Showing posts with label Kebidanan. Show all posts
Showing posts with label Kebidanan. Show all posts

Thursday, April 10, 2014

PERKEMBANGAN ANAK

0 komentar
PERKEMBANGAN ANAK
Dalam Psikologi Perkembangan, periode perkembangan anak terdiri dari 3 tahap, yaitu : 
  • Pranatal (0 – 9 bulan dalam kandungan) 
  • Bayi Neonatal (0 – 2 minggu) 
  • Pascanatal (2 minggu – 2 tahun) 
  • Anak Awal (2 – 6 tahun) 
  • Tengah (6 – 12 tahun)
  • Akhir (12 – 15 tahun)
Periode Pranatal
Perkembangan janin dalam kandungan dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya: 
Situasi orangtua (emosional, spiritual, afeksi) 

Kondisi orangtua, terutama ibu, sangat berpengaruh terhadap perkembangan janin. Ketika ibu merasa stress maka terdapat suatu zat kimia tubuh yang turut masuk dalam peredaran darah janin. Apabila berlebihan, maka janin akan menjadi individu yang kurang tahan terhadap stress. Emosi yang tenang dapat memberikan efek yang positif terhadap perkembangan janin. Kondisi spiritualitas dan afeksi orangtua juga dapat mempengaruhi kondisi anak. Orangtua yang memiliki spriritualitas dan afeksi yang baik, akan meningkatkan kedekatan terhadap janin. Hal ini akan berpengaruh terhadap pembentukan kepercayaan bayi ketika lahir. 
Lingkungan Sekitar 

Dukungan dari orang-orang terdekat dapat mempengaruhi rasa aman pada janin. Kondisi yang tidak aman dapat dirasakan oleh janin, dan menimbulkan pengaruh yang kurang baik pada masa-masa perkembangan selanjutnya. 

Keadaan Sosial Ekonomi 
Kondisi sosial ekonomi dari keluarga, dapat menentukan perlakuan dan asupan gizi bagi janin. Janin yang memperoleh asupan gizi yang baik, cenderung akan memiliki kualitas kelahiran yang lebih baik pula.

Bahaya Psikologis : 
Kepercayaan tradisional 

Kepercayaan mengenai hal yang baik dan buruk selama mengandung,kadang kurang tepat. Kepercayaan tradisional tersebut biasanya belum dapat dibuktikan. Namun, orangtua seharusnya mampu memilih kepercayaan tradisional yang baik bagi perkembangan janinnya. 
Tekanan yang dialami ibu 

Tekanan yang dialami ibu selama mengandung dapat mempengaruhi keadaan emosi anak setelah dilahirkan. 
Sikap terhadap kelahiran anak 

Sikap orangtua dan lingkungan sekitar dapat diketahui oleh janin melalui pesan yang disampaikan oleh sel saraf ibu. Sikap positif akan memberikan rasa aman pada diri janin. Sedangkan sikap menolak dapat memberikan pengaruh negatif terhadap emosi anak nantinya.

Periode BAYI Neonatal
Bahaya Psikologis : 
Ketidak berdayaan bayi 
Bayi masih sangat tergantung dengan orang lain. Pada tahap awal kehidupan, bayi mulai mengenali lingkungannya. Ia akan mengembangkan rasa percaya terhadap orang-orang di sekitarnya, apabila seluruh kebituhannya dapat terpenuhi. 
Individualitas bayi 

Bayi masih sangat terfokus dengan dirinya sendiri. Ia berusaha meminta sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya, namun hal ini harus dipenuhi secepatnya. Seluruh dunia hanya terfokus pada dirinya saja. 
Keterlambatan perkembangan 

Pada beberapa kasus, sering terjadi keterlambatan perkembangan. Hal ini dikarenakan perkembangan setiap orang selalu berbeda. Keterlambatan perkembangan dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Namun, untuk mengoptimalkan perkembangan harus dilakukan stimulasi sesering mungkin agar anak dapat menyusul keterlambatannya. 

Terhentinya perkembangan 
Pada anak-anak tertentu, perkembangan salah satu aspek dapat terhenti. Anak-anak ini akan mengalami hambatan perkembangan dan memerlukan bantuan professional untuk membantu perkembangannya. 

Kurangnya rangsangan 
Kurangnya rangsangan dapat mengakibatkan keterlambatan perkembangan. Hal ini dapat menyebabkan kurangnya kemampuan anak dan terdapat tahap-tahap yang terlewati dari keseluruhan proses perkembangannya.

Pemberian nama 
Pemberian nama sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak di kemudian hari. Ketika anak telah dapat bersosialisasi ia akan mulai bertanya dan memahami arti dari pemberian namanya. Nama yang baik dapat menimbulkan rasa bangga pada diri anak, sedangkan nama yang dianggap tidak sesuai akan mengakibatkan rendahnya kepercayaan diri anak di masa yang akan datang.

Periode BAYI Pascanatal

Bahaya Psikologis : 
Perkembangan motorik 
Pada masa ini, resiko bahaya fisik semakin besar. Anak pada masa ini anak mulai belajar dasar-dasar motorik. Mereka senang menjelajah dan mencoba hal-hal baru. Hal ini merupakan proses penambahan pengetahuan. Dengan mengumpulkan berbagai hal baru, tentu terdapat berbagai resiko dari penjelajahan ini. Anak dapat terluka secara fisik, sehingga menimbulkan trauma tertentu. Hambatan dari orang sekitar juga dapat menghambat proses pengumpulan informasi anak, serta dapat menghambat perkembangannya, terutama perkembangan motorik. 

Bahasa Penggunaan bahasa dari orang-orang sekitar akan diserap secara cepat oleh anak-anak. Walaupun belum dapat berbicara, pada masa ini anak sedang mengumpulkan berbagai informasi, yang kemudian akan menjadi dasar pola bahasa anak. 

Emosi (terlalu banyak / kurang kasih sayang) 
Anak-anak pada periode ini biasanya mendapat perhatian yang sangat besar dari orang-orang sekitarnya. Perhatian yang terlalu berlebihan juga tidak baik bagi perkembangan anak. Pada periode ini, anak cenderung berusaha mencoba berbagai hal sendiri. Hal ini membentuk dasar kemandirian anak. Di mulai dari hal-hal yang sederhana, dapat membentuk anak menjadi lebih mandiri. 

Periode ANAK Awal
Lima tahun pertama merupakan masa yang sangat penting karena merupakan dasar pembentukan kepribadian anak.

Bahaya Psikologi : 
Emosi 
Pada periode ini,anak mulai belajar untuk membedakan berbagai bentuk emosi. Emosi senang digambarkan melalui tertawa, sedih dengan menangis, dan sebagainya. Kesesuaian emosi dengan ekspresi yang ditunjukkan sangatlah penting. Selain itu, orangtua juga perlu mengenali emosi anak, untuk memahami kondisi emosional anak. 

Moral 
Perkembangan moral mulai semakin baik. Anak melakukan sesuatu karena melihat orang lain juga melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, pengaruh lingkungan sekitar perlu diwaspadai karena daoat mempengaruhi penanaman nilai pada masa anak-anak awal. 

Kepribadian 
Pada periode ini mulai terbentuk dasar kepribadian. Dengan penanaman nilai yang diberikan, anak mulai memiliki dasar sifat yang dimunculkan dalam bentuk tingkah laku. Kepribadian yang ditanamkan akan terus berpengaruh sampai dewasa.Oleh karena itu, perlu diperhatikan pembentukan dasar kepribadian ini agar anak benar-benar mendapatkan dasar yang tepat bagi perkembangan kepribadiannya. 

Sosial 
Perkembangan sosial mulai dilatih pada tahap ini. Anak biasanya mulai dimasukkan dalam pre school untuk melatih proses sosialisasinya. Hubungan dengan teman sebaya dan guru dapat memberikan berbagai pengaruh, baik positif maupun negatif. 

Perkembangan konsep 
Berbagai konsep baru mulai dipelajari anak. Pada tahap ini mereka menerima konsep dari lingkungan tanpa disaring terlebih dahulu. Oleh karena itu, orangtua perlu memperhatikan konsep-konsep yang diterima anak selama periode ini.

Periode ANAK Akhir
Ciri-ciri : 
Minat terhadap aktivitas kelompok 
Peka terhadap keadaan dirinya 
Pemikiran lebih kritis 
Minat semakin luas 
Pencarian identitas diri 
Perhatian besar terhadap diri sendiri 
Fanatik terhadap nilai tertentu 

Kesulitan yang timbul apabila kebutuhan remaja tidak terpenuhi adalah: 
Munculnya tindakan agresi, seperti menyerang, merusak, melanggar aturan, dan sebagainya. 
Melakukan isolasi diri atau kelompok sebagai bentuk dari protes. 
Mengidentifikasi diri dengan tokoh yang tidak pantas dijadikan panutan. 
Menunjukkan oto-afirmasi yang berlebihan agar dinilai sebagai individu yang kuat atau telah dewasa. 
Melarikan diri secara ekstrem, dengan pergi dari rumah. 

TIPS UNTUK MENENANGKAN LEDAKAN EMOSI ANAK
v Memeluk dan memberi kata-kata penyejuk / tidak ikut marah
v Mengalihkan perhatian anak pada hal-hal di sekitarnya dengan kata-kata lembut
v Memberikan kesempatan pada anak untuk menyendiri dan menenangkan dirinya

YANG HARUS DIHINDARI
v Ikut terpancing emosi / marah
v Menyalahkan anak
v Membandingkan dengan anak lain
v Membentak dan menyuruhnya diam
v Mengancam anak
[read more..]

Tuesday, March 26, 2013

Pengertian Surrogete Variabels

0 komentar
Surrogete Variabels
            Surrogete Variabels adalah suatu bagian dari variabel asli yang dipilih untuk digunakan di dalam analisis selanjutnya. Pemilihan Surrogete Variabels meliputi sebagian dari beberapa variabel asli untuk dipergunakan di dalam analisis lanjutan dan menginterpretasikan hasilnya dinyatakan dalam variabel asli bukan dalam skor faktor.
Dengan meneliti matriks faktor, kita bisa memilih untuk setiap faktor variabel dengan muatan tinggi pada faktor yang bersangkutan. Variabel tersebut kemudian bisa dipergunakan sebagai variabel pengganti atau surrogate variable untuk faktor yang bersangkutan. Proses untuk mencari variabel pengganti akan berjalan lancar kalau muatan faktor (factor loading) untuk suatu variabel jelas jelas lebih tinggi daripada muatan faktor lainnya. Akan tetapi pilihan menjadi susah, kalau ada dua variabel atau lebih mempunyai muatan yang sama tingginya. Di dalam hall seperti ini, pemilihan antara variabel-variabel ini harus didasarkan pada pertimbangan teori dan pengukuran sebagai contoh, mungkin teori menyarankan bahwa suatu variabel dengan muatan sedikit lebih kecil mungkin lebih penting daripada dengan sedikit lebih tinggi.
Demikian juga halnya, kalau suatu variabel mempunyai muatan sedikit lebih rendah akan tetapi telah diukur lebih teliti/akurat, seharusnya dipilih sebagai surrogate variabel.

Definisi
Analisis berarti kategori, penataan dan peringkasan data untuk memperoleh jawaban bagi pertanyaan peneltiian. Kegunaan ialah mereduksi data menjadi jawaban bagi pertanyaan penelitian. Kagunaan analisis ialah mereduksi data menjadi perwujudan yang dapat dipahami dan ditafsir dengan cara tertentu hingga relasi masalah penelitian dapat ditelaah serta diuji (Vincent, 1991).
Analisis factor nama umum yang menunjukkan suatu prosedur, utamanya dieprgunakan untuk mereduksi data atau meringkas dari variable yang banyak diubah menjadi sedikit variabel, misalnya dari 15 variabel yang lama diubah menjadi 4 atau 5 variabel baru yang disebut faktor dan masih memuat sebagian besar informasi yang terkandung dalam variabel asli (Supranto, 2004).
Tujuan yang penting dari analisis faktor adalah menyederhanakan hubungan yang beragam dan kompleks pada beberapa variabel yang diamati dengan menyatukan faktor atau dimensi yang saling berhubungan pada suatu struktur data yang baru yang mempunyai beberapa faktor yang lebih kecil.
Penggunaan metode analisis faktor dapat diklasifikasikan menjadi :
1. Penyelidikan untuk penemuan (Exploratory).
Analisis faktor digunakan untuk menyelidiki dan mendeteksi suatu pola dari variabel- variabel yang ada, dengan tujuan untuk menemukan suatu konsep baru dan kemungkinan pengurangan data dari data dasar.
2. Penegasan suatu hipotesa (Confirmatory uses).
Analisis faktor digunakan untuk mengadakan pengujian suatu hipotesisi mengenai struktur dan variabel-variabel baru yang berkaitan dengan jumlah faktor yang signifikan dan faktor loading yang diharapkan.
3. Alat pengukur (Measuring devices).
Analisis faktor digunakan untuk membentuk variabel-variabel untuk digunakan sebagi variabel baru pada analisis berikutnya (Wibisono, 2003).

Model Analisis Faktor dan Statistik yang Relevan
Secara matematis, analisis faktor agak mirip dengan regresi linier berganda yaitu bahwa setiap variabel dinyatakan sebagai suatu kombinasi linier dari faktor yang mendasari. Dimana analisis regresi linier berganda dapat mengetahui besarnya pengaruh dari setiap variabel bebas terhadap variabel tak bebas serta meramalkan nilai variabel yang tak bebas tersebut.
Jumlah varian yang disumbangkan oleh suatu variabel dengan variabel lainnya yang tercakup dalam analisis disebut communality. Hubungan antara variabel yang diuraikan dinyatakan dalam suatu common factors yang sedikit jumlahnya ditambah dengan faktor yang unik untuk setiap variabel. Faktor yang unik tidak berkcrelasi dengan sesama faktor yang unik dan juga tidak berkorelasi dengan common factor. Common factor sendiri bisa dinyatakan sebagai kombinasi linier dari variabel-variabel yang terlihat/terobservasi hasil penelitian lapangan.

Model Matematik dalam Analisis Faktor
Didalam model analisis faktor, kompenen hipotesis diturunkan dari hubungan antara variabel teramati. Model analisis faktor mensyaratkan bahwa hubungan antara variabel teramati harus linier dan nilai koefisien korelasi tak boleh nol, artinya benar­benar harus ada hubungan. Komponen hipotesis yang diturunkan harus memiliki sifat sebagai berikut :
1.   Komponen hipotesis tersebut diberi nama faktor.
Tidak ada faktor yang menjadi kombinasi linier dari faktor lain sebab faktor­faktor tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga bebas satu sama lain.
2.  Variabel komponen hipotesis yang disebut faktor bisa dikelompokkan menjadi dua yaitu : common factors and unique factors. Common factor mempunyai lebih dari satu variabel dengan timbangan yang bukan nol nilainya. Suatu faktor unik hanya mempunyai satu variabel dengan timbangan yang tidak nol terkait dengan faktor. Jadi hanya satu variabel yang tergantung pada satu faktor unik.
3. Common factor selalu dianggap tidak berkorelasi dengan faktor unik.                  Faktor unik biasanya juga dianggap saling tidak berkorelasi, akan tetapi common faktor mungkin atau tidak mungkin berkorelasi satu sama lainnya.
4. Umumnya dianggap bahwa jumlah common factor lebih sedikit dari jumlah variabel asli. Akan tetapi banyaknya faktor unik biasanya dianggap sama dengan banyaknya variabel asli (Supranto, 2004).

Mekanisme Analisis Faktor
            Langkah-langkah yang diperlukan didalam analisis faktor bisa dilihat pada gambar di bawah ini :


1. Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah meliputi beberapa hal
a.       Tujuan analisis factor harus diidentifikasi
b.      Variabel yang akan dipergunakan didalam analisis factor dispesifikasi berdasarkan penelitian sebelumnya, teori dan pertimbangan dari peneliti
c.       Pengakuran variable berdasarkan skala interval dan rasio
d.      Banyaknya elemen sampel (n) harus cukup/memadai, sebagai petunjuk kasar, kalau k banyaknya jenis variabel maka n = 4 atau 5 kali k. Artinya kalau variabel 5, banyaknya responden minimal 20 atau 25 orang sampel acak (Supranto, 2004).

2. Bentuk Matriks Korelasi
Matriks korelasi merupakan matriks yang memuat koefisien korelasi dari semua pasangan variabel dalam penelitian. Jadi, matriks ini digunakan untuk mendapatkan nilai kedekatan hubungan antar variabel. Nilai kedekatan ini dapat digunakan untuk melakukan beberapa pengujian untuk melihat kesesuain dengan nilai korelasi yang diperoleh dari analisis faktor.
Analisis faktor yang baik memiliki nilai korelasi tinggi (rata-rata lebih besar dari 1 0.3 1 ). Dalam hal ini, determinan matriks yang mendekati nol menunjukkan nilai korelasi tinggi. Selanjutnya perlu diuji apakah matriks korelasi ini merupakan matriks identitas atau bukan karena matriks identitas tidak dapat digunakan untuk analisis berikut. metode yang biasa dilakukan adalah metode Barlett Test of Spherecity. Kemudian perlu ditentukan niali koefisien korelasi parsial, yaitu estimasi antar faktor unik yang nilainya harus mendekati nol untuk memenuhi asumsi analisis faktor. Untuk menguji kesesuaian pemakaian analisis faktor, digunakan metode. Kaiser-Meyer-Olkin (KMO). KMO adalah indek pembanding besarnya koefisien korelasi observasi dengan besarnya koefisien korelasi parsial. Jika nilai kuadrat koefisien korelasi parsial dari semua pasangan variabel lebih kecil dari pada jumlah kuadrat korelasi parsial, maka harga KMO akan mendekati satu, yang menunjukkan kesesuain penggunaan analisis faktor. Menurut Kaiser (1974):

a.       Harga KMO sebesar 0,9 adalah sangat memuaskan.
b.      Harga KMO sebesar 0,8 adalah memuaskan.
c.       Harga KMO sebesar 0,7 adalah harga menengah.
d.      Harga KMO sebesar 0,6 adalah cukup.
e.       Harga KMO sebesar O,Sadalah kurang memuaskan.
f.       Harga KMO sebesar 0,4 tidak dapat diterima.
Untuk menentukan apakah proses pengambilan sampel telah memadai atau tidak, digunakan pengukuran Measure of Sampling Adequacy (MSA). Nilai MSA yang rendah merupakan pertimbangan untuk membuang variabel tersebut pada tahap analisis selanjutnya. Sering kali karena jumlah data yang banyak perhitungan KMO dan MSA hanya dimungkinkan dengan bantuan komputer (Wibisono, 2003). ­
Angka MSA berkisar 0-1 menunjukkan apakah sampel bisa dianalisis lebih lanjut (Wibowo, 2006):
  • MSA = l, variabel tersebut dapat diprediksi tanpa kesalahan oleh variabel lain.
  • MSA > 0,5 variabel masih dapat diprediksi dan dapat dianaiisis tebih Ianjut.
  • MSA < 0,5 variahel tidak dapat diprediksi dan tidak dapat dianalisis lebih lanjut.
3. Menentukan Metode Analisis Faktor
Setelah ditetapkan bahwa analisis faktor merupakan teknik yang tepat untuk menganalisis data yang sudalz dikumpulkan, kemudian ditentukan atau dipilih metode yang tepat untuk analisis faktor. Ada dua cara atau metode yang bisa dipergunakan dalazn analisis faktor, khususnya untuk menghitung koefisien skor faktor, yaitu analisis komponen ularna (Principal Component Analysis) dan analisis faktor umum (Common F'aclor Analysis).
Principal Component Analysis merupakan teknik reduksi data yang bertujuan untuk membentuk suatu kombinasi linier dari variabel awal dengan memperhitungkan sebanyak mungkin jumlah variabel awal tersebut.
Common Factor Analysis merupakan medel faktor yang digunakan untuk mengidentifikasikan sejumlah dimensi dalam faktor yang tidak mudah untuk dikenali. Tujuan utamanya adalah mengidentifikasikan dimensi laten yang direpresentasikan dalam himpunan variabel asal (Wibisono, 2003).

4. Rotasi Faktor-faktor
Suatu hasil atau output yang penting dari analisis faktor ialah apa yang disebut matriks faktor pola. Matriks faktor berisi kcefisien yang dipergunakan untuk mengekspresikan variabel yang dibakukan dinyatakan dalam faktor. Koefisien­koefisien ini yang disebut muatan faktor, mewakili korelasi antar-faktor dan variabel. Suatu koefisien dengan nilai absolut/mutlak yang besar menunjukkan bahwa faktor dan variabel berkorelasi sangat kuat. Koefisien dari matriks faktor bisa dipergunakan untuk menginterpretasikan faktor.
Meskipun matriks faktor awal yang belum dirotasi menunjukkan hubungan antar faktor masing-masing variabel, jarang menghasilkan faktor yang bisa diinterpretasikan (diambil kesimpulannya), oleh karena faktor-faktor tersebut berkorelasi atau terkait dengan banyak variabel (lebih dari satu).
Didalam melakukan rotasi faktor, kita menginginkan agar setiap faktor efmpunyai muatan atau koefisien yang tidak nol atau yang signifikan untuk beberapa variabel saja. Demikian halnya kita juga menginginkan agar setiap variabel mempunyai muatan yang tidak nol atau signifikan dengan beberapa faktor saja, kalau mungkin dengan satu faktor saja. Kalau terjadi bahwa beberapa faktor mempunyai muatan tinggi dengan variabel yang sama, sangat sulit untuk membuat interpretasi tentang faktor tersebut. Akan tetapi persentase varian sebagai sumbangan setiap faktor terhadap seluruh varian mengalami perubahan.

5. Interpretasi Faktor
Interpretasi dipermudah dengan mengindentifikasi variabel yang muatannya besar pada faktor yang sama. Faktor tersebut kemudian bisa diinterpretasikan, dinyatakan dalam variabel yang mempunyai muatan tinggi padanya. Manfaat lainnya di dalam membantu untuk membuat interpretasi ialah menge-plot variabel, dengan menggunakan factor loading sebagai sumbu koordinat (sumbu F1 dan F2).
Variabel pada ujung atau akhir suatu sumbu ialah variabel yang mempunyai high loading hanya pada faktor tertentu (faktor F1 atau F2) oleh karena itu bisa menyimpulkan bahwa faktor tersebut terdiri dari variabel-variabel tersebut. Sedangkan variabel yang dekat dengan titik asal (perpotongan sumbu F1 dan F2) mempunyai muatan rendah (low loading) pada kedua faktor.
Variabel yang tidak dekat dengan sumbu salah satu faktor berarti berkorelasi dengan kedua faktor tersebut. Kalau suatu faktor tidak bisa diberi label sebagai faktor tidak terdefenisikan atau faktor umum. Variabe-variabel yang berkorelasi kuat (nilai factor loading yang besar) dengan faktor tertentu akan memberikan inspirasi nama faktor yang bersangkutan.

6. Menghitung Skor atau Nilai Faktor
Nilai faktor adalah ukuran yang mengatakan representasi suatu variabel oleh masing-masing faktor. Nilai faktor menunjukkan bahwa suatu data memiliki karakteristik khusus yang direpresentasikan oleh faktor. Nilai faktor ini selanjutnya digunakan untuk analisis lanjutan.
Nilai faktor menunjukkan kedekatan hubungan antara variabel dan faktornya. Faktor dengan nilai faktor tinggi untuk suatu variabel menunjukkan tingginya hubungan faktor itu dengan variabelnya.
Sebenarnya analisis faktor tidak harus dilanjutkan dengan menghitung skor atau nilai faktor, sebab tanpa menghitung pun hasii analisis faktor sudah bermanfaat yaitu mereduksi variabel yang banyak menjadi variabel baru yang lebih sedikit dari variabel aslinya.
Masing-masing faktor dapat dieksprsikan dengan persamaan sebagai berikut :
F1 = W11X1+W12X2+W13X3+ …… + WikXk
Dimana :
            F1 adalah faktor
            Wi adalah bobot variabel terhadap faktor
            k adalah jumlah variabel
            X adalah variabel
            Semakin besar bobot (Wi) suatu variabel terhadap faktor, maka pengaruh variabel terhadap faktor tersebut semakin erat, yang berarti perubahan variabel memberikan kontribusi yang semakin besar pada nilai faktor. Hal ini berlaku untuk keadaan sebaliknya (Rangkuti, 2002).

Proses Analisis Faktor
            Secara garis besar tahapan pada analisis faktor adalah sebagai berikut :

  1. Memilih variable yang layak dimasukkan dalam analisis faktor.oleh karena analisis faktor berupaya mengelompokkan sejumlah variable, maka seharunsya ada korelasi yang cukup kuat diantara variable, sehingga akan terjadi pengelompokan. Jika seuah variable atau lebih berkorelasi lemah dengan variable lainnya, maka variable tersebut akan dikeluarkan dari analisis faktor. Alat seperti MSA atau Bratlett’s Test dapat digunakan untuk keperluan ini.
  2. Setelah sejumlah variable terpilih, maka dilakukan “ekstraksi” variable tersebut hingga menjadi satu atau beberapa faktor.
  3. Faktor yang terbentuk, pada banyak kasus kurang menggambarkan perbedaan diantara faktor-faktor yang ada. Hal tersebut akan mengganggu analisis, karena justru sebuah faktor harus berbeda secara nyata dengan faktor lain.
  4. Jika isi faktor diragukan dapat dilakukan proses rotasi untuk memperjelas apakah faktor yang terbentuk sudah secara signifikan  berbeda dengan faktor lain.
  5. Setelah faktor benar-benar sudah terbentuk, maka proses dilanjutkan dengan menamakan faktor yang ada. Kemudian mengartikan hasil penemuan (artinya faktor-faktor tersebut mewakili variable yang mana saja). 
[read more..]

Manfaat Pemberian ASI

0 komentar

Manfaat Pemberian ASI
Manfaat Pemberian ASI Bagi Bayi
            Banyaknya manfaat pemberian ASI yang dapat dirasakan. Adapun manfaat terpenting yang diperoleh bayi dalam pemberian ASI adalah sebagai berikut (DinKes Propinsi Sumut, 2005).
1.      Merupakan makanan alamiah yang sempurna dan terbaik untuk bayi, karena mempunyai komposisi yang sesuai dengan kebutuhan bayi.
2.      Mengandung zat gizi utama berkualitas tinggi sesuai kebutuhan bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan yang sempurna, mudah dicerna serta dimanfaatkan tubuh bayi secara efesien untuk pertumbuhan optimum.
3.      Mengandung DHA dan AA (Asam Amino) yang bermanfaat untuk kecerdasan bayi.
4.      Mengandung zat kekebalan untuk mencegah bayi dari berbagai penyakit infeksi (diare, batuk, pilek, radang tenggorokan dan gangguan pernafasan).
5.      ASI menyumbang sekitar sepertiga dari kebutuhan protein dan energi bayi.
6.      Tersedianya air yang cukup, ASI merupakan cairan dinamik yang berubah sesuai dengan kebutuhan bayi.
7.      Melindungi bayi dari alergi karena tidak mengandung  Î² laktoglobin
8.      Mengurangi terjadinya caries dentis
9.      Aman dan terjamin kebersihannya, karena langsung disusukan kepada bayi dalam keadaan segar
10.  Membantu memperbaiki refleks menghisap, menelan dan pernafasan bayi
11.  Tidak akan pernah basi, mempunyai suhu yang tepat sehingga dapat diberikan kapan saja dan dimana saja.
12.  Membina hubungan yang hangat antara ibu dan bayi
13.  Tidak memberatkan fungsi saluran pencernaan dan ginjal

Manfaat Pemberian ASI Bagi Ibu
            Selain memberi manfaat pada bayi, menyusui jelas memberikan manfaat pada ibu seperti (Roesli, 2000).
1.      Mengurangi pendarahan setelah melahirkan Karena pada ibu menyusui terjadi peningkatan kadar oksotosin yang berguna juga untuk kontriksi/penutupan pembuluh darah sehingga pendarahan akan lebih cepat berhenti, hal ini akan menurunkan angka kematian ibu yang melahirkan.
2.      Mengurangi terjadinya anemia karena menyusui mengurangi terjadinya pendarahan sehingga dapat mengurangi kemungkinan terjadinya anemia karena kekurangan zat besi.
3.      Menjarangkan kehamilan karena menyusui merupakan cara yang aman, murah dan cukup berhasil. Selama ibu memberikan ASI eksklusif dan belum haid 98% tidak akan hamil pada 6 bulan pertama setelah melahirkan dan 96% tidak  akan hamil sampai bayi berusia 12 bulan
4.      Mengecilkan rahim karena kadar oksitosin ibu menyusui yang meningkat akan sangat membantu rahim kembali keukuran sebelum hamil. Proses pengecilan ini akan lebih cepat dibandingkan pada ibu yang tidak menyusui.
5.      Lebih cepat langsing karena menyusui memerlukan energi maka tubuh akan mengambil dari lemak yang tertimbun selama hamil. Dengan demikian berat badan ibu yang menyusui akan lebih cepat kembali ke berat badan sebelum hamil.
6.      Mengurangi risiko kanker payudara dan kanker indung telur. Pada ibu yang memberikan ASI eksklusif umumnya kemungkinan menderita kanker payudara dan indung telur berkurang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa menyusui mengurangi terjadinya kanker payudara sebesar 25%. Risiko terkena kanker indung telur pada ibu yang menyusui berkurang sampai 20-25%.
7.      Tidak merepotkan danhemat waktu Karena ASI dapat segera diberikan pada bayi tanpa harus mencuci botol dan tanpa menunggu agar susu tidak terlalu panas. Pemberian susu botol akan lebih merepotkan terutama pada malam hari, apalagi kalau persediaan susu habis pada malam hari maka harus repot mencarinya.
8.      Portabel dan praktis karena mudah membawa berbagai alat untuk minum susu formula dan tidak perlu membawa alat listrik untuk memasak atau menghilangkan susu. ASI dapat diberikan dimana saja dan kapan saja dalam keadaan siap dimakan/minum, serta suhu yang selalu tepat.
9.      Memberikan kepuasan bagi ibu. Ibu yang berhasil memberikan ASI eksklusif akan merasakan kepuasan, kebanggaan dan kebahagiaan yang mendalam.

Manfaat Pemberian ASI Bagi Keluarga
            Manfaat ASI bagi keluarga dapat meningkatkan kesehatan keluarga, mencegah terjadinya kurang gizi maupun risiko kegemukan, diare, dan penyakit infeksi. Lebih ekonomis/murah karena dengan memberikan ASI beratu menghemat pengeluaran untuk susu formula, perlengkapan menysuui, dan persipan pembuatan minum susu formula. Selain itu pemberian ASI juga menghemat pengeluaran untuk berobat bayi. Misalnya biaya jasa dokter, biaya pembelian obat-obatan, bahkan mungkin biaya perawatan di rumah sakit (Dinkes Prop. Sumut,2005)

Akibat Bila Bayi Tidak Diberi ASI
Akibat Pada Bayi Bila Tidak Diberi ASI
a.       Bayi tidak memperoleh zat kekebalan tubuh, sehingga mudah sakit.
b.      Bayi tidak dapat makanan yang bergizi dan berkualitas tinggi sehingga akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi.
c.       Hubungan kasih sayang bayi dan ibu tidak terjalin secara dini.

Akibat Pada Ibu Bila Bayi Tidak Diberi ASI
  1. Perdarahan setelah persalinan menjadi lebih lama
  2. Cepat terjadinya kehamilan  kembali
  3. Beresiko terkena kanker payudara dan kanker rahim
  4. Waktu ibu banyak tersita karena harus menyiapkan susu botol dan merawat bayi yang sering sakit.
  5. Pengeluaran keluarga bertambah

Akibat Bila ASI Diganti Susu Formula
  1. Botol susu dan lebih sulit dibersihkan dan mudah tercemar oleh bakteri ataupun kuman penyakit, sehingga bayi dapat menderita sakit perut, muntah, batuk dan lain-lain.
  2. Susu formula tidak mengandung zat kekebalan, karena itu bayi sering menderita sakit terutama diare.
  3. Bayi yang diberi susu formula besar kemungkinan menderita alergi.

Faktor-Faktor   Yang  Mempengaruhi   Ibu   Dalam  Pemberian   ASI   Non
       Eksklusif Pada bayi Usia Kurang Dari 6 Bulan
  1. Pendidikan Ibu
Pendidikan adalah proses menuju keperubahan perilaku masyarakat dan akan memberi kesempatan pada individu untuk menemukan ide/nilai baru. Pendidikan memperngaruhi sikap dan tingkah laku manusia.
Pendidikan berkaitan dengan transmisi, pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan dan kelakukan yang lain, (Notoatmodjo, 2003).
  1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan tidak terjadi setelah orang melakukan penginderaan tetapi suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang cover behaion (Natoatmodjo. 2003).
Berdasarkan penelitian Amiruddin dan Rostia (2006) dapat dilihat bahwa ibu kurang memiliki pengetahuan cukup tentang ASI eksklusif ada 39,5% dan ibu yang tidak memiliki pengetahuan kurang mengenai ASI eksklusif ada 60,5%. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif kurang baik.
  1. Status Kerja Ibu
Ibu yang bekerja cenderung memiliki waktu yang sedikit untuk menyusui bayinya akibat kesibukan bekerja. Sedangkan ibu yang tidak bekerja (Ibu Rumah Tangga) mempunyai waktu yang cukup untuk menyusui.
Berdasarkan peenelitian Mariani (2005) diperoleh bahwa sebagian besar (63,3%) ibu yang bekerja memiliki waktu yang sedikit untuk memberikan ASI eksklusif dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja (36,7)
  1. Pendapatan Keluarga 
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Purnamawati (2003) diketahui bahwa ibu dengan social ekonomi rendah memiliki peluang 4,6 kali untuk memberikan ASI disbanding ibu dengan social ekonomi tinggi. Semakin tinggi status social ekonomi makin rendah rata-rata pemberian ASI eksklusif.
Menurut Adiningsih (2003) bertambahnya pendapatan keluarga atau status social ekonomi yang tinggi serta lapangan pekerjaan bagi wanita berhubungan dengan cepatnya pemberian susu botol. Artinya mengurangi kemungkinan untuk menyusui bayi dalam waktu yang lama.  

  1. Riwayat Persalinan
Menurut Lubis (2002) ibu yang melahirkan dengan seksio sasaria tidak dapat segera menyusui bayinya karena masih lemah dan belum sadar. Bila telah sadar, petugas kesehatan dapat membantu mencari posisi menyusui yang tepat untuk mengurangi rasa nyeri yang diderita oleh ibu.
  1. Makanan Ibu
Makanan yang dimakan seorang ibu yang sedang dalam masa menyusui tidak secara langsung mempengaruhi mutu ataupun jumlah air susu yang dihasilkan. Dalam tubuh terdapat cadangan berbagai zat gizi yang dapat digunakan bila sewaktu-waktu diperlukan. Akan tetapi jika makanan ibu terus menerus tidak mengandung zat gizi yang diperlukan tentu pada akhirnya kelenjar-kelenjar pembuat air susu dalam buah dada ibu tidak akan dapat bekerja dengan sempurna, dan akhirnya akan berpengaruh terhadap produksi ASI.
Unsur gizi 1 liter ASI setara dengan unsur gizi yang terdapat dalam 2 piring nasi ditambah 1 butir telur. Jadi diperlukan kalori yang setara dengan jumlah kalori yang diberikan 1 piring nasi untuk membuat 1 liter ASI. Agar ibu menghasilkan 1 liter ASI diperlukan makanan tambahan disamping untuk keperluan dirinya sendiri, yaitu setara dengan 3 piring nasi dan 1 butir telur.
Apabila ibu yang sdang menyusui bayinya tidak dapat tambahan makanan bagi seorang ibu yang sedang meyusui anaknya mutlak diperlukan. Dan walaupun tidak jelas pengaruh jumlah air minum dalam jumlah yang cukup. Dianjurkan disamping bahan makanan sumber protein seperti ikan, telur, dan kacang-kacangan, baha sumber vitamin juga diperlukan untuk menjamin kadar berbagai vitamin dalam ASI.
  1. Keadaan Payudara
Menurut Lubis (2002) bahwa keadaan payudara ibu mempunyai peran yang menentukan keberhasilan menyusui, kelainan putting susu lecet, putting tenggelam, bengkak, atau putting terlalu besar dapat mengganggu proses menyusui.
  1. Dukungan Suami
Hubungan yang harmonis akan mempengaruhi lancarnya proses laktasi. Dukungan suami terhadap pemberian ASI menjadi faktor kunci kesadaaran sang ibu untuk memberi gizi terbaik bagi bayinya. Keberhasilan ibu menyusui bayinya tidak terlepas dari dukungan yang terus-menerus dari suami, sehingga dukungan suami terhadap ibu untuk menyusui harus ditingkatkan, mengingat minimnya dukungan suami dan keluarga membuat ibu sering kali tidak semangat memberikan ASI kepada bayinya (Media Indonesia, 2008).
  1. Penggunaan alat kontrasepsi yang mengandung estrogen dan progestron.
Bagi ibu yang dalam masa menyusui tidak dianjurkan menggunakan kontrasepsi pil yang mengandung hormom estrogen, Karena hal ini dapat mengurangi jumlah produksi ASI bahkan dapat menghentikan produksi ASI secara keseluruhan oleh karena itu alat kontrasepsi yang paling tepat digunakan adalah kontrasepsi dalamrahim (AKDR) yaitu IUD atau spiral. Karena AKDR dapat merangsang uterus ibu sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan kadar hormone oxitoksin yang dapat merangsang produksi ASI.

  1. Pandangan Masyarakat
Tingkat kesadaran masyarakat untuk memberikan ASI kepada bayinya masih sangat memprihatinkan. Ada padangan sebagian masyarakat bahwa menyusui dapat merusak bentuk payudara sehingga mengganggu keindahan tubuh dan ada juga yang beranggapan bahwa menyusui merupakan perilaku yang kuno dengan memberikan susu botol kepada anak sebagai salah satu symbol bagi kehidupan tingkat social yang lebih tinggi, terdidik dan mengikut perkembangan zaman (Lubis, 2002).
Ada anggapan adalah lmbang keterbelakangan budaya memeberi susu botol dianggap sebagai lambang budaya modern dan sebaliknya menyusui dianggap sebagai lambang keterbelakangan sesunggunya adalah salah. Dewasa ini dinegara maju seperti Eropa dan Amerika justru dilakukan gerakan “Kembali ke air susu ibu”atau “Back to brest freding”.
  1. Petugas kesehatan
Berhasil atau tidaknya penyusuan dini di tempat pelayanan ibu bersalin, rumah sakit sangat tergantung pada petugas kesehatan yaitu perawat, bidan dan dokter. Merekalah yang pertama akan membantu ibu bersalin melakukan penyusunan dini. Petugas kesehatan harus memahami tatalaksana laktasi yang baik danbenar, dapat memahami, menghayati dan mau melaksanakanya. Walau sedikit waktu yang dipunyai oleh petugas kesehatan diharapkan masih dapat meluangkan waktu untuk memotivasi dan membantu itu habis untuk menyusui dini (Lubis, 2002).
  1. Penyuluhan
Penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya penyusuan bayi dapat dilakukan pada kelompok ibu di pedesaan serta kelompok di perkotaan. Pada kelompok iu di pedesaan dapat disarankan bagaimana cara meningkatkan mutu ASI serta kapan mulai diberi makanan tambahan (Lubis, 2002).
  1. Tempat Persalinan
Faktor hambatan utama pemberian ASI seringkali berasal dari kalangan medis sendiri, seperti tempat persalinan baik unit persalinan milik pemerintah maupun swasta belum menerapkan system rawat gabung antara ibu dan bayi sehingga tempat persalinan memebrikan pengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayi karena merupakan itik awal bagi ibu untuk memilih apakah tetap memberikan bayinya ASI eksklusif atau memberikan susu formula yang diberikan oleh petugas kesehatan maupun nonkesehatan sebelum ASi nya keluar (Amiruddin dan Rostia, 2006).
  1. Promosi susu formula dan Makanan Tambahan        
Iklim yang menyesatkan yang mempromosikan produk susu, perusahaan promosi yang menyatakan produk susu suatu pabrik baik dengan ASI sering dapat mengguyangkan keyakinan ibu, sehingga tertarik untuk menelaah menggunakan susu instant itu sebagai makanan bayi.
Pemasaran yang agresif dari produsen susu pengganti ASI dapat terlihat dalam iklan-iklan di media massa dan penyediaan susu bayi di rumah sakit dan klinik (Anomin, 2008).
Berdasarkan penelitian Iswana (2003) dapat dilihat bahwa ibu yang memperoleh promosi susu formula > 3 kali mencapai 69,1% hal ini disebabkan ibu selain memperoleh promosi dari intusi pelayanan waktu melahirkan, juga memperoleh promosi dari sales saat pelaksanaan posyandu ataupun menjumpai iklan susu formula di media.
15. Ketentraman Jiwa dan Pikiran
Pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. Ibu yang selalu dalam keadaan gelisah, kurang percaya diri, rasa tertekan dan berbagai bentuk ketegangan emosional, mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya.
Pada ibu ada 2 macam, reflek yang menentukan keberhasilan dalam menyusui bayinya, reflek tersebut adalah:
     -      Reflek Prolaktin
Reflek ini secara hormonal untuk memproduksi ASI. Waktu bayi menghisap payudara ibu, terjadi rangsangan neorohormonal pada putting susu dan aerola ibu. Rangsangan ini diteruskan ke hypophyse melalui nervus vagus, terus kelobus anterior. Dari lobus ini akan mengeluarkan hormon protaktin, masuk ke peredaran darah dan sampai pada kelenjar - kelenjar pembuat ASI. Ketenjar ini akan terangsang untuk menghasilkan ASI.
      -     Let-down Refleks (Refleks Milk Ejection)
Refleks ini membuat memancarkan ASI keluar. Bila bayi didekatkan pada payudara ibu, maka bayi akan memutar kepalanya kearah payudara ibu. Refleks memutarnya kepala bayi ke payudara ibu disebut :"rooting reflex (reflex menoleh). Bayi secara otomatis menghisap putting susu ibu dengan bantuan lidahnya. Let-down reflex mudah sekali terganggu, misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi, tekanan jiwa dan gangguan pikiran. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. Bayi tidak cukup mendapat ASI dan akan menangis. Tangisan bayi ini justru membuat ibu lebih gelisah dan semakin mengganggu let down reflex.

[read more..]

Komposisi ASI

0 komentar

Komposisi ASI
            Kandungan colostrums berbeda dengan air susu yang mature, karena colostrums dan hanya sekitar 1% dalam air susu mature, lebih banyak mengandung imunoglobin A (Iga), laktoterin dan sel-sel darah putih, terhadap yang  kesemuanya sangat penting untuk pertahanan tubuh bayi, terhadap serangan penyakit (infeksi) lebih sedikit mengandung lemak dan laktosa, lebih banyak mengandung vitamin dan lebih banyak mengandung mineral-mineral natrium (Na) dan seng (Zn).
            Kolostrum berfungsi juga untuk membantu pengeluaran kotoran bayi yang pertama yang berwarna hitam kehijauan (mekonium) (Depkes RI,2003). Berdasarkan sumber dari Food and Nutrition Boart, National research Council Washington tahun 1980 diperoleh perkiraan komposisi kolostrum ASI dan susu sapi untuk setiap 100 m seperti tertera pada tabel berikut:
Tabel 1
Komposisi Kolostrum, ASI dan susu sapi untuk setiap 100 ml
Zat-zat Gizi
Kolostrum
ASI
Susu Sapi
Energi (K Cal)
Protein (g)
-          Kesein/whey
-          Kesein (mg)
-          Laktamil bumil (mg)
-          Laktoferin (mg)
-          Ig A (mg)
Laktosa (g)
Lemak (g)

Vitamin
-          Vit A (mg)
-          Vit B1 (mg)
-          Vit B2 (mg)
-          Asam Nikotinmik (mg)
-          Vit B6 (mg)
-          Asam pantotenik
-          Biotin
-          Asa, folat
-          Vit B12
-          Vit C
-          Vit D (g)
-          Vit Z
-          Vit K (mg)

Mineral
-          Kalsium (mg)
-          Klorin (mg)
-          Tembaga (mg)
-          Zat besi (ferrum) (mg)
-          Magnesium (mg)
-          Fosfor (mg)
-          Potassium (mg)
-          Sodium (mg)
-          Sulfur (mg)
58
2,3

140
218
330
364
5,3
2,9


151
1,9
30
75
-
183
0,06
0,05
0,05
5,9
-
1,5
-


39
85
40
70
4
14
74
48
22
70
0,9
11, 1,5
187
161
167
142
7,3
4,2


75
14
40
160
12-15
246
0,6
0,1
0,1
5
0,04
0,5
1,5


35
40
40
100
4
15
57
15
14
65
3,4
1 : 1,2
-
-
-
-
4,8
3,9


41
43
145
82
64
340
2,8
13
0,6
1,1
0,02
0,07
6


130
108
14
70
12
120
145
58
30
            Sekitar setengah dari energi yang terkandung dalam ASI berasal dari lemak, yang lebih mudah dicerna dan diserap oleh bayi dibandingkan dengan lemak susu sapi, sebab ASI mengandung lebih banyak enzim pemecah lemak (lipase). Kandungan total lemak sangat bervariasi dari satu ibu ke ibu lainnya, dari satu fase lakatasi air susu yang pertama kali keluar hanya mengandung sekitar 1-2% lemak dan terlihat encer. Air susu yang encer  akan membantu memuaskan rasa haus bayi waktu mulai menyusui. Air susu berikutnya disebut “hand milk” mengandung sedikitnya tiga sampai empat kali lebih banyak lemak. Ini akan memberikan sebagian besar energi yang dibutuhkan oleh bayi, sehingga penting diperhatikan agar bayi, banyak memperoleh air susu ini.
            Laktosa (gula susu) merupakan satu-satunya karbohidrat yang terdapat dalam air susu murni, jumlahnya dalam ASI tak terlalu bervariasi dan terdapat lebih banyak dibandingkan dengan susu sapi. Disamping fungsinya sebagai sumber energi, juga di dalam usus asam laktat tersebut membantu mencegah pertumbuhan bakteri yang tidak dinginkan dan juga membantuk mencegah pertumbuhan bakteri yang tidak diinginkan dan juga membantu penyerapan kalsium serta mineral-mineral lain.
            ASI mengandung lebih sedikit kalsium daripada susu sapi tetapi lebh mudah diserap, jumlah ini akan mencakupi kebutuhan untuk bahan-bahan pertama kehidupannya ASI juga mengandung lebih sedikit natrium, kalium, fosfordan chlor dibandingkan dengan susu sapi, tetapi dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan bayi.
            Apabila makanan yang dikonsumsi ibu memadai, semua vitamin yang diperlukan bayi selama empat sampai enam bulan pertama kehidupannya capat diperoleh dari ASI. Hanya sedikit terdapat vitamin D dalam lemak susu. Tetapi penyakit polio jarang terjadi pada anak yang diberi ASI, bila kulitnya sering terkena sinar matahari, vitamin D yang terlarut dalam air telah ditemukan terdapat dalam susu, meskipun fungsi vitamin ini merupakan tambahan terhadap vitamin D yang terlarut lemah (Depkes RI, 2007).
[read more..]
 
SEO Stats powered by MyPagerank.Net
My Ping in TotalPing.com