Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Monday, December 9, 2013

Cerita Pendek Cika Si Tukang Gosip

0 komentar
CIKA SI TUKANG GOSIP : Melati adalah anak baru dikelasku, ia baik, cerdas namun agak misterius. Kalau ditanya soal keluarganya, ia pasti menghindar. Teman – temanku penasaran, kalau aq sih tidak terlalu suka mengurusi orang lain dan ini yang membuat Melati menjadi akrab denganku
Aku berasal dari keluarga yang retak. Papa dan Mamaku bercerai dan hidup terpisah. Tapi aku tak peduli kalau ada yang tau retaknya keluargaku, ya biar saja tak ada yang kututup – tutupi. Suatu hari Cika membuat keheboan di kelasku, anak biang gosip itu berbicara tentang Melati. Katkini ia sudah tau mengapa Melati tak mau bercerita tentang keluarganya, ternyata adik Melati kurang waras
“betul deh! Kemarin sore aku melihat Melati ke Rumah Sakit. Ia, adik dan mamanya sedang masuk ke ruangan Dokter jiwa” tutur Cika. Teman – teman lain langsung menghampiri.
 “ oo…pantas ia tak mau kita main kerumahnya
“ Pasti ia takut kalau ada orang yang tau ia keturunan gila”
Cuma aq yang tak mau ikut campur, tak lama kulihat Melati dating, teman – temanku pada komentar
“Awas jangan dekat – dekat nanti kamu ketularan gila”. Tadinya Melati tidak peduli, namun komentar – komentar itu seperti mengeroyok dirinya. Melati akhirnya menangis, lalu pergi dari Sekolah.
            “Melati, tunggu…!” teriaknya, berusaha mengejarnya. Namun Melati sudah keburu naik taksi. Aku hanya bias terdiam. Esoknya, Melati tidak masuk Sekolah. Teman-teman heboh, lalu empat hari berturut-turut Melati tidak masuk.
            “Nah lo ! kalau Melati ngadu ke Kepala Sekolah, kamu bias dikeluarkan, Cik !” teman-teman mulai menakut-takuti Cika, Cika ketakuatan. Apalagi setelah genap seminggu Melati tidak masuk “Cyn, tolonglah aku. Aku benar-benar merasa bersalah. Tolong beri tahu dimana rumah Melati. Atau nomor teleponnya. Aku mau minta maaf….”, rengek Cika suatu hari.
“Aku tidak tahu.”
“Cyn, Melati kan denganmu. Masuk kamu tidak tahu,”.
“Aku ini tidak usil seperti kamu. Melati itu tidak suka di tanya-tanya soal pribadinya. Jadi ya, aku tidak pernah Tanya. Itu namanya menjaga privary orang. Jelas “, omelku seperti Ibu.     Cika akhirnya pulang dengan putus asa. Esoknya aku betul-betul terkejut. Kulihat situkang gossip sedang meminta nasihat Bu Wali Kelas. Tampak Bu Wali menasihati Cika. Kemudian menyodorkan sepucuk kertas kecil. Kulihat mata Cika langsung berbinar-binar senang. Lalu dengan tergesa ia menghampiriku.
            “Sudah kudapat alamatnya dari Bu Guru. Temani aku kerumahnya, Cyn !” mintanya.
            Aku tak mungkin menolaknya. Pertama, aku ingin menolong Cika Kedua, aku memang sudah kangen pada Melati, Siang itu juga sepulang sekolah, kami kerumah Melati. Rumahnya bagus dan mewah Sayang kata pembantunya, Melati sedang keluar bersama mamanya kami pun menungu diteras.
Tak lama, terdengar bunyi kleakson mobil. Pembantu Melati bergegas membukakan pintu gerbang. Mobil berbelok masuk ke halaman rumah. Melati pun keluar dari Mobil, ia amat terkejut melihat Cika dan Aku.  
“ Untuk apa kau kemari, Cik ! kau belum puas menghinaku ?”
“maafkan aku Melati. Aku merasa bersalah sekali, “bisik Cika pasrah Melati tidak menanggapinya, Ia menoleh padaku, dan suaranya berubah ramah, “Dari mana kau tahu alamatku, Cyn ?”
“Bukan aku. Tapi Cika yang menanyakan alamatmu pada Bu Guru, Melati kaget sesaat. Kemudian ia berusaha bersikap tenang. “Cyn, sebetulnya aku sudah berkali-kali menelepon kerumahmu, tapi tidak ada yang mengangkat. Prenah sekali diangkat, suara si penerimanya kurang jelas, seperti orang bisu. Jangan-jangan salah sambung ?”, cerita Melati.
“Oh, itu pasti adikku. Dia memang bisu, maafkan dia kalau tidak bias menerima teleponmu dengan baik, “sahutku ringan.
“Oh, maaf, aku jadi nyesal.
“Itu sudah biasa kok buat adikku. Makanya aku suka kasihan sama dia.”
Melati terdiam lam. Kemudian tanyanya terbata-bata
“Kamu tidak malu punya adik begitu ?”
“Sama sekali tidak. Ia sudah banyak menderita karena kurang sempurna. Sudah seharusnya aku menyayanginya, “jawabku.
“Cyn, kenapa aku tidak bias bersikap seperti kamu. Aku sering menyesal karena punya adik yang tidak sempurna, “kata Melati lalu tiba tiba ia berbicara keras kepa Cika.
“Tapi Cika, adikku bukan gila seperti yang kamu kira, IQ-nya sedikit dibawah normal karena panas tinggi yang sering dideritanya.”
Wajah Cika beranjak marah. “Maafkan aku ,Melati”
Kayaknya Melati sudah terbiasa menerima permintaan maaf Cika tak lam, kami bertiga sudah ngobrol dengan seru.
“Melati, kenapa seminggu ini kamu menghilang ?”, tanyaku
“Aku mau cari sekolah baru. Tapi disana ternyata tidak ada Tukang Gosip seperti Cika.
Ya…..terpaksa deh dibatalkan, canda Melati
“Uuh…. Awas ya Kamu !” Lisa pura-pura marah.
Tiba-tiba terdengar suara mama Melati yang mengundang kami makan. Wah, perut kami langsung berbunyi. Tanda harus seera di isi.
            Cepat-cepat kami beranjak ke ruang makan. Untuk makan siang. Setelah siap makan siang, mereka menyadari bahwa kedua adiknya memerlukan uluran tangan dan kasih saying dari mereka sampai akhirnya, Cika, Cyn dan Melati pun berdamai dan kemudian bersahabat.
[read more..]

Monday, October 7, 2013

Cerita Rakyat Dalam Bahasa Inggris Sangkuriang

0 komentar
Cerita Sangkuriang  Dalam Bahasa Inggris 
In antiquity, there was the story of a daughter of the king in West Java, named Dayang Sumbi. He has a son named Sangkuriang. The child was very fond of hunting. He was accompanied by Tumang hunting, dog palace. Sangkuriang do not know, that dog is the incarnation of the god and father. 

One day Tumang not want to follow his orders to pursue prey. So the dog is expelled into the woods. When he returned to the palace, Sangkuriang recounted the incident to her mother. Dayang Sumbi not playing angry when he heard that story. He accidentally hit his head Sangkuriang rice with a spoon in her hand. Sangkuriang injured. He was very disappointed and went wandering. After the incident, Dayang Sumbi very sorry for himself. He was always very diligent in prayer and penance. At one time, the gods gave him a gift. He will be forever young and everlasting beauty. 

After years of wandering, Sangkuriang eventually intends to return to his homeland. Arriving there, the kingdom has changed completely. There he met a lovely girl, who was none other Sumbi Dayang. Fascinated by the beauty of the woman then, Sangkuriang proposed. Therefore it is very handsome youth, Dayang Sumbi was very fascinated him. One day Sangkuriang asked permission to hunt. He ask Sumbi Dayang to straighten the headband. Dayang Sumbi was surprised when he saw the scars on the head of her future husband. The cut was exactly like a wound that has left her son to leave. After a long noticed, it turns out the young man's face is very similar to her son's face. He became very frightened. 

So then he sought to thwart the efforts that the process of making a proposal. He filed two terms. First, he asked the young man to stem the Citarum river. And second, he asked Sangkuriang to make a big boat to get across that river. The second requirement that must be met before dawn. That night Sangkuriang do penance. With his power he exert magical creatures to help finish the job. 

Dayang Sumbi secretly peek at the job. Once the work was almost complete, Dayang Sumbi ordered his troops to roll out a red silk cloth in the east of the city. When watching the color red in the east of the city, Sangkuriang thought it was late morning. He also stopped work. He was very angry because it meant he could not fulfill the requirements demanded Dayang Sumbi. With his strength, he made the dam break. There followed a great flood swept across the city. He then kicked the big boat he made. The canoe floated and crashed into a mountain named "Tangkuban Boat."


Gambar Sangkuring
[read more..]

CERITA RAKYAT DALAM BAHASA INGGRIS MALIN KUNDANG

0 komentar
Cerita Malin Kudnang Dalam Bahasa Inggris 
At one time, there lived a family of fishermen in the coastal area of ​​Sumatra. The family consists of father, mother and a son named Malin Kundang. Because the family's financial situation is alarming, the father decided to make a living in the country by wading across the wide ocean. So Malin and his mother lived in their huts. A week, two weeks, a month, two months even a year over the length, Malin's father also did not return to his hometown. So that his mother had to replace Malin's father to make a living. Malin including a smart kid but a bit naughty. He often chasing chickens and hit him with a broom. 

One day, when Malin was chasing chickens, she tripped over a rock and injured his right arm hit by stones. The wound became etched dilengannya and can not be lost. After growing up, Malin Kundang feel sorry for her mother who worked hard for a living to raise themselves. He thought to make a living in the country side in hopes of later on when returning home, she was already a wealthy man. Malin interested in the invitation of a merchant ship captain who was once poor now become a wealthy man. 

Malin Kundang expressed intention to her mother. His mother was originally less agrees with the intent Malin Kundang, but due to hold urgent Malin, Malin Kundang mother finally agreed though with a heavy heart. After preparing the supplies and equipment to taste, Malin head over to the dock with escorted by her mother.

 "My son, if you have succeeded and become affluent, do not you forget about your mother and halamannu this village, son," said Ms. Malin Kundang while in tears. Malin ridden ships that increasingly distant, accompanied by Ms. Malin Kundang wave. During their stay in the boat, Malin Kundang lot to learn about seamanship on the crew that have been experienced. Along the way, suddenly climbed Malin Kundang ships were attacked by pirates. All the commodities traders who were on the ship seized by pirates. 

Even most of the crew and people on the ship were killed by the pirates. Malin Kundang very lucky he was not killed by the pirates, because when it happened, Malin immediately hid in a small space enclosed by the timber. Malin Kundang adrift amid the sea, until finally the ship was stranded on a beach. With the remaining power available, Malin Kundang walked to the nearest village from the coast. Arriving in the village, Malin Kundang helped by people in the village after previously telling what happened to him. Malin village where stranding is a very fertile village. With tenacity and perseverance in work, Malin gradually managed to become a wealthy man. It has a lot of merchant ships with men of more than 100 people. After becoming rich, Malin Kundang marry a girl to be his wife. News Malin Kundang who have become wealthy and married to the mother also Malin Kundang. Mother Malin Kundang feel grateful and very happy his son had succeeded. Since then, the mother of Malin Kundang every day go to the dock, waiting for her son might return to his hometown. After a long marriage, Malin and his wife set sail with a large and beautiful ship with crew and a lot of bodyguards. Malin Kundang mothers who stayed with his son every day, saw a very beautiful ship, into the harbor. He saw two people standing on the deck. He believes that standing was his son and his wife Malin Kundang. Malin Kundang came down from the ship. 

He was greeted by his mother. Once close enough, his mother saw right dilengan dozen injured people, the more convinced his mother that he was approached Malin Kundang. "Malin Kundang, my son, why did you go so long without sending any news?", She said, hugging Malin Kundang. But what happens then? Malin Kundang immediately release her mother's arms and pushed it down. 

"Women do not know myself, as my mother's only air admitted," said Malin Kundang to her mother. Malin Kundang pretended not to recognize her mother, embarrassed by her mother who is old and wearing tattered clothes. "She's your mother?", Malin Kundang wife Tanya. "No, he was just a beggar who pretended to be claimed as the mother in order to get my property," Malin said to his wife. Hearing statement and treated unjustly by his son, Malin Kundang mother very angry. 

He is not expected her to be a rebellious child. Because of mounting anger, Malin's mother tipped his hand saying "Oh God, if he my son, I sumpahi he became a rock". Not long after the winds roared loud and violent storm destroys the ship came Malin Kundang. After that Malin Kundang body slowly becomes stiff and eventually finally shaped into a rock.


Malin Kundang
[read more..]

Sunday, March 3, 2013

Kemampuan Apresiasi Cerita Anak

0 komentar
Kemampuan Apresiasi Cerita Anak
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “Kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan, dan kekayaan”. Menurut Alwi (2001:707) “Kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan, kekuatan”. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan adalah kesanggupan dan kecakapan pada diri individu dari segi intelektual, bahasa, maupun sikap individu tersebut.

“Apresiasi cerita anak adalah suatu kegiatan untuk memperoleh pelajaran yang berharga sebagai pengalaman kehidupan anak sesuai dengan dunianya untuk mengembangkan fantasinya” (Nurgiyantoro, 2005:219).

Berdasarkan pengertian kemampuan dan apresiasi cerita anak di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan apresiasi cerita anak adalah kesanggupan seseorang dalam menilai, memahami, menikmati, dan menghargai suatu cerita anak.

Media Pembelajaran
Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin medium secara harfiah berarti ‘tengah’ perantara atau pengantar. Dengan kata lain media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan.

Gearlach dan Ely (dalam Arsyad, 2007:65) mengatakan, “Media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun suatu kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media”.

Selanjutnya Gagne dan Briggs (dalam Arsyad, 2007:3) mengatakan, “Media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pelajaran yang antara lain terdiri atas buku, tape recorder, kaset, video recorder, film slide, foto, gambar, grafik, TV, dan komputer.”

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri siswa.


Ciri-Ciri Media Pembelajaran
Arsyad (2007:6) mengemukakan beberapa ciri - ciri media pembelajaran, antara lain :
  1. Media pembelajaran memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik di dalam maupun di luar kelas.
  2. Media pembelajaran digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
  3. Sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manajemen yang berhubungan dengan penerapan ilmu.
Jenis-Jenis Media Pembelajaran
Pengelompokan berbagai jenis media menurut Leshin dan Reigeluth (dalam Arsyad, 2007:36) mengklasifikasikan media ke dalam lima kelompok, yaitu “1) media berbasis manusia (guru, instruksi, tutor, main peran, kegiatan kelompok), 2) media berbasis cetak (buku, penuntun,buku latihan), 3) media berbasis visual (alat bantu kerja, grafik, peta, gambar), 4) media berbasis audio-visual (video, film, TV, tape recorder), 5) media berbasis komputer (pengajaran dengan bantuan komputer).”

Media Berbasis Manusia
Menurut Arsyad (2007:82) “Media berbasis manusia merupakan media tertua yang digunakan untuk mengirimkan dan mengkomunikasikan informasi atau pesan”. Media berbasis manusia meliputi guru, instruktur, main peran, kegiatan kelompok.

Media ini bermanfaat khususnya bila tujuan adalah untuk mengubah sikap atau ingin secara langsung terlibat dengan pemantauan pembelajaran siswa. Misalnya, media manusia dapat mengarahkan dan mempengaruhi proses belajar melalui eksplorasi terbimbing dengan menganalisis dari waktu ke waktu apa yang terjadi pada lingkungan belajar. Guru atau instruktur dapat merangkai pesannya untuk satu kelompok khusus, dan setelah itu dirangkai menurut kebutuhan belajar kelompok siswa atau irama emosinya. Sebagian kelompok dapat dimotivasi dan tertarik belajar sedangkan bagian kelompok lainnya mungkin menolak dan melawan terhadap pelajaran. Seringkali dalam suasana pembelajaran, siswa pernah mengalami pengalaman belajar jelek dan memandang belajar sebagai sesuatu yang negatif. Instruktur sebagai manusia dan media secara intuitif dapat merasakan kebutuhan siswanya dan memberinya pengalaman belajar yang akan membantu mencapai tujuan pembelajaran.


Salah satu faktor penting dalam pembelajaran dengan media berbasis manusia ialah rancangan pembelajaran yang interaktif. Dengan adanya manusia sebagai pemeran utama dalam proses belajar maka kesempatan interaksi semakin terbuka lebar. Pelajaran interaktif yang berstruktur dengan baik, bukan hanya lebih menarik tetapi juga memberikan kesempatan untuk percobaan mental dan pemecahan masalah yang kreatif. Di samping itu, pelajaran interaktif mendorong partisipasi siswa dan jika digunakan dengan baik dapat mempertinggi hasil belajar dan pengalihan pengetahuan.


Dalam proses belajar mengajar, guru sebagai medium suatu materi yang ingin disampaikan di dalam kelas sehingga dapat memperdekat antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Contohnya saat guru bercerita, siswa mendengarkan cerita tersebut. Lewat cerita-cerita yang disampaikan guru, siswa akan mengembangkan imajinasinya dengan meniru tokoh cerita tersebut.

Media Cetakan
Media cetakan menurut Arsyad (2007:37) “meliputi bahan-bahan yang disiapkan di atas kertas untuk pengajaran dan informasi. Di samping buku teks atau buku ajar, termasuk pula lembaran penuntun. Media cetakan yang umum dikenalkan adalah buku teks atau buku ajar, buku penuntun, jurnal, majalah, lembaran lepas, brosur, newsletter, penuntun instruktur dan buku teks terprogram.”

Dalam buku teks terprogram, informasi disampaikan secara terkendali dalam arti bahwa siswa hanya memiliki akses untuk melihat dan membaca teks yang diinginkan langkah demi langkah. Teks program ini merupakan stimulus yang meminta respon, kemudian siswa diberitahu jawaban yang benar dengan membandingkan jawabannya dengan jawaban yang disiapkan pada halaman buku itu. Dengan tahapan demikian, siswa dapat meneruskan bacaannya apabila ia sudah menguasai informasi yang disajikan, atau siswa akan diminta mengulang membaca informasi yang serupa sebelum Ia disajikan dengan informasi baru.

Kelebihan Media Cetak
Ada beberapa kelebihan media cetakan menurut Arsyad (2007:38) yaitu :
  • Siswa dapat belajar dan maju sesuai dengan kecepatan masing-masing. Materi pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa sehingga mampu memenuhi kebutuhan siswa, baik yang cepat maupun yang lamban membaca dan memahami.
  • Di samping dapat mengulangi kembali materi dalam media cetakan, siswa akan mengikuti urutan berpikir secara logis.
  • Khusus pada teks terprogram, siswa berpartisipasi atau berinteraksi dengan aktif karena harus memberi terhadap pertanyaan dan latihan yang disusun, siswa dapat segera mengetahui apakah jawabannya benar atau salah.

Keterbatasan Media Cetakan
Di samping memiliki kelebihan, media cetakan juga memiliki keterbatasan sebagaimana diungkapkan oleh Arsyad (2007:39) diantaranya:
  • Biaya percetakan akan mahal apabila ingin menampilkan ilustrasi, gambar, atau foto yang berwarna-warni.
  • Media cetak harus dirancang sedemikian rupa sehingga tidak terlalu panjang dan dapat membosankan siswa.
  • Media cetakan dapat membawa hasil yang baik jika tujuan pelajaran itu bersifat kognitif, misalnya belajar tentang fakta dan keterampilan jika dirawat dengan baik, media cetakan cepat rusak atau hilang.
Hubungan Media Cetak dengan Kemampuan Apresiasi Cerita Anak 
Media buku merupakan salah satu sarana untuk belajar atau sumber belajar yang berisi materi pelajaran yang harus dikuasai siswa. Media buku adalah penyajian materi dalam bentuk tulisan kepada siswa. Media buku dapat menambah minat membaca siswa dalam mengapresiasi cerita anak dan melibatkan siswa secara penuh dalam belajar serta mengembangkan pengetahuan siswa dalam mengapresiasi sastra. Saat siswa menikmati buku cerita anak yang dibaca dapat memotivasi siswa untuk membaca buku - buku sastra yang lain dari pengarang yang berbeda.

Pengembangan membaca dapat dilakukan melalui pemanfaatan cerita anak-anak dengan media membaca dan menulis. Hal ini berasumsi bahwa dengan membaca sastra atau cerita anak dapat mengembangkan kemampuan apresiasi pada siswa.

Dengan kebiasaan membaca buku cerita anak dapat membaca sastra. Minat membaca sastra ini merupakan langkah awal dalam apresiasi sastra, khususnya cerita anak. Kemampuan apresiasi cerita anak yang baik harus dilandasi oleh minat membaca sastra yang benar. Oleh karena itu, minat membaca sastra terlebih dahulu dibina dan dikembangkan dengan baik. Pembinaan dan pengembangan minat baca dapat dilakukan dengan menyediakan buku karya sastra, baik karya sastra anak-anak remaja dan dewasa di sekolah atau mengikuti pelatihan dalam pengembangan minat membaca sastra melalui tukar-menukar informasi. Dengan membaca buku cerita anak, siswa dituntut mampu menilai tentang tema, tokoh, alur, latar, sudut pandang, amanat, dan stile.

Hubungan Media Berbasis Manusia dengan Kemampuan Cerita Anak
Mendengarkan cerita anak dengan media berbasis manusia adalah salah satu cara untuk menikmati karya sastra. Manusia merupakan sebagai medium sumber suatu cerita yang disampaikan secara lisan. Hal ini dapat membuat siswa lebih aktif, karena dengan mendengarkan suatu cerita melalui guru atau pencerita melibatkan fisik dan mental siswa.

Bukan hanya sekadar mendengarkan isi cerita atau dialog dalam cerita itu tetapi siswa akan berusaha memahami dan mengimajinasikan gambaran dalam cerita itu. Saat itulah siswa mengembangkan imajinasinya. Oleh karena itu, bercerita kepada anak atau siswa adalah hal yang sangat penting dilakukan baik itu guru, pustakawan, maupun orang tua dalam mengembangkan kemampuan apresiasi cerita anak. Dengan kata lain, ketika mendengarkan suatu cerita anak, siswa dituntut mampu menilai tentang tema, tokoh, alur, latar, sudut pandang, moral, dan stile.
[read more..]

Pengertian Cerita Anak

0 komentar
Pengertian Cerita Anak
Karakteristik cerita anak tidak berbeda halnya dengan hakikat sastra pada umumnya. Menurut Nurgiyantoro (2005:218) pada hakikatnya sastra adalah citra kehidupan, gambaran kehidupan. Selanjutnya menurut pendapat Lukens (2003:8) “Cerita anak adalah cerita yang menceritakan tentang gambar-gambar dan binatang-binatang maupun manusia dengan lingkungan”.

Dalam cerita anak tergambar peristiwa kehidupan karakter tokoh dalam menjalani kehidupan sebagaimana diungkapkan dalam alur cerita. Dengan demikian cerita anak adalah subjek yang menjadi fokus perhatian, dan hal itu tercermin secara konkret dalam cerita. Menurut Nurgiyantoro (2005:35) “Cerita anak adalah cerita yang di mana anak merupakan subjek yang menjadi fokus perhatian. Tokoh cerita anak boleh siapa saja, namun mesti ada anak-anaknya, dan tokoh anak itu tidak hanya menjadi pusat perhatian, tetapi juga pusat pengisahan”.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa cerita anak adalah cerita yang mengantarkan dan berangkat dari kaca mata anak.

Unsur-Unsur Cerita Anak
Cerita fiksi anak terdiri dari unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur cerita yang secara langsung berada di dalam dan menjadi bagian, dan ikut membentuk eksitensi cerita seperti tokoh, latar, dan sudut pandang. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah jati diri pengarang yang mempunyai ideologi, pandangan hidup bangsanya, kondisi kehidupan sosial-budaya masyarakat yang dijadikan latar cerita. Adapun yang dipaparkan pada pembahasan ini adalah unsur-unsur intrinsik yaitu :

Tokoh
Dalam cerita fiksi anak, tokoh merupakan unsur yang menarik perhatian dan mengesankan. Nurgiyantoro (2005:222) mengemukakan bahwa tokoh cerita menjadi fokus perhatian baik pelukisan fisik maupun karakter.

Tokoh cerita yang dimaksud sebagai pelaku yang dikisahkan dalam cerita fiksi lewat alur. Dalam cerita anak, tokoh tidak harus manusia, tapi dapat juga berupa binatang atau objek lain yang biasanya dalam bentuk personafikasi manusia. Tokoh-tokoh cerita yang menjadi hero pasti akan diidolakan anak-anak, misalnya tokoh film “Bawang Putih dan Bawang Merah”, “Harry Potter”, juga tokoh komik “kapten Tsubasa”, “Crayon Sincan”, dan lain-lain.

Nurgiyantoro (2005:165) mengemukakan, “Bahwa tokoh cerita dapat dipahami sebagai seseorang yang ditampilkan dalam teks cerita naratif yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu sebagaimana diekspresikan lewat kata-kata dan wujud dalam tindakan”.

Alur Cerita
Dalam kaitannya dalam teks suatu cerita, alur berhubungan dengan berbagai hal seperti peristiwa, konflik yang terjadi, dan akhirnya mencapai klimaks serta bagaimana kisah itu diselesaikan. Menurut Sudjiman (1987:29), Alur (plot) adalah peristiwa yang diurutkan sehingga membangun tulang punggung cerita. Alur berkaitan dengan masalah bagaimana peristiwa, tokoh dan segala sesuatu digerakkan, dikisahkan sehingga suatu rangkaian cerita yang padu dan menarik. Selain itu alur juga mengatur berbagai peristiwa dan tokoh itu tampil dalam urutan yang enak, menarik tetapi juga terjaga kelogisannya dalam kelancaran ceritanya.

Sumardjo dan Saini (1991:139) mengatakan bahwa :
“Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang satu sama lain dihubungkan dengan sebab akibat. Artinya, peristiwa pertama menyebabkan terjadinya peristiwa kedua, peristiwa kedua menyebabkan terjadinya peristiwa ketiga, dan demikian selanjutnya, hingga pada dasarnya terakhir ditentukan terjadinya oleh peristiwa pertama”.

Kasim (1994:151) mengatakan bahwa :
Alur cerita adalah jalinan atau rangkaian peristiwa yang dikisahkan dalam karya satra untuk mencapai efek tertentu. Rangkaian peristiawa ini di sana terjalain secara seksama dari pengenalan peristiwa, rumitnya suasana, klimaks dan penyelesaiannya peristiwa. Alur cerita merupakan rangkaian berbagai peristiwa yang terjadi secara sambung menyambung dan akhirnya menjadi sebuah certa yang menarik.

Selanjutnya menurut Sudjiman (1987:29), alur (plot) adalah peristiwa yang diurutkan sehingga membangun tulang punggung cerita. Alur cerita dapat menghadirkan tokoh sehingga mampu tampil sebagai sosok pribadi yang menarik dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tokoh cerita tidak akan hadir dan berkembang tanpa alur cerita yang menggerakkannya, dan sebaliknya alur pun tidak dapat dikembangkan tanpa tokoh yang menjadi fokus pengembangannya. Singkatnya, ada hubungan erat antara tokoh dan alur cerita. Alur cerita tidak lain adalah cerita tentang tokoh, riwayat hidup, dan lain - lain yang terkait dengan tokoh.

Latar
Latar/setting dapat dipahami sebagai tumpuan berlangsungnya berbagai peristiwa dan kisah dalam cerita fiksi tidak dapat terjadi begitu saja tanpa kejelasan. Apalagi untuk cerita fiksi anak yang dalam hal banyak memerlukan rincian konkret yang lebih menjelaskan apa dan bagaimana berbagai peristiwa yang dikisahkan.

Latar menunjukkan tempat, yaitu lokasi di mana cerita itu terjadi, waktu, kapan cerita itu terjadi, dan lingkungan sosial budaya, keadaan masyarakat tempat tokoh dan peristiwa terjadi.

Latar terdiri atas tiga unsur, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar lingkungan sosial budaya. Latar tempat menunjukkan tempat di mana cerita yang dikisahkan itu terjadi. Dalam cerita anak, deskripsi tentang latar tempat cukup penting untuk membantu anak memahami dan mengembangkan imajinasi. Lewat deskripsi latar, pembaca akan memperoleh pengetahuan dan persepsi baru, dan itu merupakan suatu bentuk pengalaman batin yang berharga.

Tema
Secara sederhana tema dapat dipahami sebagai gagasan yang mengikat cerita. Menurut Nurgiyantoro (2005:260) “Tema merupakan dasar pengembangan cerita”. Sedangkan menurut Keraf (1984:107), “Tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karangannya. Sebagai suatu gagasan yang ingin disampaikan tema dijabarkan dan dikonkretkan melalui unsur-unsur intrinsik yang lain seperti tokoh, alur, dan latar. Pemahaman terhadap tema suatu cerita adalah pemahaman terhadap makna itu sendiri. Tema merupakan gagasan utama.”

Tema lazimnya berkaitan dengan berbagai masalah kehidupan manusia, karena sastra berbicara tentang Tuhannya, manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan lingkungannya. Tema apa yang akan diangkat ke dalam suatu cerita fiksi tergantung pada kemampuan penulis, tetapi yang paling banyak ditemukan adalah tema yang berkaitan dengan interaksi antar sesama.

Moral
Moral dapat dipahami sebagai sesuatu yang ingin disampaikan kepada pembaca. Moral berkaitan dengan masalah baik dan buruk. Untuk cerita anak istilah moral dapat dipahami secara lebih konkret sebagai mengajarkan. Kehadiran moral dalam cerita fiksi dapat dipandang sebagai semacam saran terhadap perilaku moral tertentu yang bersifat praktis, tetapi bukan resep atau petunjuk bertingkah laku. Ia dikatakan praktis karena ajaran moral itu disampaikan lewat sikap dan perilaku konkret sebagaimana ditampilkan oleh para pelaku cerita. Dengan demikian, kehadiran dalam unsur moral dalam suatu cerita fiksi, apalagi fiksi anak, tentulah merupakan sesuatu yang mesti ada.

Sudut Pandang
Nurgiyantoro (2005:284) mengemukakan “Sudut pandang merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana penampilan tokoh, tindakan, dan peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah teks fiksi kepada pembaca”. Jadi sudut pandang pada hakikatnya adalah suatu cara, strategi atau siasat yang sengaja dipilih pengarang untuk mengungkapkan cerita dan gagasannya. Secara lebih konkret dan spesifik sudut pandang adalah ‘siapa yang melihat’, ‘siapa yang berbicara’, atau ‘dari kacamata siapa sesuatu itu dibicarakan’.

Style
Bahasa yang dipergunakan dalam teks-teks sastra dapat dipandang sebagai representasi suatu stile yaitu stile penulisannya. Stile itu sendiri harus dapat dipahami oleh pembaca, di dalam cerita itu pengarang juga ingin mempengaruhi pembaca (anak) untuk memberikan sikap sebagaimana yang diberikan secara implisit dalam cerita.

Apresiasi Cerita Anak
Apresiasi adalah pengalaman secara sadar (penghayatan) tentang segala sesuatu dalam jiwanya (dirinya) sendiri yang menjadi dasar perbandingan serta landasan untuk menerima ide-ide baru (Alwi, 2001:53). Apresiasi adalah penilaian baik, penghargaan. Mengapresiasi adalah memberi penilaian terhadap sesuatu atau sesuatu itu lebih baik adanya atau sering dikatakan pemberian penghargaan kepada sesuatu.

Kegiatan mengapresiasi pada dasarnya adalah kegiatan individual yang bersifat subjektif, maksudnya setiap individu mempunyai kemungkinan pemahaman, penghayatan yang berbeda sesuai dengan nilai, kesungguhan, kejujuran, kepekaan, emosional serta pengetahuan dan pengalaman kehidupan masing-masing. Menurut Nurgiyantoro (2005:35) “Cerita anak adalah cerita di mana anak adalah subjek yang menjadi fokus perhatian. Tokoh cerita anak boleh siapa saja, namun mesti ada anak-anaknya, dan tokoh anak itu tidak hanya menjadi pusat perhatian, tetapi juga pusat pengisahan”. Cerita anak adalah cerita yang mengantarkan dan berangkat dari kacamata anak. Cerita anak terutama ditujukan kepada pembaca anak walau dalam praktiknya orang dewasa juga banyak yang membacanya.

“Apresiasi cerita anak adalah suatu kegiatan untuk memperoleh pelajaran yang berharga sebagai pengalaman kehidupan anak sesuai dengan dunianya untuk mengembangkan fantasinya” (Nurgiyantoro, 2005:219).
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa apresiasi cerita anak adalah suatu penilaian, pemahaman, penikmatan, dan penghargaan terhadap cerita anak.
[read more..]

Saturday, February 16, 2013

Unsur Pembentuk Cerpen

0 komentar

Cerpen merupakan jenis prosa yang sering digunakan oleh pengarang untuk mengekspresikan atau menuangkan kemampuannya dalam bercerita. Untuk memahami sebuah cerpen atau menganalisis cerpen ada baiknya lebih dahulu mengetahui apa-apa saja yang membangun sebuah cerpen. Unsur dalam cerpen harus saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Cerpen dibangun atas unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.

Unsur  Intrinsik
          Suroto (1989:96) mengatakan, ”unsur intrinsik adalah unsur dalam sastra yang ikut serta dalam membangun karya sastra itu sendiri, yaitu :
a. Tema dan amanat
          Tema adalah sesuatu yang menjadi pokok persoalan atau sesuatu yang menjadi pemikiran. Tema disampaikan melalui sebuah jalinan cerita, karena itu tema suatu cerita hanya dapat diketahui dan ditafsirkan setelah membaca ceritanya dan menganalisisnya. Sedangkan amanat adalah maksud atau pesan atau tujuan yang hendak disampaikan.
Setelah menganalisis akan dipaparkan analisis tema dan amanat yang terdapat dalam cerpen ” Perawan Dari Pantai”. Inti cerita, selain menceritakan ketabahan Fatimah dalam menghadapi masalah kehidupannya, Fatimah tidak lupa meminta petunjuk kepada Tuhan. Berdasarka inti cerita itu disimpulkan bahwa tema cerpen ”Perawan Dari Pantai” yaitu bertemakan tentang religius dan ketabahan Fatimah dalam menghadapi masalahnya.
Kehidupan Fatimah berada dilingkungan pesisir yang jauh dari kehidupan teknologi. Bahkan pendidikan pun kurang di daerah itu. Hal itu juga merupakan amanat yang tersirat dalam cerpen tersebut bahwa pengarang ingin menyampaikan perubahan sistem atau cara kehidupan masyarakat pesisir agar lebih maju cara berfikirnya terutama di bidang pendidikan.
b. Plot (alur)
          Plot (alur) adalah jalan cerita yang berupa peristiwa-peristiwa yang disusun satu persatu dan saling berkaitan menurut hukum sebab akibat dari awal sampai akhir cerita. Secara tradisional plot cerita prosa dimulai dari perkenalan, pertikaian, klimaks, dan pelarian.
          Alur yang terpapar dalam cerpen ”Perawan Dari Pantai” yaitu alur mundur. Dimana penceritaan isinya diceritakan bagaimana Fatimah mengingat kembali kejadian-kejadian yang terjadi pada dirinya sehingga dia mengambil keputusan untuk meninggalkan keluarganya.
c. Penokohan (perwatakan)
          Penokohan yang dimaksud adalah bagaimana pengarang menampilkan tokoh-tokoh dalam cerita dan bagaimana tokoh-tokoh tersebut ini berhubungan dengan dua hal yaitu teknik penyampaian dan watak atau kepribadian tokoh yang ditampilkan.

   Sudjiman (1998:11-21) membedakan tokoh atas beberapa bagian , yaitu:
  1. Berdasarkan fungsinya:
 a. Tokoh senteral, yakni tokoh utama atau protagonis yang menjadi pusat sorotan dalam kisahannya. Kriterium yang digunakan bukan frekuensi kemunculan tokoh, melainkan intensitas keterrlibatan tokoh dalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita.
 b. Tokoh bawahan, yakni tokoh tambahan yang tidak sentral kedudukannya di dalam cerita, namun kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang atau mendukung tokoh utama.
2. Berdasarkan cara menampilkan tokoh:
a. Tokoh datar, yakni tokoh yang diungkapkan atau disoroti dari satu watak saja, termasuk tokoh streotip.
b. Tokoh bulat, yakni tokoh yang disoroti dari segala seginya, baik kelemahan maupun kekuatannya. Tokoh ini bersifat kompleks sehingga dapat dibedakan dari tokoh lain.
        Berdasarkan pendapat di atas maka tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam sebuah cerita dapat dibedakan atas tokoh sentral/utama dan tokoh bawahan, tokoh datar dan bulat (kompleks). Dalam penelitian ini, hanya dibicarakan dari segi tokoh utama dan tokoh tambahan saja.
        Dalam cerpen ”Perawan Dari Pantai”, tokoh utama adalah seorang wanita yang religius dan bimbang hatinya dari permasalahan hidupnya yang bernama Fatimah. Sebagai tokoh pembantu dalam cerita ini Ayah, Ibu, dan Datuk. Ketiga tokoh ini berperan penting dalam setiap peristiwa pada alur cerita.
d. Latar (setting)
          Yang dimaksud dengan latar atau setting adalah penggambaran situasi tempat dan waktu serta suasana terjadinya peristiwa. Untuk dapat melukiskan latar yang tepat, pengarang harus mempunyai pengetahuan yang memadai tentang keadaan atau waktu yang akan digambarkan.
   Dalam cerpen ”Perawan Dari Pantai” latar tempat terjadi di daerah pesisir.
e. Dialog  (pecakapan)
          Dialog atau percakapan adalah ujaran-ujaran yang dilakukan oleh para tokoh dalam suatu cerita. Dialog dapat menunjang penggambaran latar, plot, perwatakan, dan amanat.
          Dialog yang dipergunakan dalam cerpen ini adalah dialog yang menggunakan tata bahasa yang rapi.

f.  Sudut pandang
          Sudut pandang adalah kedudukan atau posisi pengarang dalam cerita tersebut. Penempatan diri pengarang dalam cerita tersebut dapat bermacam-macam, yaitu: (1) pengarang sebagai tokoh utama, (2) pengarang sebagai tokoh bawahan, (3) pengarang hanya sebagai pengamat yang berada diluar cerita.
          Sudut pandang yang dikemukakan dalam cerpen :Perawan Dari Pantai” adalah pada poin 3. Dimana pengarang hanya sebagai pengamat yang berada diluar cerita.

Unsur Ekstrinsik
Menurut Suroto (1989:138) ”unsur ekstrinsik adalah unsur yang berada diluar karya sastra itu sendiri. Unsur itu meliputi latar belakang kehidupan pengarang, adat istiadat yang berlaku pada saat itu, situasi politik, persoalan sejarah, ekonomi, pengetahuan, dan agama. Dalam sebuah cerpen adalah permasalahan kehidupan (baik bidang politik, pendidikan, agama, sosial).” 
 a. Politik 
    Politik yang dimaksud dalam konteks ini adalah hal-hal dasar-dasar pemerintahan dan berkaitan dengan kebijakan-kebijakan. Bagaimana juga masalah politik tersebut tidak dapat lepas dari ideologi.
    Dalam konteks kehidupan kesusastraan Indonesia, para pengarang memberikan perhatian pada segi politik. Hal ini dapat ditemukan dalam karya-karya pengarang Indonesia.

      b. Pendidikan
   Pendidikan yang dimaksud yaitu karya sastra yang dipandang sebagai sarana pendidikan yang baik bagi manusia atau sarana mengajar untuk membuat manusia lebih paham terhadap dunia. Bahkan, sebagian orang berpendapat bahwa sastra merupakan alat pengajaran yang efektif.
      c. Agama
   Dari sisi kehidupan beragama karya sastra pun mempunyai peran dalam menawarkan suatu gagasan, sarana dan alternatif bagi pemecahan persoalan sosial (kemasyarakatan) akibat benturan antara kepentingan untuk kebahagiaan batin (rohani). Kemahakuasaan Tuhan merupakan satu-satunya pilihan untuk menjawab persoalan yang ada dalam kehidupan masyarakat.
      d. Latar budaya
  Dalam sebuah cerpen, latar yang digunakan pengarang juga menentukan hasil dari cerita. Pengarang dapat mengangkat unsur budaya suatu daerah untuk dijadikan cerita. Pengarang dapat mengangkat adat istiadat dari suatu daerah untuk dijadikan latar budaya yang menopang kisah dalam cerita.
Menurut Sammy dalam Koentjaraningrat (1989:35) menyatakan, ”Ekstrinsik adalah segala macam unsur yang berada diluar sastra dan ikut mempengaruhi kehadiran karya sastra tersebut, misalnya faktor soial, ekonomi, kebudayaan, politik, moral, keagamaan, dan tata nilai yang dianut masyarakat.”
           Jadi, berdasarkan pendapat di atas maka sosio budaya adalah bagian dari unsur ekstrinsik dari karya sastra, karena sosio budaya memuat nilai-nilai sosio, budaya, ekonomi, dan agama.

Analisis Nilai-nilai Sosio Budaya cerpen ”Perawan Dari Pantai” karya 
Sulaiman  Sambas.
          Dalam cerpen ”Perawan Dari Pantai” terdapat nilai-nilai yang terkandung dalam isi cerita. Cerpen tersebut menceritakan tentang bagaimana ketegaran Patimah menghadapi takdir hidup yang dijalaninya dan tidak putus asa berserah diri kepada Tuhan. Dimana Patimah disuruh kahwin ganti tikar dengan Sodik abang ipar dari mendiang Masitah kakaknya. Tetapi Patimah menolaknya karena umur Patimah yang masih muda untuk berumah tangga. Patimah tidak ingin sama nasibnya seperti perempuan-perempuan muda dikampung nelayan pantai yang cepat terhisap sari madunya, lantas rontok, kisut dimamah biak oleh anak-anak lahir tiap tahun. Untuk itu Patimah berambisi menyelesaikan sekolah lebih dahulu. Agar menjadi berguna bagi kampungnya. Dan ingin merubah nasib kehidupan masyarakat dikampungnya. Menjelaskan, membuka pengertian pada setiap pintu hati yang tertutup mengangkat mereka dari kubangan lumpur langau pantai.
Maka dari itu nilai-nilai sosio budaya tersebut akan dijelaskan di bawah ini:
a.       Nilai sosio
Secara garis besar nilai sosio yang ada pada cerpen “Perawan Dari Pantai” tersebar di setiap paragraf seperti contoh terdapat pada paragraf sebelas “Itulah, kami telah sependapat dan berharap kau mau kahwin ganti tikar dengan abang iparmu Sodik” dan juga terdapat pada pada tiga puluh enam “Patimah merasa sangat prihatin terhadap nasib kaumnya di tanah kelahirannya itu.”
b.      Nilai budaya
Budaya dalam cerpen ”Perawan Dari Pantai” merupakan budaya yang ada di daerah pesisir. Pengarang mengangkat cerita dan adat istiadat dari daerah tanah kelahirannya sendiri. Didalam cepen ini pendidikan kuranglah diutamakan. Karena masyarakat pesisir lebih mengutamakan mata pencahariannya sendiri yaitu nelayan, sehingga pendidikan terkebelakang. Seperti contoh pada paragraf dua puluh satu ”Terbayang sehari-hari ayahnya turun kelaut malam-malam, dan siang esok pulang dengan tangan hampa karena dipukul angin kencang. Dan juga pada paragraf empat puluh enam ”Sama seperti perempuan-perempuan muda dikampung nelayan pantai kita sejak dulu terus berkembang biak. Melahirkan dan melahirkan meneruskan leluhur. Ditinjau dari segi jumlah penduduk, kehidupan daerah pesisir penduduknya sangat padat, itu dikarenakan setiap tahun peningkatan kelahiran terus meningkat.
c.       Nilai ekonomi
Hubungan manusia dengan alam adalah nilai penyatuan, pemanfaatan, dan pemeliharaan. Alam yang memberi kehidupan kepada manusia. Seperti halnya pada paragraf dua puluh ”Kau tahu sendiri, sejak dulu ayah hanya seorang nelayan kecil.” dan juga pada paragraf dua puluh delapan ”Ibumu terpaksa mengulang kerja lamanya mengambil upahan menjemur ikan asin di tangkahan.” Mata pencaharian yang diceritakan dalam cerpen ”Perawan Dari Pantai” yaitu nelayan yang merupakan mata pencaharian utama.
d.      Nilai agama
     Dalam cerpen ”Perawan Dari Pantai” nilai religius terdapat sangat kental. Hubungan tokoh utama sangat erat dengan penciptanya seperti halnya dimana terdapat pada paragraf pertama ”Lengkap dengan telekung putih bersih masih belum dilepas selesai solat isya tadi.” bukan itu saja pada paragraf  kedua dan keempat juga terdapat nilai agamanya, ”dimana Fatimah selalu meminta petunjuk kepada Tuhan untuk diberi kemudahan dan jalan keluar dari permasalahannya. Karena Fatimah yakin hanya Tuhan lah yang akan memberi petunjuk dari masalahnya.
[read more..]
 
SEO Stats powered by MyPagerank.Net
My Ping in TotalPing.com