dicapai
  1. Secara umum, kegiatan bimbingan teknis berjalan dengan lancar sesuai dengan harapan. Peserta sangat antusias dengan kegiatan dan materi yang disampaikan oleh para narasumber mengenai CIO dan strategi pemanfaatan TIK, terlihat dari perhatian yang dicurahkan;
  2. Telah tersedia mailing list bagi para peserta CIO yaitu, AlumniCIO_Kominfo@yahoogroups.com dan akademiTIK@yahoogroups.com untuk mewadahi tindak lanjut kegiatan pembinaan CIO dan komunikasi di antara para peserta sebagai perwakilan dari daerah masing-masing;
  3. Proposal yang dibuat peserta diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan cerminan mengenai ide, kondisi dan potensi masing-masing daerah dalam memanfaatkan dan mengelola TIK sekaligus melaksanakan e-government.
Demikian laporan kegiatan ini dibuat. Atas perhatian dan arahan bapak, kami ucapkan terima kasih.
[read more..]
 
SEO Stats powered by MyPagerank.Net
My Ping in TotalPing.com