Wednesday, May 3, 2017

Pidato Perpisahan Kelas 6 SD

0 komentar
Assalamualaikum Wr. Wb. 
Bapak-bapak, ibu-ibu yang saya hormati, serta adik-adikku yang saya cintai.

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita semua dapat berkumpul di tempat ini. Pada hari ini kita berkumpul di tempat yang nyaman ini untuk melepas kami, siswa kelas VI, yang telah menamatkan sekolah dasar. Itu berarti kami sudah mampu melewati tingkat pertama selama 6 tahun. Dengan demikian, kami bisa menyelesaikan wajib belajar Sembilan tahun.

Bapak-bapak, Ibu-ibu yang saya hormati, serta Adik-adikku yang saya sayangi.

Keberhasilan kami ini tidak bisa lepas dari jernih payah Bapak/Ibu Guru yang tanpa mengenal lelah terus memberikan bimbingan dan arahan. Kami sangat bersyukur memperoleh pembimbing yang sabar. Terima kasih kami sampaikan kepada Bapak dan Ibu Guru. Kami tidak mungkin bisa membalas jasa Bapak dan Ibu. Kami hanya bisa mendoakan, semoga jasa Bapak dan Ibu mendapat balasan yang lebih baik dari Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Selain itu, kami berjanji selalu mengingat nasihat dan pesan Bapak/Ibu Guru untuk terus rajin belajar, menuntut ilmu tanpa mengenal waktu dan tempat.

Bapak-bapak, Ibu-ibu yang saya hormati,

Selaku anak didik, tentu saja kami pernah membuat kesalahan, baik yang kami sengaja maupun yang tidak kami sengaja. Pada kesempatan ini, saya mewakili teman semua memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan dan kekhilafan yang telah kami lakukan. Semoga Bapak/Ibu bersedia memanfaatkan kami.

Yang terakhir, kami mohon doa restu Bapak/Ibu Guru semoga pada masa mendatang kami dapat menjalankan tugas kami dengan lebih baik. Semoga kami dapat meraih cita-cita kami dan berguna bagi nusa dan bangsa. Kami juga berpesan kepada Adik-adik, teruslah belajar dan menuntut ilmu setinggi mungkin. Semoga Tuhan meridai usaha kita. Amin

Sekarang tibalah bagi kami untuk mengucapkan selamat berpisah. Sampai berjumpa pada kesempatan mendatang. Apabila ada tutur kata dan tingkah kami yang tidak berkenan di hati Bapak, Ibu dan Adik-adik, kami mohon maaf.

Sekian, terima kasih

Wassalamu;alaikum Wr. Wb.
[read more..]

Wednesday, March 22, 2017

Mengevaluasi Tanaman Teh Dengan Kelapa Sawit

0 komentar
1. Hasil Evaluasi Kesesuaian Lahan
Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan sebidang lahan untuk penggunaan tertentu.Kesesuaian lahan tersebut dapat dinilai untuk kondisi saat ini (kesesuaian lahan aktual) atau setelah diadakan perbaikan (kesesuaian lahan potensial).Kesesuaian lahan aktual adalah kesesuaian lahan berdasarkan data sifat biofisik tanah atau sumber daya lahan sebelum lahan tersebut diberikan masukan masukan yang diperlukan untuk mengatasi kendala.Data biofisik tersebut berupa karakteristik tanah dan iklim yang berhubungan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang dievaluasi. Kesesuaian lahan potensial menggambarkan kesesuaian lahan yang akan dicapai apabila dilakukan usaha-usaha perbaikan. Lahan yang dievaluasi dapat berupa hutan konversi, lahan terlantar atau tidak produktif, atau lahan pertanian yang produktivitasnya kurang memuaskan tetapi masih memungkinkan untuk dapat ditingkatkan bila komoditasnya diganti dengan tanaman yang lebih sesuai.

Hasil evaluasi kesesuaian lahan menurut FAO (1976) dalam Rayes (2007), biasanya mencakup beberapa jenis informasi seperti dikemukakan dibawah ini, dimana cakupan masing-masing informasi tersebut tergantung dari skala dan intensitas kajian.
  1. Kaitan fisik, sosial dan ekonomi yang mendasari dilakukannya evaluasi. Hal ini menyangkut data dan asumsi.
  2. Deskripsi tipe penggunaan lahan atau macam utama pengguaan lahan yang relevan dengan daerah survei. Semakin intensif tingkat kajian, semakin detail dan akurat deskripsi tersebut.
  3. Peta, tabel dan bahan-bahan berupa naskah harus memperlihatkan tingkat kesesuaian satuan peta lahan dari masing-masing macam penggunaan lahan yang dinilai, beserta kriteria pencirinya. Masing-masing macam penggunaan lahan dievaluasi secara terpisah.
  4. Semakin detail survei, semakin rinci dan semakin akurat pula spesifikasi tersebut. Pada survei semi-detail kebutuhan akan drainase harus dijelaskan, sedangkan pada survei detail, sifat dan biaya pembuatan saluran drainase harus dikemukakan. 
  5. Analisis ekonomi dan sosial sebagai akibat beragamnya jenis penggunaan lahan yang dipertimbangkan.
  6. Data dan peta dasar yang menjadi pertimbangan dalam evaluasi. Hasilnya terutama klasifikasi kesesuaian lahan, didasarkan pada berbagai informasi yang penting bagi pengguna individu.Informasi-informasi tersebut harus tersedia baik sebagai lampiran dari laporan utama atau sebagai dokumentasi tersendiri.
2.Proses evaluasi lahan dan arahan penggunaannya 

1. Penyusunan Karakteristik Lahan
Karakteristik lahan yang merupakan gabungan dari sifat-sifat lahan dan lingkungannya diperoleh dari data yang tertera pada legenda peta tanah dan uraiannya, peta/data iklim dan peta topografi/elevasi. Karakteristik lahan diuraikan pada setiap satuan peta tanah (SPT) dari peta tanah, yang meliputi: bentuk wilayah/lereng, drainase tanah, kedalaman tanah, tekstur tanah (lapisan atas 0-30 cm, dan lapisan bawah 30-50 cm), pH tanah, KTK liat, salinitas, kandungan pirit, banjir/genangan dan singkapan permukaan (singkapan batuan di permukaan tanah). Data iklim terdiri dari curah hujan rata-rata tahunan dan jumlah bulan kering, serta suhu udara diperoleh dari stasiun pengamat iklim.Data iklim juga dapat diperoleh dari peta iklim yang sudah tersedia, misalnya peta pola curah hujan, peta zona agroklimat atau peta isohyet.Peta-peta iklim tersebut biasanya disajikan dalam skala kecil, sehingga perlu lebih cermat dalam penggunaannya untuk pemetaan atau evaluasi lahan skala yang lebih besar, misalnya skala semi detail (1:25.000-1:50.000). Suhu udara didapatkan dari stasiun pengamat iklim di lokasi yang akan dievaluasi. 

2. Penyusunan Persyaratan Tumbuh Tanaman
Persyaratan tumbuh dapat diperoleh dari berbagai referensi, seperti pada Djaenudin et al. (2003).Untuk evaluasi lahan di Kabupaten Aceh Barat beberapa modifikasi sudah dibuat sesuai dengan kondisi lapangan dan referensi lainnya.Modifikasi yang dilakukan di antaranya adalah untuk tanaman cengkeh dan kakao pada tanah gambut dan drainase terhambat digolongkan sebagai tidak sesuai.Demikian pula untuk parameter tekstur tanah untuk tanaman tahunan, tidak hanya lapisan atas yang digunakan tetapi juga kombinasi dengan lapisan bawahnya.

3. Proses Evaluasi Kesesuaian Lahan (Matching)
Setelah data karakteristik lahan tersedia, maka proses selanjutnya adalah evaluasi lahan yang dilakukan dengan cara matching (mencocokan) antara karakteristik lahan pada setiap satuan peta tanah (SPT) dengan persyaratan tumbuh/penggunaan lahan. Istilah pembandingan (matching) digunakan untuk menguraikan proses dimana persyaratan yang diperlukan untuk suatu penggunaan lahan dibandingkan dengan kondisi lahan untuk menduga keragaan penggunaan lahan. Pembandingan antara persyaratan pertumbuhan tanaman atau persyaratan dari suatu tipe pengguna lahan (TPL) dan kualitas lahan (SPL) akan menghasilkan kelas kesesuaian lahan beserta faktor pembatasnya. Diantara berbagai TPL tersebut dapat diketahui mana yang lebih sesuai (mana yang paling memberikan keuntungan yang lebih besar) untuk setiap SPL di daerah yang disurvei.Persyaratan penggunaan lahan masing-masing tanaman dapat mengacu pada Sys et al. (1983), Djaenudin et al. (2002).

4. Kesesuaian Lahan Terpilih / Penentuan Arahan Penggunaan Lahan Untuk Tanaman Tahunan
Untuk menyusun arahan penggunaan lahan dari berbagai alternatif komoditas yang sesuai, perlu dipertimbangkan prioritas daerah dan penggunaan lahan aktual. Dalam penyusunan kesesuaian lahan terpilih ini, untuk kelompok tanaman pangan dan sayuran, hanya lahan-lahan yang termasuk kelas Sesuai (kelas S1 dan S2) saja yang dipertimbangkan, sedangkan untuk tanaman perkebunan dan tanaman buah-buahan, selain lahan yang termasuk kelas Sesuai (S1 dan S2), juga ditambah dengan lahan yang termasuk kelas Sesuai Marginal (kelas S3) karena tanaman tahunan lebih diprioritaskan dalam proyek ini. Cara penentuan arahan komoditas unggulan berdasarkan kesesuaian lahan dan penggunaan lahan disajikan pada Tabel 11. Dalam menyusun arahan ini, lahanlahan yang telah digunakan dan bersifat permanen, misalnya perkebunan dan sawah akan dipertahankan selama kelas kesesuaiannya termasuk sesuai dan tidak membahayakan keadaan lingkungan. Lahan-lahan demikian diarahkan untuk intensifikasi dalam rangka peningkatan produktivitas.Pada lahan yang belum digunakan secara intensif sebagai areal pertanian, misalnya semak/belukar, hutan yang dapat dikonversi atau lahan pertanian terlantar diarahkan sebagai areal ekstensifikasi tanaman yang sesuai (Ritung dan Hidayat, 2003).

3. Menaksir Potensi untuk Pengembangan Pertanian

a. Konsep evaluasi dan kesesuaian lahan
Evaluasi lahan adalah suatu proses penilaian sumber daya lahan untuk tujuan tertentu dengan menggunakan suatu pendekatan atau cara yang sudah teruji. Hasil evaluasi lahan akan memberikan informasi dan/atau arahan penggunaan lahan sesuai dengan keperluan. Menaksir potensi pengembangan pertanian dari hasil evaluasi lahan dapat dikaitkan dengan mencari kesesuaian lahan yang didasarkan pada hasil survei.Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan sebidang lahan untuk penggunaan tertentu.Kesesuaian lahan tersebut dapat dinilai untuk kondisi saat ini (kesesuaian lahan aktual) atau setelah diadakan perbaikan (kesesuaian lahan potensial).

Kesesuaian lahan aktual adalah kesesuaian lahan berdasarkan data sifat biofisik tanah atau sumber daya lahan sebelum lahan tersebut diberikan masukan-masukan yang diperlukan untuk mengatasi kendala.Data biofisik tersebut berupa karakteristik tanah dan iklim yang berhubungan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang dievaluasi. Kesesuaian lahan potensial menggambarkan kesesuaian lahan yang akan dicapai apabila dilakukan usaha-usaha perbaikan. Lahan yang dievaluasi dapat berupa hutan konversi, lahan terlantar atau tidak produktif, atau lahan pertanian yang produktivitasnya kurang memuaskan tetapi masih memungkinkan untuk dapat ditingkatkan bila komoditasnya diganti dengan tanaman yang lebih sesuai .

b. Pengembangan Pertanian berdasar Hasil Evaluasi Lahan
Evaluasi lahan mencakup interpretasi data keadaan fisik lingkungan dan tanah dalam suatu lahan. Setiap karakteristik lahan yang digunakan secara langsung dalam evaluasi ada yang bersifat tunggal dan ada yang bersifat ganda, karena mempunyai interaksi satu sama lainnya. Karenanya dalam interpretasi perlu mempertimbangkan atau memperbandingkan lahan dengan penggunaannya dalam pengertian kualitas lahan. Pertanian tidak lepas dari tanah dan lingkungan.Potensi pengembangan pertanian dapat ditinjau berdasar hasil evaluasi kondisi ketersediaan air dan media perakaran (tekstur tanah dan kedalaman zone perakaran tanaman).

Luas lahan pertanian di Indonesia mencapai 70,20 juta ha, terdiri atas sawah 7,9 juta ha, tegalan 14,6 juta ha (BPS 2008). Masing-masing penggunaan lahan tersebut disesuaikan dengan kondisi lahan, baik kondisi iklim mapupun kondisi tanahnya. Dengan demikian, dari hasil evaluasi lahan tersebut dapat digunakan sebagai penentu arah pemilihan komoditas paling sesuai agar didapat hasil yang maksimal. Dalam menyusun arahan ini, lahan-lahan yang telah digunakan dan bersifat permanen, misalnya perkebunan dan sawah akan dipertahankan selama kelas kesesuaiannya termasuk sesuai dan tidak membahayakan keadaan lingkungan. Lahan-lahan demikian diarahkan untuk intensifikasi dalam rangka peningkatan produktivitas.Pada lahan yang belum digunakan secara intensif sebagai areal pertanian, misalnya semak/belukar, hutan yang dapat dikonversi atau lahan pertanian terlantar diarahkan sebagai areal ekstensifikasi tanaman yang sesuai (Ritung dan Hidayat, 2003).

4. Dampak negatif yang terungkap dari aktivitas perkebunan kelapa sawit diantara nya:

1. Persoalan tata ruang, dimana monokultur, homogenitas dan overloads konversi.Hilangnya keaneka ragaman hayati ini akan memicu kerentanan kondisi alam berupa menurunnya kualitas lahan disertai erosi, hama dan penyakit.

2. Pembukaan lahan sering kali dilakukan dengan cara tebang habis dan land clearing dengan cara pembakaran demi efesiensi biaya dan waktu.

3. Kerakusan unsur hara dan air tanaman monokultur seperti sawit, dimana dalam satu hari satu batang pohon sawit bisa menyerap 12 liter (hasil peneliti lingkungan dari Universitas Riau) T. Ariful Amri MSc Pekanbaru/ Riau Online). Di samping itu pertumbuhan kelapa sawit mesti dirangsang oleh berbagai macam zat fertilizer sejenis pestisida dan bahan kimia lainnya.

4. Munculnya hama migran baru yang sangat ganas karena jenis hama baru ini akan mencari habitat baru akibat kompetisi yang keras dengan fauna lainnya. Ini disebabkan karena keterbatasan lahan dan jenis tanaman akibat monokulturasi.

5. Pencemaran yang diakibatkan oleh asap hasil dari pembukaan lahan dengan cara pembakaran dan pembuangan limbah, merupakan cara-cara perkebunan yang meracuni makhluk hidup dalam jangka waktu yang lama. Hal ini semakin merajalela karena sangat terbatasnya lembaga (ornop) kemanusiaan yang melakukan kegiatan tanggap darurat kebakaran hutan dan penanganan Limbah.

6. Terjadinya konflik horiziontal dan vertikal akibat masuknya perkebunan kelapa sawit. sebut saja konflik antar warga yang menolak dan menerima masuknya perkebunan sawit dan bentrokan yang terjadi antara masyarakat dengan aparat pemerintah akibat sistem perijinan perkebunan sawit.

7. Selanjutnya, praktek konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit seringkali menjadi penyebab utama bencana alam seperti banjir dan tanah longsor

5. Alasan alih Fungsi Lahan Tanaman Teh Ke Tanaman Kelapa Sawit

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan tanaman perkebunan Teh menjadi perkebunan Kelapa Sawit di PTPN IV Kabupaten Simalungun. Penelitian ini menggunakan data primer dengan media kuesioner dan data sekunder kurun waktu (time series) 6 tahun. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ordinary Least Square (OLS) pada =1%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas perkebunan teh menurun rata-rata 61,55 Ton/ Ha/Tahun, penyerapan tenaga kerja perkebunan teh menurun rata-rata 725,67 HOK/Tahun dan produktivitas tenaga kerja perkebunan teh menurun rata-rata 1,09 Ton/Ha/Tahun. Harga teh dan jumlah tenaga kerja berpengaruh negatif dan signifikan sedangkan harga TBS berpengaruh positif dan signifikan terhadap alih fungsi (konversi) tanaman Perkebunan Teh menjadi Perkebunan Kelapa Sawit. Harga Teh, harga TBS dan jumlah tenaga kerja secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap alih fungsi Tanaman Perkebunan Teh menjadi Perkebunan Kelapa Sawit di PTPN IV Kabupaten Simalungun.
[read more..]

Tuesday, March 7, 2017

Pengertian Pelayanan

0 komentar
Pelayanan adalah strategi pemasaran yang selektif untuk menarik, memelihara dan meningkatkan hubungan dengan nasabah.

Pelayanan atau service adalah setiap kegiatan atau manfaat yang dapat diberikan suatu pihak kepada pihak lainnya yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak pula berakibat pemilikan sesuatu dan produksinya dapat atau tidak dapat dikaitkan dengan suatu produk fisik. Menurut Philip Kotler dalam Hasibuan (2011:152).

Pelayanan adalah kegiatan pemberian jasa dari satu pihak kepada pihak lainnya, pelayanan yang baik adalah pelayanan yang dilakukan secara ramah tamah, adil, cepat, tepat dan dengan etika yang baik sehingga memenuhi kebutuhan dan kepuasan bagi yang menerimanya.( Hasibuan, 2011:152)

Ciri – Ciri Pelayanan yang Baik

Ciri – ciri pelayanan yang baik yang harus segera dapat dipenuhi oleh bank sehingga keinginan nasabah dapat diberikan secara maksimal (Kasmir, 2012:257) antar lain.

1. Tersedia sarana dan prasarana yang baik.

Nasabah ingin dilayani secara prima. Untuk melayani nasabah satu hal yang paling penting diperhatikan adalah sarana dan prasarana yang dimiliki bank. Meja dan kursi harus nyaman untuk diduduki. Udara dalam ruangan juga harus tenang dan tidak berisikdan sejuk. Kelengakapan dan kenyamanan sarana dan prasarana ini akan mengakibatkan nasabah betah untuk berurusan dengan bank.

2. Tersedia karyawan yang baik.
Kenyamanan nasabah juga sangat tergantung dari petugas bank, petugas bank harus ramah, sopan, dan menarik. Selain itu, petugas bank harus cepat tanggap, pandai bicara, menyenangkan serta pintar.

3. Bertanggung jawab kepada setiap nasabah sejak awal hingga selesai.
Dalam menjalankan kegiatan pelayanan petugas bank harus mampu melayani dari awal sampai tuntas atau selesai. Jika terjadi sesuatu maka segera petugas bank yang dari semula mengerjakannya mengambil alih tanggung jawabnya.

4. Mampu melayani secara cepat dan tepat.

Dalam melayani nasabah diharapkan petugas bank harus melakukannya sesuai prosedur. Layanan yang diberikan sesuai jadwal untuk pekerjaan tertentu dan jangan membuat kesalahan dalam arti pelayanan yang diberikan sesuai dengan keinginan nasabah.

5. Mampu berkomunikasi.

Petugas bank harus mampu berbicara kepada setiap nasabah, petugas bank harus dapat berkomunikasi dengan bahasa yang jelas dan mudah dimengerti.

6. Memberikan jaminan kerahasiaan setiap transaksi.

Menjaga kerahasiaan bank sama artinya dengan menjaga rahasia nasabah. Oleh karena itu, petugas bank harus mampu menjaga rahasia nasabah terhadap siapapun. Rahasia bank merupakan ukuran kepercayaan nasabah kepada bank.

7. Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang baik.

Untuk menjadi petugas bank harus memiliki pengetahuan dan kemampuan tertentu. Karena petugas bank selalu berhubungan dengan manusia, maka petugas bank perlu dididik secara khusus mengenai kemampuan dan pengetahuannya untuk menghadapi nasabah atau kemampuan dalam bekerja.

8. Berusaha memahami kebutuhan nasabah.

Petugas bank harus cepat tanggap apa yang diinginkan oleh nasabah. Petugas bank yang lamban akan membuat nasabah lari. Usahakan mengerti dan memahami keinginan dan kebutuhan nasabah.

9. Mampu memberikan kepercayaan kepada nasabah.

Kepercayaan calon nasabah kepada bank mutlak diperlukan sehingga calon nasabah mau menjadi nasabah bank yang bersangkutan. Demikian pula untuk menjaga nasabah yang lama agar tidak lari perlu dijaga kepercayaannya.
[read more..]

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap

0 komentar
1. Pengalaman pribadi
Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap s timulus sosial. 

2. Pengaruh orang lain yang dianggap penting 
Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu diantara komoponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang dianggap penting, seseorang yang kita harapkan persetujuannya bagi setiap gerak, tingkah dan pendapat kita, seseorang yang tidak ingin kita kecewakan atau seseorang yang berarti khusus bagi kita akan mempengaruhi pembentkan sikap kita terhadap sesuatu. 
Contoh : Orang tua, teman sebaya, teman dekat, guru, istri, suami dan lain-lain. 

3. Pengaruh kebudayaan 
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. 

4. Media massa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. 

5.Lembaga pendidikan dan lembaga agama 
Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam arti individu. 

6. Pengaruh faktor emosional 
Tidak semua bentuk sikap dipengaruhi oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang, kadang-kadang sesuatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi yang berfungsi sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. (Aswar, 2000 : 30-38)
[read more..]
 

Blog Info

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
My Ping in TotalPing.com

Histats