Thursday, May 23, 2013

PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG MANIS


PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG MANIS (Zea mays Saccharata Stury) YANG DIPUPUK  BEBERAPA   MACAM PUPUK ORGANIK PADA SAAT YANG BERBEDA TERHADAP ANORGANIK

(Sweet Corn (Zea mays Saccharata Stury) Growth and Yield, In Several Kinds of Organic Fertilizers in Different Time Aplications Against Anorganic Fertilizer)

Muhammad Martajaya
Mahasiswa Program Pascasarjana, Unibraw

Lily Agustina  dan Syekhfani

Dosen Fakultas Pertanian, Unibraw

 ABSTRAK

              Penelitian ini bertujuan untuk (1) membandingkan pertumbuhan dan hasil jagung manis yang dipupuk berbagai macam pupuk organik pada saat yang berbeda terhadap pupuk anorganik, (2) mendapatkan hasil yang terbaik pada macam dan saat pemberian pupuk organik dan (3) mengetahui residu pupuk organik dan anorganik terhadap ameliorasi kesuburan tanah. Penelitian dilakukan di Kelurahan Tlogomas, Malang pada bulan September – Desember 2002. Percobaaan  menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tujuh perlakuan yang diulang empat kali, yaitu GO1=Glyricidia sepium diberikan seminggu sebelum tanam, GO2=Glyricidia sepium diberikan dua minggu sebelum tanam, TO1=Tithonia diversifolia diberikan seminggu sebelum tanam, TO2=Tithonia diversifolia diberikan dua minggu sebelum tanam, KO1= Kotoran sapi diberikan seminggu sebelum tanam,        KO2=  Kotoran sapi diberikan  dua minggu sebelum tanam, dan A= pupuk anorganik, dengan dosis masing-masing untuk Glyricidia sepium  7 ton ha-1, Tithonia diversifolia 6 ton ha-1,  pupuk kotoran sapi 25 ton ha-1, dan pupuk anorganik  (300 kg ha-1 Urea, 150 kg ha-1 SP-36, dan 50 kg ha-1 KCl).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan hasil jagung manis yang dipupuk anorganik tidak berbeda nyata dengan pupuk organik  (G.sepium, T.diversifolia, dan kotoran  sapi).  Sedangkan masing-masing perlakuan didapatkan hasil bobot segar tongkol  secara berturut-turut adalah TO1 (8,5 ton ha-1), KO1 (8,2 ton ha-1), A (8,1 ton ha-1), TO2 (7,0  ton ha-1), KO2 (6,8 ton ha-1), GO2 (6,0 ton ha-1), dan GO1 (5.5 ton ha-1). Pupuk Organik memberikan simpanan terhadap ameliorasi kesuburan tanah yang lebih tinggi dibandinglan pupuk anorganik, sedangkan diantara pupuk organik, G. sepium  meskipun  hasilnya rendah, tetapi memberikan sumbangan residu pada tanah yang tertinggi.  Selain hasil tongkol segar, nilai ekonomis budidaya jagung manis juga diperoleh dari brangkasan  segar sebagai pakan ternak,  hasil tertinggi berturut-turut diperoleh pada perlakuan Tithonia diverisifolia, pupuk kotoran sapi  yang diberikan seminggu sebelum tanam, serta pupuk anorganik masing-masing sebesar 11,4, 11,2, dan 10,0 ton ha-1.

 

ABSTRACT


The aims of this research were: (1) to compare  growth and yield of sweet corn  that is planted at kinds of organic fertilizers wich applied in different times against to inorganic fertilizer, (2)  to obtain the best result at kind of organic fertilizer wich applied in different time, and (3) to know residual to the soil after harvesting from organic and anorganic fertilizer. The research have done at Tlogomas village, Malang, on September until December 2002.
The  experimental method  of Completely Randomized  Block Design (CRBD) comprising of seven treatments and  four replication each, those are :  Glyricidia sepium applied in  a week before planting  (GO1), Glyricidia sepium applied in  two weeks before planting ( GO2), Tithonia diversifolia applied in a week before planting ( TO1), Tithonia diversifolia applied in two weeks before planting (TO2),  cow manure applied a week before planting (KO1), cow manure applied in  two weeks before planting (KO2), and inorganic fertilizer (A). The  dosage used for  Glyricidia  sepium is of 7 tons ha-1, Tithonia diversifolia 6 tons ha-1, cow manure 25 tons ha-1, and the inorganic fertilizer  as according to recommendation (300 kg ha-1 Urea, 150 kg ha-1 SP-36, and 50 kg ha-1 KCl).
The results of the study indicate that there is no difference in growth and  yield of sweet  corn between inorganic with organic fertilizer ( G.sepium, T.diversifolia., and  cow manure).  While each of seven  treatments  yielding fresh weight of cobs  as follows, from the highest :  T.diverifolia,  applied in a week before planting (8.5 Mg ha-1), cow manure applied in a week before planting (8.2 Mg ha-1), inorganic fertilizer (8.1 Mg ha-1), T. diversifolia.applied two weeks before planting (7.0 Mg ha-1),  cow manure applied two weeks before planting (6.8 Mg ha-1), G.sepium applied two weeks before planting (6.0 Mg ha-1), and  G.sepium applied a week before planting (5.5 Mg ha-1).  G. sepium ,  though the  corn yield is lower, but have high in contribution of residual soil amelioration. Besides yielding fresh cobs, economic value in sweet  corn cultivation is obtained from total fresh weight production that can be used  as livestock feed.  The highest yield as follows  T. diversifolia and cow manure  a week before  planting applied, and from the inorganic fertilizer as  11.4, 11.2, and 10.0 Mg ha-1 respectively.

Key words : Tithonia diversifolia, Glyricidia sepium, cow manure, sweet corn


PENDAHULUAN


Jagung manis merupakan  komoditi sayuran berupa tongkol yang dibutuhkan segera setelah panen, agar kandungan gulanya tidak menurun. Rasa yang manis dan kandungan gizi yang tinggi, menyebabkan permintaan terhadap komoditi ini cukup tinggi. Hal ini dapat kita lihat dari permintaan hotel dan restoran yang semakin meningkat, dan juga munculnya swalayan-swalayan yang selalu membutuhkan dalam jumlah banyak, demikian pula kebutuhan untuk eksporpun terus meningkat. Data dari Biro Pusat Statistik (1990) menunjukkan bahwa tahun 1989 ekspor jagung manis 2 154 800 kg, dan  tahun 1990 meningkat menjadi 3 094 417 kg. Hasil jagung manis di Indonesia juga masih tergolong rendah yaitu 3 ton/ha tongkol segar, dibandingkan dengan hasil jagung manis di lembah Australia yang dapat mencapai 7 – 10 ton/ha (Lubach, 1980).  Salah satu usaha untuk meningkatkan produksi tanaman dapat dilakukan dengan usaha intensifikasi,  antara lain  melalui pemupukan.
Pemupukan secara kimia sintetis merupakan jalan termudah dan tercepat dalam menangani masalah kahat hara, karena mudah terurai dan langsung dapat diserap tanaman, sehingga pertumbuhan menjadi lebih subur. Hal ini membuat petani  ketergantungan terhadap pupuk anorganik sangat besar. Namun demikian Hairiah et al., (2000) menyatakan bahwa pemupukan secara kimia sintetis mempunyai beberapa kelemahan, yaitu harganya mahal, tidak dapat menyelesaikan masalah kerusakan fisik dan biologi tanah,   serta  pemupukan yang tidak tepat dan berlebihan menyebabkan pencemaran lingkungan.
Dengan semakin berkembangnya kesadaran manusia terhadap kelemahan penggunaan pupuk kimia sintetis yang tidak tepat dan berlebihan, dan sebagian besar  hasil pertanian diangkut keluar, tanpa adanya usaha pengembalian sebagian sisa panen ke dalam  tanah, maka kandungan bahan organik semakin rendah, terutama pada tanah-tanah pertanian yang diusakan intensif, akibatnya terjadi penurunan kesuburan tanah.. Syekhfani (1993) menyatakan pertanian secara konvensional berusaha memacu produksi sebanyak-banyaknya, tanpa ada usaha pengembalian sisa panen kembali ke tanah, sehingga kesuburan tanah jadi rusak dan kurus. Untuk mengembalikan kesuburan ini membutuhkan bera dalam jangka waktu yang lama dan input yang tidak sedikit. Karama et al.,(1994) mengemukakan, kandungan bahan organik (C-organik) lahan sawah di Jawa sudah sangat  rendah yatu kurang dari satu persen dari  60 persen dari areal yang ada. Sedangkan kondisi tanah yang optimal untuk pertumbuhan tanaman diperlukan adanya bahan organik tanah dilapisan atas paling sedikit 2% (Young, 1989).
 Bahan organik dapat berperan menyimpan dan melepaskan unsur hara bagi tanaman. Handayanto (1996) menyatakan bahwa dekomposisi bahan organik mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung terhadap kesuburan tanah. Pengaruh langsung disebabkan karena pelepasan unsur hara melalui mineralisasi, sedangkan pengaruh tidak langsung adalah menyebabkan akumulasi bahan organik tanah, yang pada gilirannya juga akan meningkatkan penyediaan unsur hara tanaman. Salah satu upaya perbaikan bahan organik tanah yang cukup  murah adalah dengan mengembalikan bahan organik ke dalam tanah, baik berupa perombakan sisa tanaman atau hewan oleh mikroorganisme.
Hasil percobaan Naidu (1981), bahwa penggunaan pupuk organik, baik yang berasal dari pupuk kandang atau pupuk hijau memberikan hasil panen padi yang sama dengan pupuk anorganik. Laporan ICRAF (1997)  pupuk hijau Tithonia dan Senna dapat menyumbangkan sejumlah unsur hara pada tanaman jagung di Kenya, yaitu tanaman jagung yang dipupuk Tithonia dan Senna, masing-masing  5 ton ha-1 mampu memberikan sumbangan 162 kg ha-1 N, dan  14 kg ha-1 P untuk Tithonia, sedangakan Senna menghasilkan 61 kg ha-1 N, dan 2 kg ha-1 P. Purwanto (1997), menambahkan pupuk G.sepium dosis 10 ton ha-1 pada tanah Ultisol Lampung pada minggu ke 3 mampu meningkatkan konsentarsi P sebesar 14 %, dan minggu ke 9 meningkat 34 %. Selanjutnya Jama et al., (1999) menyatakan bahwa  Thitonia mempunyai laju dekomposisi yang cepat. Pelepasan N terjadi sekitar satu minggu dan pepelasan P dari biomassa tanaman terjadi sekitar dua minggu  setelah dimasukkan ke dalam tanah.
Pemberian pupuk organik ke dalam tanah, mempunyai beberapa kendala yang harus diperhatikan dalam meningkatkan produksi suatu tanaman, selain dipengaruhi oleh   jumlah, kualitas, cara pemberian, dan keadaan lingkungan, keberhasilannya juga dipengaruhi oleh waktu/saat pemberian, karena berhubungan dengan tingkat sinkronisasinya (Handayanto, 1999).
Sinkronisasi adalah matching menurut waktu, yaitu ketersediaan unsur hara dan kebutuhan tanaman akan unsur hara. Oleh karena itu pemberian pupuk organik selain harus diberikan dalam jumlah yang besar, karena kandungan haranya yang rendah, juga waktu pemberian harus diberikan sebelum tanam, agar pupuk organik tersebut mengalami proses dekomposisi dan mineralisasi sehingga tersedia bagi tanaman. Penentuan lamanya waktu yang diberikan  harus melihat kualitas dari pupuk organik, yaitu berkualitas tinggi, sedang ataupun rendah, dimana kualitas yang tinggi, segera mengalami mineralisasi setelah diberikan kedalam tanah. Saat pemberian ini juga harus melihat siklus hidup tanaman yang akan dipupuk, sehingga sinkronisasi ini dapat tercapai. Sedangkan pupuk anorganik, karena proses pelepasan haranya yang cepat, maka pemberiannya dengan cara terpisah pada saat tanaman berumur tertentu, agar serapan hara lebih efisien.
Tidak efisiennya pemberian pupuk organik, karena  rendahnya tingkat sinkronisasi antara waktu pelepasan unsur hara dari pupuk organik dengan kebutuhan  tanaman akan unsur hara, dan akibatnya produksi tanaman yang dihasilkan masih kurang optimal.  Sinkronisasi ditentukan oleh kecepatan dekomposisi dan mineralisasi pupuk organik, berupa kualitas sisa tanaman/pupuk organik yang digunakan Handayanto (1999). Hairiah et al (2000), menyatakan komponen kualitas bahan organik yang penting adalah rasio C/N, kandungan lignin dan polifenolnya. bahan organik yang telah siap diberikan sebagai pupuk  bila  rasio C:N antara 10-12, lignin < 15 % dan polifenol < 4 %.
Berdasarkan hal tersebut diatas, penggunaan pupuk organik terhadap penyediaan hara dan perbaikan  kesuburan tanah dalam mempertahankan produktifitas tanah terhadap produksi tanaman, maka telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk membandingkan pertumbuhan dan hasil jagung manis yng dipupuk berbagai macam pupuk organik pada saat yang berbeda terhadap pupuk anorganik,untuk mendapatkan hasil yang terbaik pada macam dan saat pemberian pupuk organik, serta untuk melihat residu pupuk organik dan anorganik terhadap ameliorasi kesuburan tanah.


METODE  PENELITIAN

Penelitian telah dilaksanakan pada bulan September sampai Nopember 2002,       di Kelurahan Tlogomas Kecamatan Lowokwaru Kodya Malang, dengan ketinggian tempat lebih kurang 550 m di atas permukaan laut, dan suhu harian 20 – 30 oC, dengan jenis tanah Alluvial, dengan kandungan C-organik 1,25%.
                Bahan yang diperlukan dalam penelitian meliputi : Benih  super  sweet corn dari PT BISI Jawa Timur, kotoran sapi, Tithonia diversifolia, Glyricidia sepium, Urea,      SP-36, dan KCl. 
                Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan tujuh perlakuan yang diulang empat kali, yaitu : G.sepium diberikan seminggu sebelum tanam (GO1),  G.sepium diberikan dua minggu sebelum tanam (GO2), T.diverisfolia diberikan seminggu sebelum tanam  (TO1), T. diversifolia diberikan dua minggu sebelum tanam (TO2), pupuk kotoran sapi diberikan seminggu sebelum tanam (KO1), pupuk kototran sapi diberikan dua minggu sebelum tanam  (KO2), dan  pupuk anorganik (A).
                Pengolahan tanah dilakukan dua minggu sebelum tanam dengan cara mencangkul sedalam lapis olah, sehingga tanah menjadi gembur. Kemudian dibuat petak dengan ukuran 2.8 m  x  6.0  m, tinggi petak 50 cm, jarak antar petak 50 cm, dan jarak antar blok 80 cm.
Pemberian pupuk organik disesuaikan dengan perlakuan, pemupukan dilakukan dengan cara sebar, dan merata tiap bedengan, kemudian dibenamkan dalam tanah. Pupuk hijau sebelum dibenamkan dipotong-potong dalam bentuk segar dengan ukuran lk 2-3 Cm, sedangkan kotoran sapi diberikan dalam bentuk kompos.  Dosis masing-masing pupuk organik ditentukan berdasarkan rekomendasi dosis  N/ha pupuk urea untuk jagung manis super sweet corn dari PT BISI dan kandungan N tanah, sehinga didapatkan dosis untuk Glyricidia sepium 7 ton ha-1, Tithonia diversifolia 6 ton ha-1, dan pupuk kotoran sapi 25 ton ha-1.
 Sedangkan pemberian pupuk anorganik diberikan sesuai dengan rekomendasi pemupukan tanaman jagung manis, yaitu 300 kg urea/ha, 100 kg SP-36, dan 50 kg KCl, pupuk urea diberikan tiga kali, yaitu 1/3 bagian  bersamaan dengan SP-36 dan KCl pada saat tanam, 1/3 bagian diberikan pada umur 21 hari setelah tanam, dan 1/3 bagian lagi diberikan pada umur 35 hari setelah tanam.
                Pemeliharaan meliputi penyiraman, penyiangan, pembubunan, dan pemberantasan hama dan penyakit. Penyiraman dilakukan dengan di leb dengan menggunakan air irigasi, dan  menggunakan gembor pagi dan sore hari bila air irigasi tidak ada, kecuali turun hujan. Penyiangan, dan  pembubunan, dilakukan sesuai dengan kondisi yang ada dilapangan, sedangkan pemberantasan hama penyakit digunakan pestisida nabati, yaitu  serbuk biji mimba dengan dosis 1 kg/10 liter air,  terlebih dahulu direndam selama 24 jam kemudian disaring.  Penyemprotan dilakukan  selang 7 hari atau sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. Selain itu untuk mengatasi pemberantasan hama tikus, sekeliling areal dipagari dengan plastik tebal.
Untuk mengetahui pengaruh perlakuan, maka dilakukan pengukuran terhadap beberapa komponen sifat tanaman. Tanaman  yang diamati adalah semua tanaman yang terdapat dalam petak, kecuali tanaman pinggir. Pengamatan meliputi peubah-peubah sebagai berikut : luas daun, bobot kering total tanaman, indeks Luas Daun (ILD), Laju Pertumbuhan Pertanaman (LPP), yang diamati setiap dua minggu sekali setelah tanam sampai umur 56 hari setelah tanam, dan bobot segar tongkol persampel tanaman diamati saat penen. Selain itu dilakukan analisa tanah, tanaman, dan pupuk organik sebelum dan sesudah panen, sebagai penunjang peubah utama. Analisa tanah dan tanaman dilaksanakan di laboratorium kimia, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang, meliputi pH tanah,  C-organik tanah, C-organik pupuk organik, N, P, dan K tanah, KTK tanah, dan N, P, dan K tanaman serta kandungan lignin dan polifenol pupuk organik.
Ragam data dianalisis dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Apabila perlakuan menunjukkan adanya pengaruh , diuji lanjut dengan Uji Jarak Nyata Duncan S untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Sedangkan untuk melihat perbedaan antara kelompok perlakuan anorganik vs organik, antar pupuk organik, dan antar saat pemberian pupuk organik dianalisis dengan perbandingan kontras ortogonal (Sastrosupadi, 1999).

�r u ����it-text-stroke-width: 0px; ">4.        Perlu dilakukan penelitian yang sama untuk melihat kadar gula reduksi dan lamanya terjadi perubahan gula menjadi pati setelah panen, karena mutu hasil jagung manis ditentukan dari lamanya perubahan kadar gula reduksi tersebut.

Share :

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan masukkan saran, komentar saudara, dengan ikhlas saya akan meresponnya.

 

Blog Info

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
My Ping in TotalPing.com

Visitor Info