Friday, September 23, 2016

TEORI MOTIVASI MENURUT PARA AHLI

0 komentar

Teori-Teori Motivasi Menurut Para Ahli

Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).

Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya.. Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang. Dalam konteks studi psikologi, Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya: 
(1) durasi kegiatan; 
(2) frekuensi kegiatan; 
(3) persistensi pada kegiatan; 
(4) ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; 
(5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; 
(6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan; 
(7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan; 
(8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan.

Untuk memahami tentang motivasi, kita akan bertemu dengan beberapa teori tentang motivasi, antara lain : 

(1) teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan); 
(2) teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi); 
(3) teori Clyton Alderfer (Teori ERG); 
(4) teori Herzberg (Teori Dua Faktor); 
(5) teori Keadilan; 
(6) teori penetapan tujuan; 
(7) teori Victor H. Vroom (teori Harapan); 
(8) teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku; dan 
(9) teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi. 
(disarikan dari berbagai sumber : Winardi, 2001:69-93; Sondang P. Siagian, 286-294; Indriyo Gitosudarmo dan Agus Mulyono,183-190, Fred Luthan,140-167). 

1. Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu : 
  1. kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat
  2. kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual; 
  3. kebutuhan akan kasih sayang (love needs); 
  4. kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan 
  5. aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.

Menarik pula untuk dicatat bahwa dengan makin banyaknya organisasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan makin mendalamnya pemahaman tentang unsur manusia dalam kehidupan organisasional, teori “klasik” Maslow semakin dipergunakan, bahkan dikatakan mengalami “koreksi”. Penyempurnaan atau “koreksi” tersebut terutama diarahkan pada konsep “hierarki kebutuhan “ yang dikemukakan oleh Maslow. Istilah “hierarki” dapat diartikan sebagai tingkatan. Atau secara analogi berarti anak tangga. Logikanya ialah bahwa menaiki suatu tangga berarti dimulai dengan anak tangga yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Jika konsep tersebut diaplikasikan pada pemuasan kebutuhan manusia, berarti seseorang tidak akan berusaha memuaskan kebutuhan tingkat kedua,- dalam hal ini keamanan- sebelum kebutuhan tingkat pertama yaitu sandang, pangan, dan papan terpenuhi; yang ketiga tidak akan diusahakan pemuasan sebelum seseorang merasa aman, demikian pula seterusnya.

Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai kebutuhan manusia makin mendalam penyempurnaan dan “koreksi” dirasakan bukan hanya tepat, akan tetapi juga memang diperlukan karena pengalaman menunjukkan bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan manusia berlangsung secara simultan. Artinya, sambil memuaskan kebutuhan fisik, seseorang pada waktu yang bersamaan ingin menikmati rasa aman, merasa dihargai, memerlukan teman serta ingin berkembang.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila berbagai kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian dan bukan sebagai hierarki. Dalam hubungan ini, perlu ditekankan bahwa :
Kebutuhan yang satu saat sudah terpenuhi sangat mungkin akan timbul lagi di waktu yang akan datang;
Pemuasaan berbagai kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan fisik, bisa bergeser dari pendekatan kuantitatif menjadi pendekatan kualitatif dalam pemuasannya.
Berbagai kebutuhan tersebut tidak akan mencapai “titik jenuh” dalam arti tibanya suatu kondisi dalam mana seseorang tidak lagi dapat berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu.
Kendati pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan ini tampak lebih bersifat teoritis, namun telah memberikan fundasi dan mengilhami bagi pengembangan teori-teori motivasi yang berorientasi pada kebutuhan berikutnya yang lebih bersifat aplikatif.

2. Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)
Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement(N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan : “Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.”

Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu : (1) sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat; (2) menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya; dan (3) menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah. 

3. Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG)
Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG” . Akronim “ERG” dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf pertama dari tiga istilah yaitu : E = Existence (kebutuhan akan eksistensi), R = Relatedness (kebutuhan untuk berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth (kebutuhan akan pertumbuhan)

Jika makna tiga istilah tersebut didalami akan tampak dua hal penting. Pertama, secara konseptual terdapat persamaan antara teori atau model yang dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer. Karena “Existence” dapat dikatakan identik dengan hierarki pertama dan kedua dalam teori Maslow; “ Relatedness” senada dengan hierarki kebutuhan ketiga dan keempat menurut konsep Maslow dan “Growth” mengandung makna sama dengan “self actualization” menurut Maslow. Kedua, teori Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu diusahakan pemuasannya secara serentak. Apabila teori Alderfer disimak lebih lanjut akan tampak bahwa :
Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk memuaskannya;
Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi” semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan;
Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar.
Tampaknya pandangan ini didasarkan kepada sifat pragmatisme oleh manusia. Artinya, karena menyadari keterbatasannya, seseorang dapat menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya dengan antara lain memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin dicapainya.

4. Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)
Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari motivasi, yaitufaktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”.

Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.

Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku.

Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik 

5. Teori Keadilan
Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya, apabila seorang pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai, dua kemungkinan dapat terjadi, yaitu :
Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang lebih besar, atau
Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.

Dalam menumbuhkan persepsi tertentu, seorang pegawai biasanya menggunakan empat hal sebagai pembanding, yaitu :
Harapannya tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak diterima berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti pendidikan, keterampilan, sifat pekerjaan dan pengalamannya;
Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang kualifikasi dan sifat pekerjaannnya relatif sama dengan yang bersangkutan sendiri;
Imbalan yang diterima oleh pegawai lain di organisasi lain di kawasan yang sama serta melakukan kegiatan sejenis;
Peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai jumlah dan jenis imbalan yang merupakan hak para pegawai

Pemeliharaan hubungan dengan pegawai dalam kaitan ini berarti bahwa para pejabat dan petugas di bagian kepegawaian harus selalu waspada jangan sampai persepsi ketidakadilan timbul, apalagi meluas di kalangan para pegawai. Apabila sampai terjadi maka akan timbul berbagai dampak negatif bagi organisasi, seperti ketidakpuasan, tingkat kemangkiran yang tinggi, sering terjadinya kecelakaan dalam penyelesaian tugas, seringnya para pegawai berbuat kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan masing-masing, pemogokan atau bahkan perpindahan pegawai ke organisasi lain.

6. Teori penetapan tujuan (goal setting theory) 
Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni : (a) tujuan-tujuan mengarahkan perhatian; (b) tujuan-tujuan mengatur upaya; (c) tujuan-tujuan meningkatkan persistensi; dan (d) tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan. Bagan berikut ini menyajikan tentang model instruktif tentang penetapan tujuan. 
7. Teori Victor H. Vroom (Teori Harapan ) 
Victor H. Vroom, dalam bukunya yang berjudul “Work And Motivation” mengetengahkan suatu teori yang disebutnya sebagai “ Teori Harapan”. Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya, apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya, yang bersangkutan akan berupaya mendapatkannya.

Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah.

Di kalangan ilmuwan dan para praktisi manajemen sumber daya manusia teori harapan ini mempunyai daya tarik tersendiri karena penekanan tentang pentingnya bagian kepegawaian membantu para pegawai dalam menentukan hal-hal yang diinginkannya serta menunjukkan cara-cara yang paling tepat untuk mewujudkan keinginannnya itu. Penekanan ini dianggap penting karena pengalaman menunjukkan bahwa para pegawai tidak selalu mengetahui secara pasti apa yang diinginkannya, apalagi cara untuk memperolehnya. 

8. Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku
Berbagai teori atau model motivasi yang telah dibahas di muka dapat digolongkan sebagai model kognitif motivasi karena didasarkan pada kebutuhan seseorang berdasarkan persepsi orang yang bersangkutan berarti sifatnya sangat subyektif. Perilakunya pun ditentukan oleh persepsi tersebut.

Padahal dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui bahwa kehendak seseorang ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi ekstrernal dari perilaku dan tindakannya. Artinya, dari berbagai faktor di luar diri seseorang turut berperan sebagai penentu dan pengubah perilaku.

Dalam hal ini berlakulah apaya yang dikenal dengan “hukum pengaruh” yang menyatakan bahwa manusia cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang menguntungkan dirinya dan mengelakkan perilaku yang mengibatkan perilaku yang mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan.

Contoh yang sangat sederhana ialah seorang juru tik yang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam waktu singkat. Juru tik tersebut mendapat pujian dari atasannya. Pujian tersebut berakibat pada kenaikan gaji yang dipercepat. Karena juru tik tersebut menyenangi konsekwensi perilakunya itu, ia lalu terdorong bukan hanya bekerja lebih tekun dan lebih teliti, akan tetapi bahkan berusaha meningkatkan keterampilannya, misalnya dengan belajar menggunakan komputer sehingga kemampuannya semakin bertambah, yang pada gilirannya diharapkan mempunyai konsekwensi positif lagi di kemudian hari.

Contoh sebaliknya ialah seorang pegawai yang datang terlambat berulangkali mendapat teguran dari atasannya, mungkin disertai ancaman akan dikenakan sanksi indisipliner. Teguran dan kemungkinan dikenakan sanksi sebagi konsekwensi negatif perilaku pegawai tersebut berakibat pada modifikasi perilakunya, yaitu datang tepat pada waktunya di tempat tugas.

Penting untuk diperhatikan bahwa agar cara-cara yang digunakan untuk modifikasi perilaku tetap memperhitungkan harkat dan martabat manusia yang harus selalu diakui dan dihormati, cara-cara tersebut ditempuh dengan “gaya” yang manusiawi pula. 

9. Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi.
Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model motivasi yang sempurna, dalam arti masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha mencari dan menemukan sistem motivasi yang terbaik, dalam arti menggabung berbagai kelebihan model-model tersebut menjadi satu model. Tampaknya terdapat kesepakan di kalangan para pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan imbalan dengan prestasi seseorang individu .

Menurut model ini, motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk pada faktor internal adalah : 

a) persepsi seseorang mengenai diri sendiri; 
b) harga diri; 
c) harapan pribadi; 
d) kebutuhaan; 
e) keinginan;
f) kepuasan kerja;
g) prestasi kerja yang dihasilkan.

Sedangkan faktor eksternal mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah : 

a) jenis dan sifat pekerjaan; 
b) kelompok kerja dimana seseorang bergabung; 
c) organisasi tempat bekerja; 
d) situasi lingkungan pada umumnya; 
e) sistem imbalan yang berlaku dan cara penerapannya.
[read more..]

Tuesday, September 20, 2016

Pengertian Laporan Keuangan

0 komentar
Laporan keuangan sebagai hasil akhir dari proses akuntansi dirancang untuk menyediakan kebutuhan informasi bagi calon investor, kreditor, dan pemakai eksternal lainnya untuk pengambilan keputusan investasi, kredit, dan keputusan lain. Setelah mendapatkan informasi laporan keuangan perusahaan calon emiten, informasi tersebut harus dianalisis terlebih dahulu baru kemudian dapat digunakan sebagai dasar dalam melakukan pengambilan keputusan investasi. Analisis keuangan tergantung pada informasi yang diberikan oleh laporan keuangan perusahaan.

Kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan yang tercermin pada laporan perusahaan pada hakikatnya merupakan hasil akhir dari kegiatan akuntansi perusahaan yang bersangkutan. Informasi tentang kondisi keuangan dan hasil operasi perusahaan sangat berguna bagi berbagai pihak, baik pihak yang berada di dalam perusahaan maupun pihak yang berada di luar perusahaan.

Munawir (2002: 2) mendefinisikan laporan keuangan sebagai “laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut”. 

Menurut IAI dalam PSAK (2002: 6) menyebutkan bahwa “Laporan keuangan disusun dan disajikan sekurang-kurangnya setahun sekali untuk memenuhi kebutuhan sejumlah besar pemakai”. 


Sifat Laporan Keuangan
Laporan keuangan dipersiapkan atau dibuat untuk memberikan gambaran atau laporan kemajuan (progress report) secara periodik yang dilakukan oleh pihak manajemen yang bersangkutan. Laporan keuangan bersifat historis serta menyeluruh dan sebagai suatu progress report, laporan keuangan terdiri dari data-data yang merupakan hasil dari suatu kombinasi antara lain:

1. Fakta yang telah dicatat
2. Prinsip-prinsip dan kebiasaan-kebiasaan di dalam akuntansi

3. Pendapatan pribadi
Fakta-fakta yang telah dicatat, laporan keuangan dibuat atas dasar fakta dari catatan akuntansi. Pencatatan dari pos-pos ini berdasarkan catatan historis dari peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di masa lampau dan jumlah uang yang tercatat dalam pos-pos itu dinyatakan dalam harga-harga pada waktu terjadinya peristiwa tersebut.

Prinsip-prinsip dan kebiasaan-kebiasaan di dalam akuntansi, berarti data yang dicatat didasarkan pada prosedur maupun anggapan-anggapan tertentu yang merupakan prinsip-prinsip akuntansi yang lazim, hal ini dilakukan dengan tujuan memudahkan pencatatan atau untuk keseragaman.
[read more..]

Tuesday, September 6, 2016

Surat Perjanjian Kerjasama Penanaman Jeruk Lemon

0 komentar
SURAT PERJANJIAN
KERJA SAMA PENANAMAN JERUK LEMON


Kami yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama                         : A
Tempat/ Tgl Lahir       : Medan, 12 April 1983
Agama                       : Kristen
Pekerjaan                  : Wiraswasta
Alamat                       :  
            Selanjutnya dalam perjanjian ini disebut sebagai pihak I (Pertama)
Nama                         : B 
Tempat/ Tgl Lahir       : Medan, 31 Desember 1980
Agama                       : Islam
Pekerjaan                   : Petani/ Pekebun
Alamat                       :      
            Selanjutnya dalam perjanjian ini disebut sebagai pihak II (Kedua)

K H U S U S
1. Bahwa dalam perjanjian ini Pihak I (Pertama) adalah sebagai pemilik modal, yakni pihak yang menyediakan biit jeruk lemon, untuk ditanam dan dirawat serta dipelihara agar tumbuh dan menghasilkan buah jeruk lemon diatas lahan milik pihak II (Kedua)
2.  Bahwa pihak I (Pertama) berkewajban menyediakan bibit Jeruk Lemon dimaksud sebayak 100 bibit, dimana Pihak II (Kedua) berkewajiban menanam dan merawat bibit jeruk lemon di maksud sedemikian rupa sehingga menghasilkan buah yang dapat dipanen, sehingga hasilnya dapat dijual
3.  Bahwa Pihak I (Pertama) dan pihak II ( kedua ) bersama-sama menyediakan pupuk yang akan digunakan yang besaran dan jumlahnya disesuaikan kesepakatan para pihak
4.   Bahwa Pihak II (Kedua) sebagai pengelola tanaman jeruk lemon, berkewajiban menanam, merawat dan memelihara jeruk lemon dimaksud hingga menghasilkan buah jeruk lemon
5.   Bahwa Pihak I (Pertama) sebagai pemilik modal berkewajiban dan memiliki hak diutamakan (privelage) untuk memasarkan dan menjual hasil buah jeruk lemon kepihak Ketiga (III)
6. Bahwa Pihak II (Kedua) berkewajiban untuk melaporkan perkembangan tanaman jeruk lemon yang ditanamnya kepada Pihak I (Pertama) atau yang dikuasakannya untuk itu, setidak-tidaknya untuk tiap 2 (dua) bulan sekali
7. Bahwa Pihak II (Kedua) wajib memberitahukan kepada Pihak I (Pertama) kapan jeruk lemon akan dipanen, dan Pihak II (Kedua) tidak berhak memanen jeruk lemon tanpa seijin dan sepengetahuan Pihak I (Pertama)/
8.   Bahwa pihak I ( pertama ) berhak atas pengembalian modal biaya pembelian bibit sebesar Rp.6000.000 dengan cara cicil dari setiap kali panen yakni pihak I ( Pertama ) berhak atas penjualan panen sebanyak 4 kali mulai panen pertama sebesar Rp.1.500.000 baru kemudian sisa hasil penjualan dibagi dua para pihak.
9.    Bahwa Pihak II (Kedua) tidak bertanggungjawab atas jenis jeruk lemon yang ditanamnya, dan Pihak I  (Pertama) bertanggung jawab sepenuhnya atas jenis jeruk lemon yang ditanam Pihak II (Kedua)
10.Bahwa, apabila Pihak I (Pertama) mengetahui Pihak II (Kedua) telah memanen sendiri hasil buah jeruk lemon dan menjualnya sendiri kepada Pihak III (Ketiga) maka Pihak I (Pertama) berhak atas kompensasi pengalihan hasil panen sepenuhnya atas panen berikutnya secara penuh dengan tidak membagi hasil panen jeruk lemon dimaksud kepada Pihak II (Kedua)
11.    Bahwa hasil panen jeruk lemon setelah dikonversi dan hasilnya berupa sejumlah uang tertentu, maka hasil uang penjualan jeruk lemon dimaksud dibagi rata antara Pihak I (Pertama) dan Pihak II (Kedua)
12.    Bahwa Pihak I (Pertama) berkewajiban untuk memberitahukan harga berikut pemasarannya kepada  Pihak II (Kedua) prihal penjualan buah jeruk lemon dimaksud
13.    Bahwa kerusakan ataupun gagal panen yang disebabkan karena bencana alam tidak dapat dijadikan dasar dan alasan yang dilakukan oleh Pihak II (Kedua). Karenanya kedua belah pihak terbebas dari segala resiko dan kesalahan
14.    Bahwa perjanjian kerja sama penanaman jeruk lemon ini berlaku dan berlangsung sepanjang jeruk lemon ditanam masih produktif dan menghasilkan buah dan apabila jeruk lemon yang ditanam dimaksud tidak lagi produktif dan menghasilkan buah, maka perjanjian kerjasama ini berakhir dengan sendirinya. Perjanjian dimaksud batal demi hukum
15.    Bahwa perjanjian kerjasama ini juga dapat berakhir dengan kesepakatan kedua belah pihak yang dinyatakan dan diperbuat diatas kertas bermaterai yang cukup
16.    Bahwa perjanjian kerjasama ini harus dilaksanakan oleh kedua belah pihak dengan itikad yang baik, jujur, dan benar dimana kedua belah pihak memiliki tanggung jawab agar dapat menghasilkan keuntungan maksimal
17.    Bahwa apabila didalam pelaksanaan perjanjian kerjasama ini terdapat perselisihan dan silang sengketa, maka upaya musyawarah dan mufakat ditempuh terlebih dahulu
18.    Bahwa apabila setelah musyawarah dan mufakat kedua belah pihak mengalami jalan buntu, maka kedua belah pihak sepakat memilih domisili hukum penyelesaiannya di Pengadilan Negeri Pancur Batu.

Demikian perjanjian kerjasama penanaman jeruk lemon ini dilakukan, para pihak dengan penuh kesadaran, tanpa tipu daya dan paksaan dari pihak manapun, dan untuk keabsahannya kedua belah pihak membubuhkan tanda tangannya, berikut saksi-saksi diatas kertas bermaterai yang cukup untuk itu.

Medan,        Agustus 2016







SURAT PERJANJIAN


Kami yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama                           :
Tempat/ Tgl Lahir       : 20 Maret 1983
Agama                         : Islam
Pekerjaan                     : Petani/ Pekebun
Alamat                        : Jl. Tanjung Morawa, Desa Bangun Gg. Mardisan
            Selanjutnya dalam hal ini disebut sebagai pihak I (Pertama)

Nama                           : B
Tempat/ Tgl Lahir       : Medan, 4 Februari 1980
Agama                         : Islam
Pekerjaan                     : Wiraswasta
Alamat                        : Jl. Nawi Harahap  Medan
            Selanjutnya dalam hal ini disebut sebagai pihak II (Kedua)

KHUSUS
-          Bahwa Pihak I (Pertama) mengaku atau memiliki bibit jeruk lemon kualitas baik dari jenis yuirike dan california, untuk dijual kepada Pihak II (Kedua)
-          Bahwa Pihak Kedua (II) dengan rela hati berniat memiliki dan membeli jenis jeruk lemon diatas dari Pihak I (Pertama)
-          Apabila dikemudian hari ternyata setelah menghasilkan buah ternyata jeruk dimaksud bukanlah jenis jeruk lemon yuirike dan California, maka Pihak I (Pertama) dikenakan sanksi yaitu kerugian sesuai dengan peraturan yang berlaku

Demikian perjanjian ini diperbuat dengan sebenar-benarnya tanpa paksaan dan tekanan serta tipu daya dari pihak manapun.

  Medan,        Agustus 2016

SAKSI-SAKSI


1.


2.
PIHAK II (KEDUA)




_________________
PIHAK I (PERTAMA)



_________________


[read more..]

Monday, September 5, 2016

Surat Pernyataan Kepada Bea & Cukai Type Madya Pabe

0 komentar

SURAT PERNYATAAN
No : 24/1808/______/2016


Kepada Yth,
Bapak Kepala Kantor Pelayanan dan Pengawasan
Bea & Cukai Type Madya Pabean
Di
Belawan


Dengan hormat,

Sehubungan dengan masuknya barang Import kami atas nama PT. Wisisco Adijaya di pelabuhan Belawan dengan data-data sebagai berikut :

Nama Kapal                :  
Tanggal Tiba                : 30-08-2016
No. BL / Tgl                :  
No. Invoice / Tgl         :  
No. Form E / Tgl         :  

Melalui surat ini kami menyatakan bahwa Form E yang kami terima adalah benar sesuai yang kami terima dari Negara asal barang tersebut.

Demikianlah surat pernyataan ini kami sampaikan, semoga Bapak dapat memakluminya, atas perhatian dan kebijaksanaannya kami ucapkan terima kasih.




Jakarta,

Hormat kami,





_____________

Direktur
[read more..]
 

Blog Info

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
My Ping in TotalPing.com

Histats