Showing posts with label Paper Kedokteran. Show all posts
Showing posts with label Paper Kedokteran. Show all posts

Wednesday, September 30, 2015

NUTRISI PENYAKIT KARDIOVASKULAR

0 komentar
Nutrisi sebagai Pencegah Primer dan Sekunder Penyakit Jantung Koroner
Pendahuluan
Penyakit kardiovaskular adalah kumpulan penyakit yang saling berkaitan termasuk di dalamnya adalah penyakit jantung koroner (PJK), aterosklerosis, hipertensi, penyakit jantung iskemik, penyakit vascular perifer, gagal jantung. Penyakit tersebut saling berkaitan dan sering ditemukan bersama-sama dalam suatu rangkaian progresivitas suatu penyakit. Diperkirakan 81.000.000 orang amerika (satu diantara tiga) yang memiliki satu atau lebih jenis penyakit tersebut di atas.
            Penyakit kardiovaskular tetap menjadi pembunuh nomor satu di Amerika yang terjadi pada laki-laki dan perempuan; saty daru tuao 2,9 kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskular. Pada tahun 2010 diperkirakan terdapat 1,26 juta orang amerika yang terserang gejala koreoner berulang atau baru. Setiap 25 detik seorang Ameriak akan menderita karena serangn koroner dan sekitara setiap 1 menit seseorang akan meninggal karenanya (American Heart Association/AHA, 2010). Risiko sepanjang hidup untuk penyakit kardiovaskular yang terjadi pada laki-laki AMerika adalah dua dari tiga dan untuk perempuan adalah satu dari dua orang (AHA, 2010).
            Dari seluruh penyebab kematian, PJK, kanker, dan stroke adalah menduduki peringkat pertama (AHA, 2010). Penyakit jantung koroner (PJK) melibatka penyempitan pembuluh darah kecil yang memberikan oksigenasi di otot jantung. Infark Miokard (Myocardial Infarct/MI), atau iskemia, pada satu atau lebih arteri koroner dengan kerusakan jaringan, adalah bentuk utama penyakit jantung yang bertanggung jawab pada kematian pada PJK. Penyakit jantung dan stroke merupakan penyebab kematian terbesar pada kedua jenis kelamin dan seluruh kelompok ras/suku, dan meningkat seiring pertambahan usia. Sampai usia 65 tahun, laki-laki berkulit hitam dan mempunyai kecepatan tertinggi. Wanita berkulit hitam mempunyai kemungkinan terbesar dibandingkan wanita berkulit putih disemua kelompok usia. Diantara kelompok berkulit putih, yang berusia tua dari usia 18 tahun, sebanyak 12,1% mempunyai penyakit kardiovaskular. Pada usia yang sama, kelompok 10,2% dari suku amerika afrika mempunyai penyuakit jantung dan dalam kelompok Hispanik dengan insidens sebesar 8,1% inisidens in i pada bangsa asli amerika adalah 12.1%, dalam suku Hawaii atau Kepulauan Pasifik adalah 19,7% dan di Asia sebesar 5,2%.

Faktor Gaya Hidup Yang Dapat Dimodifikasi
             Gaya hidup termasuk faktor yang dapat dimodifikasikan utnuk mencegah terjadinya penyakit jantung. American Heart Association (AHA) menyarankan dan mendukung penatalaksanaan nutrisi dan gaya hifup yang dapat menurunkan risiko penyakit jantung koroner. Terdapat tujuh sasaran untuk menurunka risiko tersebut (table 1).

TABEL 1.
SASARAN GAYA HIDUP UNTUK MENURUNKAN RISIKO BERDASARKAN AMERICAN HEART ASSOCIATION

SASARAN
GAYA HIDUP
1.
Mengkonsumsi makanan yang sehat
2.
Mempertahankan berat badan ideal
3.
Mencapai kadar Low Density Lipoprotein (LDL), High Density Lipoprotein (HDL), dan Trigliserida dalam kadar normal
4.
Mencapai tekanan darah dalam batas normal
5.
Mencapai kadar gula darah dalam batas normal
6.
Selalu melakukan aktivitas fisik
7.
Menghindari merokok dan sejenisnya
Sumber: Lichtenstein AH et al. Diet and lifestyle recommendations revision 2006: a scientific statement from the American Heart Association Committee. Circulation 114: 83, 2006.

Rendahnya kualitas nutrisi
Telah diketahui bahwa kandungan nutrisi dapat mempengaruhi penyakit aterosklerosis dan modifikasi nutrisi yang dikonsumsi per hari dapat mengurangi risiko tersebut. Asupan makanan pun meningkat dari tahun ke tahun pada penduduk dunia, diperkirakan peningkatan pertahun berkisar 300 kalori (Thom et al, 2006). Pengaruh lingkungan, menyebabkan nutrisi memberikan kontribusi besar terhadap terjadinya obesitas dan berawal dari peningkatan ukuran porsi makanan yang terjadi sejak 20 tahun terakhir. Kebanyakan oragn akan mengkonsumsi lebih sedikit serat dari yang direkomendasikan  (Anderson, 2009); dan hanya 22% dewasa yang mengkonsumsi lima porsi buah dan sayuran per hari. Diagnose gangguan nutrisi yang sering terjadi dalam suatu populasi antara lain adalah asupan energi yang berlebihan; asupan lemak jenuh yang berlebihan; kurang asupan sumber vitamin dan mineral seperti vitamin B kompleks, kalium, dan kalsium; kurangnya asupan bioaktif seperti stanol dan sterol; asupan alcohol yang berlebihan; rendahnya pengetahuan tentang makanan dan nutrisi; pilihan makanan yang tidak sesuai; terbatasnya rekomendasi yang ada; rendahnya aktivitas fisik; dan meningkatnya berat badan lebih dan obesitas (Brindle, 2006).

Rendahnya aktivitas fisik
            Kurangnya aktivitas fisik dan rendahnya tingkat kebugaran adalah faktor risiko independent untuk terjadinya penyakit jantung koroner. Aktivitas fisik berhubungan dengan penyakti jantung koreoner, merupakan faktor independent terjadinya peningkatan risiko kardiometabolik dari obesitas, lipid serum, glukosa serum, dan hipertensi pada laki-laki dan perempuan (McGuire, 2009). Seiring dengan rekomendasi kesehatan masyarakat untuk meningkatkan aktivitas, maka terdapt peningkatan fisik yang berbeda pada tiap ras yaitu 44% wanita hispanik, 34% wanita berkulit hitam, 32% wanita Amerika-Indian, dan 22% wanita kulit putih dalam suatu survey Behavioral Risk Factor Surveillance Survey (2007). Hampir 20% dari seluruh laki-laki tidak aktif dan dengna meningkatnya prevalens obesitas, aktivits fisik yang merupakan prioritas utama. Aktivitas fisik menurunka risiko penyakti kardiovaskular dengan memperlambat aterogenesis, meningkatkan vaskularisasi miokardium, meningkatkan fibrinolisis, meningkatkian kolesterol HDL, memperbaiki toleransi glukosa dan sensitivitas insulin, bertujuan penatalaksanaan berat badan, dan menurunkan tekanan darah.

Stress
            Stress dapat mengaktivasi suatu respon neurohormonal dalam tubuh yang dapat menghasilkan peningkatan tekanan darah, denyut jantung, dan eksitabilitas otot jantung. Hormone stress angiotensin II dilepaskan mengikuti stimulasi dari system saraf simpatis (symphatetic nerovous system/SNS); keluarnya angiotensin II memicu terbentuknya plak (Mehta dan Griendling, 2007).

Merokok
            Peningkatan risiko penyakti jantung koroner dan stroke yang berasal dari merokok telah dikenal lebih dari 40 tahun, dengan bukti-bukti yang jelas. Merokok dapat menjadi penyebab nomor satu kematian di Amerika Serikat; sebesare 35% dari kematian akibat tembakau mengarah kepada terjadinya penyakit ja ntung koroner (Thom et al., 2006). Merokok secara sinergis dan langsung mempengaruhi terjadinya penyakit koroner akut, termasuk pembentukan thrombus, instabilitas plak, dan aritmia (irama jantung tidak normal). Pemakaian tembakau menyebabkan aterosklerosis subklinis. Wanita yang merokok dan menggunakan kontraseptif oral mempunyai 10 kali kemungkinan terjadinya penyakit jantung koroner dibandingkan dengan yang tidak merokok. Risiko juga dapat meningkat dengan jumlah rokok yang dihisap per hari, kadar tar dalam rokok tidak mempengaruhi penurunan risiko tersebut. Risiko juga meningkat pada perokok pasif (Thom et al., 2006).

Penatalaksanaan nutrisi medis
            Sasaran penatalaksanaan nutrisi medis meliputi penatalaksanaan nutrisi dan aktivitas fisik dengan tujuan penurunan kadar kolesterol LDL (table 2). Penatalaksanaan nutrisi, olahraga, dan penurunan berat badan bertujuan untuk menurunkan kadar lemak tubuh dan menurunkan peradangan tubuh.

TABEL 2.
FAKTOR NUTRISI YANG MEMPENGARUHI KOLESTEROL LOW DENSITY LIPOPROTEIN

Peningkatan
Asam lemak jenuh dan trans
Asupan kolesterol
Peningkatan berat badan
Penurunan
Asam lemak tidak jenuh rantai jamak
Serat larut
Fitosterol/stanol
Turunnya berat badan
Isoflavon-yang mengandung protein kedelai (penelitian terbatas)
Protein kedelai
Sumber: Fletcher B et al.: Managing abnormal blood lipids: a collaborative approach, Circulation 112:3188, 2005

            Kesuksesan dari program ini adalah dengan kunjungan dan motivasi yang kuat dari pasien itu sendiri. Kunjungan minggu pertama selama 45-90 menit diikuti dengan kunjungan lanjutan selama 2-6 kali kunjungan dengan durasi pertemuan 30-60 menit dengan tuntunan panduan dietisien (American Dietetic Association (ADA) Evidence Library, 2006).

Perubahan gaya hidup terapeutik (Therapeutic lifestyle changes/TLC)
            Pola gaya hidup TLC digunakan untuk pencegahan primer dan sekunder penyakit jantung koroner merupakan titik tonggak pencegahan penyakit ini, dengan rekomendasi lemak jenuh kurang dari 7% kalori total dan lemak total 25-35% kalori total (AHA, 2010). Konsumsi lemak sebesar 30-35% kalori total dengan menjaga kadar asam lemak jenuh dan trans batas rendah adalah dua komponen yang disarankan untuk penderita resistensi insulin atau sindroma metabolic. Tingginya supan lemak berasal dari perubahan komposisi lemak yaitu dengan meningkatkan asam lemak tidak jenuh rantai jamak (polyunsaturated fatty acids/PUFA dan monounsaturated fatty acids/MUFA), dengan perubahan komposisi tersebut diharapkan terjadinya penurunan kadar trigliserida, dan meningkatkan kadar kolesterol high density lipoprotein (HDL) dan menurunkan kadar kolesterol LDL tanpa meningkatkan kadar glukosa.
            Jangka waktu diet TLC adalah berkisar 3-6 bulan dengan perubahan komposisi lemak sebagai dasar penerapan diet tersebut. Pada awal monitoring diet TLC adalah selama 6 minggu dan pemantauan kadar kolesterol LDL pada akhir tahap pertama. Penambahan fitosterol dan stanol dan juga serat larut disarankan jika tahap pertama belum menunjukkan penurunan kadar kolesterol LDL (tentunya monitoring kepatuhan pasien sangat diperlukan). Pada tahap ketiga, penatalaksanaan sindroma metabolic akan dimulai jika target kolesterol LDL tidak juga menunjukkan penurunan. Jika penurunan maksimal dari kolesterol LDL dicapai, intervensi penatalaksanaan nutrisi difokuskan kepada sindroma metabolic atau penurunan faktor risiko yang dapat diubah.
            Peningkatan aktivitas fisik, penurunan asupan energi, dan penuruna berat badan adalah focus pada penurunan faktor risiko. Strategi perubahan tingkah laku untuk penurunan risiko penyakit kardiovaskular dan penurunan berat badan tercantum dalam table 3. Edukasi yang harus ditekankan kepada pasien adalah perencanaan TLC, membaca label makanan, dan memilih makanan yang sehat saat makan di luar rumah.
TABEL 3. POLA DIET PERUBAHAN GAYA HIDUP TERAPEUTIK
Zat Gizi
Asupan yang disarankan
Lemak total
Lemak jenuh
Asam lemak trans
PUFA
MUFA
Karbohidrat*
Serat
Fitosterol
Protein
Kolesterol
Kalori total (energi)
25-35% kalori total
Kurang dari 7% kalori total
0 atau serendah mungkin
Mencapai 10% kalori total
Mencapai 20% kalori total
50-60% kalori total terutama dari gandum utuh, buah, dan sayuran
25-30 g per hari (serat larut termasuk psyllium 10-25 g)
2 g per hari
Mencapai 15% kalori total
Kurang dari 200 mg per hari
Asupan energi seimbang dengan pengeluaran energi untuk mencegah kenaikan berat badan dan pengeluaran energi sebaiknya dilakukan dengan aktivitas fisik sedang sebesar 200 kalori per hari
*Karbohidrat olahan dibatasi
Sumber: National Heart, Lung, and Blood Institute: Detection, evaluation, and treatment of high blood cholesterol in adults (adult treatment panel III), final reports, 2004.

Asam lemak jenuh (Saturated Fatty Acids/SFA)
            Sumber terbanyak di Amerika Serikat adalah bahan makanan sumber hewani (daging dan produk susu), dengan risiko peningkatan kolesterol LDL pada setiap peningkatan lemak yang berasal dari sumber tersebut. The National and Nutriitoin Examination Survey (NHANES) IV menyatakan rerata asupan lemak jenuh adalah 11% dibandingkan dengan tujuan kurang dari 7%. Asam lemak jenuh akan meningkatkan kadar kolesterol LDL dengan jalan menurunkan sintesis  dan aktivitas reseptor LDL.

Asam lemak trans
            Asam lemak trans berasal dari proses hidrogenasi dalam industry makanan untuk meningkatkan masa tahan dari produk makanan dan untuk membuat margarine yang berasal dari minyak. Asupan asam lemak trans terbanyak berasal dari minyak sayur terhidrogenasi. Asam lemak jenis ini dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL (Basu et al., 2006). Asupan asam lemak trans diperkirakan tidak melebihi 1% dari kalori (1-3 g/hari) (Lichstenstein et al., 2006).

Asam lemak tidak jenuh rantai tunggal (Monounsaturated Fatty Acids/MUFA)
            Asam oleat (C18:1) adalah bentuk MUFA yang paling banyak ditemukan dalam asupan makan di Amerika Serikat. Mengganti asupan karbohidrat dengan asam oleat tidak memberikan pengaruh terhadap kadar lemak darah. Namun menggantikan asupan SFA dengan MUFA (menggantikan mentega dengan minyak zaitun) menunjukkan penurunan kadar kolesterol total, LDL, dan kadar trigliserida, sama halnya dengan PUFA. Pengaruh MUFA terhadap kadar HDL tergantung dari lemak total dalam diet. Jika asupan MUFA dan lemak total ditingkatkan, maka kadar kolesterol HDL tidak berubah atau meningkat sedikit dibandingkan dengan diet rendah lemak. Asam oleat termasuk komponen utama pada Diet Mediterrania yang memberikan efek antiinflamasi. Berikut adalah piramida Diet Mediterrania (gambar 1).

Gambar 1. Piramida makanan Diet Mediterrania

            Penelitian epidemiologi menunjukkan diet tinggi lemak pada daerah Mediterrania menunjukkan hubungan dengan rendahnya kadar kolesterol total dan menurunnya insiden penyakit jantung koroner. Sumber utama lemak dalam diet tersebut adalah minyak zaitun yang tinggi kandungan MUFA. Selain itu terdapat anggur merah yang mengandung resveratrol yang mempunyai efek peningkatan kadar oksida nitrit yang dapat menurunkan tekanan darah, termasuk juga jus anggur yang dianggap sebagai sumber kaya akan resveratrol, namun perlu penelitian lebih lanjut (Carter, 2010).

Asam Lemak Tidak Jenuh Rantai Jamak (Polyunsaturated Fatty Acid/PUFA)
            Asam lemak yang termasuk PUFA adalah asam lemak lenoleat yang memberikan pengaruh menurunkan kadar kolseterol tetapi dapat juga menurunkan kadar HDL. Asupan tinggi omega 6 dapat memberikan efek positif terhadap fungsi endothelium vascular atau menstimulasi produksi sitokin proinflamasi dengan rasio rendah antara omega 6 dan omega 3 (Basu et al, 2006; Gebauer et al, 2006). Meningkatkan asupan PUFA sebagai pengganti karbohidrat dalam diet menghasilkan penurunan kadar kolesterol LDL tetapi jika mengganti lemak jenuh dengan lemak tidak jenuh dapa memberikan efek yang efektif dalam menurunkan kadar kolesterol total.
           
Asam lemak omega 3
            Bentuk utama omega 3 adalah eicosapentaenoic acid (EPA) dan docosahexaenoic acid (DHA) yang tinggi ditemukan dalam lemak ikan, kapsul minyak ikan , dan ikan laut. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa makan ikan benunjukkan risiko penurunan penyakit kardiovaskular. Rekomendasi yang dapat disarankan untuk masyarakat luas adalah dengan mengkonsumsi ikan yang tinggi omega 3 seperti salmon, tuna, mackerel, dan sardine paling tidak dua kali per minggu (Psota et al., 2006). Untuk pasien dengn penyakit kardiovaskular dapat diberikan EPA dan DHA sebanyak 1 gram yang berasal dari suplemen (Lichtenstein et al., 2006). Pasien dengan hipertrigliseridemia memerlukan 2-4 gram EPA dan DHA per hari untuk menurunkan kadar trigliserida. Asam lemak omega 3 bekerja dengan menghambat sintesis VLDL dan apo B-100.
            Omega 3 yang berasal dari sumber nabati adalah asam alfa linolenat (alpha linolenic acid/ALA) yang memberikan efek antiinflamasi. Kadar CRP (C-reactive protein) akan menurun jika mengkonsumsi 8 gram ALA per hari (Basu et al., 2006). Asam lemak omega 3 bersifat kardioprotektif karena dapat berinteraksi degan pembekuan darah dan menekan sintesi prostaglandin. Omega 3 akan menstimulasi produksi oksida nitrit, suatu zat yang dapat menstimulasi relaksasi dari dinding pembuluh darah (vasodilatasi). Efek tidak menguntunkan adalah dengna asupan tinggi tersebut dapat menyebabkan perdarahan yang berkepanjangan, kondisi in iditemukan pada populasi Eskimo dengan asupan tinggi omega 3 dan rendahnya insiden penyakit kardiovaskular.

Lemak total
            Asupan lemak total berhubungan dengan obesitas yang dapat menjadi faktor risiko mayor aterosklerosis. Diet tinggi lemak juga dapat meningkatkan lipemia postprandial dan kilomikron remnant yang dapat meningkatkan risiko penyakti kardiovaskular. Saat lemak turun di dalam diet maka karbohidrat akan menggantikan sumber kalori yang akan mengakibatkan tingginya kadar trigliseridan dan menurunkan kadar HDL. Dengan diet rendah lemak <25% kalori total maka menyebabkan peningkatan kadar trigliserida dan menurunkan kadar HDL. Kacang merupankan suber dari MUFA, berdasarkan penelitian dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 37% dengan mengkonsumsi kacang 4 kali seminggu (Kelly dan Sabate, 2006).

Asupan Kolesterol
            Asupan tinggi kolesterol dapat meningkatkan kolesterol total dan LDL namun masih kurang jika dibandingkan dengan SFA. Asupan kolesterol yang disarnkan adalah 200 mg per hari. Jika asupan kolesterol mencapai 500 mg per hari, ternyata menunjukkan peningkatan jumlah sedikit kolesterol dalam darah. Respon terhadap asupan kolesterol juga bervariasi tiap individu, jika sangat sensitive kemungkinan adanya alel apo E-4 dan rendahnya kecepatan konversi kolesterol menjadi asam empedu yang dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL (Basu et al., 2006).

Serat
            Asupan tinggi serat terutama buah-buahan, sayuran, polong-polongan, dan gandum utuh memberikan efek penurunan kadar LDL. Serat yang memberikan efek baik adalah serat larut seperti yang terkandung dalam pectin, gum, mucilage, polisakarida alga, dan hemiselulosa. Jumlah serat yang diperlukan berbeda-beda tergantung serat yang dikonsumsi. Mekanisme penurunan serat larut adalah (1) asam empedu berikatan dengan serat sehingga menurunkan kadar kolesterol dengna menggantikan dalam pool asam empedu; dan (2) bakteri dalam kolon akan terfermentasi dan menghasilkan asamlemak rantai pendek yaitu asetat, propionate, dan butirat yang dapat menghambat sintersis kolesterol (Anderson, 2009).
            Serat tidak larut seperti selulose dan lignin, tidak memberikan efek pada kadar kolesterol. Asupan serat yang disarankan adalah 25-35 gram  perhari dengan 6-10 gram berasal dari serat larut. Kadar ini dapat dicapai dengan 5 porsi atau lebih buah dan sayuran per hari dan 6 porsi atau lebih berasal dari gandum utuh.

Antioksidan
            Antioksidan yang berpengaruh terhadap penyakit kardiovaskular adalah vitamin, E, dan beta karoten. Vitamin E adalah antioksidan yang sangat berpengaruh terhadap kadar LDL dengan jalan mencegah oksidasi PUFA di sel membrane. Efek vitamin E adalah 20-300 kali lebih baik dibandingkan antioksidan lain (Basu et al., 2006). Selain itu katekin juga memberikan efek pada vaskuler, beberapa suber lain yaitu anggur merah, minuman anggur merah, teh terutama teh hijau, coklat, dan minyak zaitu adalah faktor penting untuk pencegahan penyakit kardiovaskular (Kay et al., 2006).

Stanol dan Sterol
            Fitostanol dan fitosterol diisolasi dari minyak kedelai dan minyak pohon pinus yang dapat menghambat absorpsi kolesterol. Saat diesterifikasi dengan margarine, dengan asupan 2-3 gram perhari ternyata menurunkan kadar kolesterol sampai 20%. Untuk itu ATP III menyarankan untuk menambahkan stanol dalam diet (NCEP ATP III, 2004).

Kesimpulan
Asupan diet rendah lemak dan kolesterol dapat memberikan efek yang bermakna terhadap penyakit kardiovaskular, untuk itu dengan memasukkan komponen dalam diet sehari-hari diharapkan risiko penyakit kardiovaskular dapat diturunkan.


DAFTAR PUSTAKA

Anderson JW, et al: Health Benefit of Fiber, Nutrition Reviews 67: 188, 2009.
American Heart Association: Heart Disease and Stroke Statistics: 2010 Update At-A-Glance, Dallas, Texas, 2010, American Heart Association.
Basu A, et al: Dietary Factors that Promote or Retard Inflammation, Arterioscler Thromb Vasc Biol 26: 995, 2006.
Brindle P, et al: Accuracy and Impact of Risk Assessment in the Primary Prevention of Cardiovascular Disease: A systematic Review, Heart 92: 1752, 2006.
Carter SJ, et al: Relationship Between Mediterranean diet Score and Atherothrombotic Risk: Findings From The Third National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES-III), 1988-1994, Atherosclerosis 4: 630, 2010.
Gabeur SK, et al: w-3 Fatty Acid Dietary Recommendation and Food Sources to Archives Essentiality and Cardiovascular Benefit, Am J Clin Nutr 83: 1526s, 2006.
Kay CD, et al: Effect of Antioxodant rich Food on Vascular Reactivity: review of the clinical evidence, Curr Atheroscler Rep 8: 510, 2006.
Kelly JH, Sabate J: Nuts and Coronary Heart Disease: an Epidemiological Perspective, Br J Nurt 96: S61, 2006.
Lichtenstein AH, et al: Diet and Lifestyle Recommendation Revision 2006: A scientific statement from the American Heart Association Nutrition Committee, Circulation 114: 82, 2006
McGuire K, et al: Ability of Physical Activity to Predict Cardiovascular Disease Beyond Commonly Evaluated Cardiometabolic Risk Factors, Am J Cardiol 104: 1522, 2009.
Mehta P, Griendling K: Angiotensin II Signaling: Physiological and Pathological Effects in the Cardiovascular System, Am J Physiol Cell Physiol 292: C82, 2007
Psota TL, et al: dietary w-3 Fatty Acid Intake and Cardiovascular Risk. Am J Cardiol 98: 3, 2006
Thom T, et al: Heart Disease and Stroke Statistics-2006 Update From the American Heart Association Statistics Committe, Circulation 113: e85, 2006.
[read more..]

Tuesday, December 10, 2013

Defenisi Piromania

0 komentar
Defenisi Piromania adalah sebuah gangguan pengendalian impuls yang melibatkan adanya dorongan yang tak dapat ditolak untuk melakukan pembakaran di mana orang itu merasakan ketegangan atau rangsangan sebelum melakukan pembakaran dan ada perasaan puas atau lega.2

Ciri penting dari piromania adalah menciptakan kebakaran yang bertujuan dan disengaja lebih dari sekali, adanya ketegangan atau perangsangan afektif sebelum menciptakan kebakaran, pesona, minat, rasa ingin tahu, atau daya tarik terhadap kebakaran dan aktivitas dan peralatan yang berhubungan dengan pemadam kebakaran, dan kesenangan, kepuasan, atau peredaan jika menciptakan kebakaran atau menyaksikan atau berperan serta dalam peristiwa sesudahnya.1

Epidemiologi
Piromania merupakan gangguan yang jarang, bahkan diantara kelompok pembakar, hanya dua sampai tiga persen yang dianggap piromania. Sama dengan judi patologis,piromania umumnya diderita oleh laki-laki dimana sebagian besar bakar patologis mulai ditunjukkan pertama kali pada masa kanak-kanak. Dalam banyak contoh, gairah seksual telah dilaporkan berperan dalam perilaku pembakaran kompulsif yang menunjukkan adanya dalam beberapa kasus piromania sebenarnya bisa dianggap sebagai perilaku fetisistik parafilik.Namun, penelitian sistematis telah dilakukan untuk mengkonfirmasi gagasan ini.2

Gangguan ini ditemukan lebih sering pada laki-laki dibandingkan wanita, dan orang yang menciptakan kebakaran lebih mungkin agak terbelakang dibandingkan populasi umum.Beberapa penelitian yang dilakukan menyatakan bahwa adanya peningkatan insidensi penyalahgunaan alkohol pada orang yang menciptakan kebakaran. Orang dengan piromania biasanya memiliki riwayat sifat antisosial, seperti membolos, melarikan diri dari rumah, dan kenakalan.1

Tidak ada informasi yang tersedia untuk prevalensi piromania karena begitu sedikitnya orang yang didiagnosis dengan gangguan ini, penelitian tentang etiologi dan penanganannya nyaris tidak ada. Diantara anak-anak yang dibawa ke klinik psikiatrik rawat jalan, kira-kira 20 persen memiliki riwayat membuat api sewaktu-waktu.2,4

Etiologi
Sigmund Freud memandang api sebagai simbol seksualitas dimana kehangatan yangdipancarkan oleh api menimbulkan sensasi yang sama yang menyertai keadaan rangsangan seksual, dan bentuk serta pergerakan nyala api menyatakan suatu falus dalam aktivitas.Psikoanalisis lain mengaitkan piromania dengan keinginan hebat yang abnormal akan kekuatan dan gengsi sosial.

Beberapa pasien piromania adalah sukarelawan pemadam api yang menciptakan kebakaran untuk membuktikan bahwa dirinya adaalah pemberani, untuk memaksa petugas pemadam api lainnya bertindak, atau untuk menunjukkan kekuatan mereka untuk memadamkan api. Tindakan pembakaran rumah merupakan suatu cara untuk mengeluarkan kemarahan yang bertumpuk terhadap frustasi yang disebabkan oleh rasa inferioritas sosial,fisik, atau seksual. Sejumlah penelitian mencatat bahwa ayah pasien dengan piromania tidak tinggal di rumah. Hal ini menjelaskan mengenai pembuatan api mencerminkan keinginan agar ayah yang tidak ada kembali ke rumah sebagai penyelamat, menyingkirkan api, dan menyelamatkan si anak dari posisinya yang sulit.
Pencipta kebakaran wanita, di samping jauh lebih sedikit dibandingkan laki-laki, tidak memulai menyalakan api dengan menggunakan pemantik api dalam tindakannya.Promiskuitas tanpa kenikmatan dan pencurian kecil-kecilan, seringkali menyerupai kleptomania, sering ditemukan merupakan kecenderungan pada pencipta kebakaran wanita.

Secara biologis, rendahnya kadar 5-HIAA dan 3-metoksi-4-hidrosifenilglikol (MHPG) yang signifikan di dalam cairan serebrospinal telah ditemukan pada pembuat api,yang memungkinkan adanya keterlibatan serotonergik atau adrenergik. Adanya hipoglikemiareaktif, berdasarkan kadar gula darah pada uji toleransi glukosa telah dikemukakan sebagaipenyebab piromania.1,4 

Diagnosis dan Gambaran Klinis
Orang dengan piromania biasanya secara teratur mengamati kebakaran di lingkungan sekitarnya, sering membuat atau mematikan alarm palsu, dan menunjukkan minat dalam perlengkapan petugas pemadam api. Rasa ingin tahu mereka sangat menonjol, tetapi mereka tidak menunjukkan rasa penyesalan dan tidak memperdulikan nyawa atau barang milik orang lain.Orang dengan piromania mungkin mendapatkan kepuasan dari mengakibatkan kerusakan, dan seringkali mereka meninggalkan petunjuk yang jelas. Ciri penyerta yang sering adalah intoksikasi alkohol, disfungsi sesksual, tingkat intelegensia (I.Q.) yang lebih rendah dari rata-rata, frustasi pribadi yang kronik, dan kebencian atau kemarahan terhadap tokoh yang berkuasa. Pada beberapa kasus, pencipta kebakaran menjadi terangsang secara seksual dengan api. Jika menciptakan kebakaran terjadi dalam gangguan konduksi dan gangguan kepribadian antisosial, ini adalah suatu tindakan yang disengaja, bukannya suatu kegagalan untuk menahan impuls.1,4

Kriteria Diagnostik DSM-IV-TR Piromania
A. Menciptakan kebakaran yang disengaja dan bertujuan pada lebih dari satu kejadian.

B. Ketegangan atau rangsangan afektif sebelum tindakan.

C. Terpesona kepada, tertarik kepada, ingin tahu tentang, atau terpikat kepada api dan konteks situasionalnya (misalnya, parafernalia, pemakaiaannya, akibatnya).

D. Rasa senang, puas, atau reda jika menimbulkan kebakaran, atau jika menyaksikan atau berperan serta dalam kejadiannya.

E. Menciptakan kebakaran bukan dilakukan untuk tujuan moneter, sebagai ekspresi ideology sosiopolitik, untuk mengekspresikan kemarahan atau balas dendam, untuk memperbaiki lingkungan hidupnya, atau sebagai akibat gangguan pertimbangan (misalnya, pada demensia, retardasi mental, intoksikasi zat).

F. Menciptakan kebakaran tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan konduksi,episode manik, atau gangguan kepribadian antisosial.

Diagnosis Banding
Sulit untuk membedakan antara piromania dan ketertarikan banyak anak untuk bermain korek api, pemantik api, dan api sebagai bagian dari investigasi normalnya terhadap lingkungan. Piromania juga harus dipisahkan dengan tindakan sabotase pembakaran yangdilakukan oleh pengacau politik yang bertentangan atau oleh pelaku bayaran yang dinamakan arsonist di dalam sistem hukum.

Bakar patologis (piromania) harus dibedakan dari:
  • sengaja melakukan pembakaran tanpa gangguan jiwa yang nyata
  • pembakaran oleh anak muda dengan gangguan tingkah laku, dimana didapatkangangguan perilaku lain seperti mencuri, agresi, atau membolos sekolah.
  • pembakaran oleh orang dewasa dengan gangguan kepribadian dissosial, dimanadidapatkan gangguan perilaku sosial lain yang menetap seperti agresi, atau indikasi lainperihal kurangnya peduli terhadap minat dan perasaan orang lain.
  • pembakaran pada skizofrenia, dimana kebakaran adalah khas ditimbulkan sebagai respons terhadap ide-ide waham atau perintah dari suara halusinasi.
  • pembakaran pada gangguan mental organik, dimana kebakaran ditimbulkan karena kecelakaan akibat adanya kebingungan (confusion), kurangnya daya ingat, atau kurangnya kesadaran akan konsekuensi dari tindakannya, atau campuran dari faktor-faktor tersebut.3
Bila pembuatan api terdapat di dalam gangguan tingkah laku dan gangguan kepribadian antisosial, perilaku ini merupakan suatu tindakan yang disengaja, bukan karena kegagalan untuk menolak suatu impuls. Pasien dengan skizofrenia atau mania dapat membuat api sebagai respons terhadap waham atau halusinasi. Pasien dengan disfungsi otak sepert idemensia, retardasi mental, atau intoksikasi zat dapat membuat api karena kegagalan untuk memahami akibat dari perbuatannya.4

Penatalaksanaan
Sampai saat ini masih sedikit tulisan mengenai terapi piromania.Menerapi orang dengan piromania sulit dilakukan karena tidak adanya motivasi pada diri mereka. Pendekatan yang tepat saat ini adalah dengan menggunakan sejumlah modalitas, termasuk pendekatan perilaku. Karena sifat piromania yang berulang, setiap program terapi harus mencakup pengawasan pasien untuk mencegah episode berulang perilaku pembuat api. Penahanan mungkin merupakan metode satu-satunya yang ada untuk mencegah rekurensi.

Penanganannya pada umumnya bersifat kognitif behavioral dan melibatkan tindakan membantu orang itu ntuk mengidentifikasi tanda-tanda yang mencetuskan dorongan itu dan mengajarkan strategi coping untuk menolak godaan menyulut kebakaran.2

Menciptakan kebakaran pada anak-anak juga harus diobati secara serius. Intervensi yang efektif harus diambil jika mungkin tetapi sebagai tindakan terapeutik dan preventif,bukan sebagai hukuman. Di dalam kasus anak dan remaja, terapi piromania atau perilaku membuat api harus mencakup terapi keluarga.1,4

Intervensi psikologis yang paling umum digunakan untuk piromania bergantung pada prinsip-prinsip perilaku. Teknik yang paling terkenal ini adalah grafik, awalnya dikembangkan untuk mengobati anak-anak yang terlibat dalam pembakaran. Dalam mengikuti metode ini, dokter dan klien membangun grafik yang sesuai dengan sejarah individu perilaku, perasaan, dan pengalaman berhubungan dengan pembakaran. Agaknya, presentasi visual dari sejarah kronologis perilaku ini memungkinkan klien untuk menyadari hubungan sebab-akibat, dan untuk menjadi selaras dengan sinyal bahwa dorongan untuk melakukan pembakaran adalah tentang untuk menyerang. Individu dapat belajar untuk menggantikan cara-cara yang lebih tepat untuk melepaskan ketegangan dalam menanggapi sinyal. Teknik ini telah efektif dalam membantu banyak individu untuk berhenti membakar,tetapi hanya komponen awal dari terapi yang kemudian harus fokus pada pengembangan wawasan yang lebih dalam perilaku berbahaya.

Dalam studi kasus saat ini, obat psikotropika seperti olanzapin dan natrium valproat dikaitkan dengan remisi dari psikosis yang disertai dengan perbaikan yang signifikan dalam kognisi dan fungsi adaptif. Secara khusus, pasien menunjukkan kinerja yang ditingkatkan pada tindakan perhatian dan kontrol eksekutif, bermanifestasi secara klinis sebagai pengaturan perilaku. Pada awalnya data penelitian menunjukkan bahwa antipsikotik atipikal mungkin memiliki peran dalam pengelolaan gangguan kontrol impuls dan membutuhkan studi lebih lanjut.
[read more..]
 
SEO Stats powered by MyPagerank.Net
My Ping in TotalPing.com