Wednesday, June 18, 2014

Fungsi dan Jenis-jenis Pedagang Eceran

0 komentar
Fungsi dan Jenis-jenis Pedagang Eceran : Menurut pakar ahli, penjualan eceran meliputi semua kegiatan yang berhubungan langsung dengan penjualan barang atau jasa kepada konsumen akhir untuk keperluan pribadi dan bukan untuk bisnis. Pelayanan kepada konsumen harus diutamakan karena merupakan tanggung jawab primer sebagai pedagang eceran. Sedangkan pelayanan pedagang besar atau produsen merupakan tanggung jawab sekunder. 

Mengenai fungsi dari penjualan eceran ini, beberapa ahli memiliki pendapat berbeda. Menurut Davidson, Sweeney dan Stampte ( Bob Fuster, 2008 ) fungsi pedagang eceran sebagai berikut : 
  • Menciptakan tersedianya pilihan barang atau jasa sesuai dengan yang diinginkan konsumen;
  • Memberikan penawaran produk atau jasa pelayanan dalam unit yang cukup kecil, sehingga memungkinkan para konsumen untuk memenuhi hebutuhannya;
  • Menyediakan pertukaran nilai tambah dari produk; dan
  • Mengadakan transaksi dengan para konsumennya.
Berbeda dari ketga ahli diatas, fungsi pedagang eceran menurut Stanton adalah mengumpulkan atau mengkosentrasikan aneka ragam produk dari berbagai produsen. Jika dirinci lagi, maka pendapat Stanson tersebut mengandung tiga fungsi penting seorang pedagang eceran, yakni : 

1. Konsetrasi barang. Artinya, pedagang eceran mengelompokkan produk-produk tersebut dalam jumlah yang sesuai dengan keinginan konsumen.

2. Penyamaan barang. Artinya, pedagang eceran harus memilah-milah produk dari produsen tersebut menjadi satuan barang yang sama yang dibutuhkan konsumennya.

3. Penyebaran barang. Ini adalah fungsi terpenting seorang pedagang eceran, yaitu menyebarkan kelompok barang tersebut kepada konsumen akhir atau pembeli pribadi. Itulah beberapa pendapat fungsi penjual atau pedagang eceran. Jika siskemakan, maka bentuk pedagang eceran atau retailer adalah sebagai berikut :

Menurut pakar ahli, penjualan eceran meliputi semua kegiatan yang berhubungan langsung dengan penjualan barang atau jasa kepada konsumen akhir untuk keperluan pribadi dan bukan untuk bisnis. Pelayanan kepada konsumen harus diutamakan karena merupakan tanggung jawab primer sebagai pedagang eceran. Sedangkan pelayanan pedagang besar atau produsen merupakan tanggung jawab sekunder. Mengenai fungsi dari penjualan eceran ini, beberapa ahli memiliki pendapat berbeda. Menurut Davidson, Sweeney dan Stampte ( Bob Fuster, 2008 ) fungsi pedagang eceran sebagai berikut : 
  • Menciptakan tersedianya pilihan barang atau jasa sesuai dengan yang diinginkan konsumen;
  • Memberikan penawaran produk atau jasa pelayanan dalam unit yang cukup kecil, sehingga memungkinkan para konsumen untuk memenuhi hebutuhannya;
  • Menyediakan pertukaran nilai tambah dari produk; dan
  • Mengadakan transaksi dengan para konsumennya.
Berbeda dari ketiga ahli diatas, fungsi pedagang eceran menurut Stanton adalah mengumpulkan atau mengkosentrasikan aneka ragam produk dari berbagai produsen. Jika dirinci lagi, maka pendapat Stanson tersebut mengandung tiga fungsi penting seorang pedagang eceran, yakni : 

4. Konsetrasi barang. Artinya, pedagang eceran mengelompokkan produk-produk tersebut dalam jumlah yang sesuai dengan keinginan konsumen.

5. Penyamaan barang. Artinya, pedagang eceran harus memilah-milah produk dari produsen tersebut menjadi satuan barang yang sama yang dibutuhkan konsumennya.

6. Penyebaran barang. Ini adalah fungsi terpenting seorang pedagang eceran, yaitu menyebarkan kelompok barang tersebut kepada konsumen akhir atau pembeli pribadi. Itulah beberapa pendapat fungsi penjual atau pedagang eceran. Jika siskemakan, maka bentuk pedagang eceran atau retailer adalah sebagai berikut :

Gambar skema fungsi pedagang eceran

Menyimpang dari pembahasan tentang fungsi pedagang eceran di atas, Kotler (bob Foster, 2008) membagi tipe-tipe pedagang eceren menjadi tiga kelompok besar, yakni store retailer, nonstore retailer, dan retailer organization.

Store retailer (pedagang eceran bertoko) di bagi lagi menjadi 8 kategori, yakni :
  1. Toko khusus, adalah toko yang mempunyai lini produk terbatas. Misal, toko olah raga, toko furniture, toko pakaian, dan lain-lain.
  2. Toko serba ada (department store), adalah toko yang memiliki beberapa lini produk, khususnya pakaian, alat-alat rumah tangga, dan perlengkapan rumah. Bisasanya, setiap lini produk tersebut ditempatkan di lokasi berbeda sesuai dengan lini produknya.
  3. Pasar swalayan, adalah toko yang cukup besar. Toko ini menyediakan makanan, minuman, kebutuhan rumah tangga, barang-barang kosmetik, hingga obat-obatan.
  4. Toko super, toko kombinasi, dan toko hiper. Toko super adalah toko yang lebih besar dari swalayan konvensional dengan ruang jual seluas 35.000 kaki persegi. Toko gabungan merupakan diversifikasi dari pasar swalayan yang memasukkan produk obat-obatan dengan resep.
  5. Toko kebutuhan sehari-hari, adalah toko kecil di dekat pemukiman warga.
  6. Toko pemberi potongan harga, adalah toko yang menjual barang-barang standar dengan harga lebih rendah dari pada pedagang lainnya.
  7. Toko gudang, adalah toko tanpa embel-embel diskon
  8. Ruang pamer catalog (catalog showroom).
Nonstore retailer (pedagang eceran toko), dibagi menjadi empat kategori, yaitu :
  • Pemasaran langsung, yaitu suatu system pemasaran yang menggunakan suatu metode iklan. Pemasaran ini terdiri dari personal selling, telemarketing, direct mail marketing, catalog marketing, kios marketing, dan online marketing.
  • Penjualan otomatis (mesin penjaja otomatis), adalah suatu jenis pedagang eceran tanpa toko, menggunakan mesin yang dioperasikan dengan koin dalam melayani pembeli, dimana mesin tersebut beroperasi secara otomatis.
  • Pelayanan pembelian, yaitu suatu bentuk pedagang eceran yang bertindak sebagai agen pembeli.
[read more..]

Pengertian Koperasi Bisnis Ritel

0 komentar
Disini akan saya jelaskan sedikit tentang pengertian Koperasi Bisnis Ritel, semoga bermanfaat untuk Saudara....

Pengertian Koperasi Bisnis Ritel : Koperasi Bisnis ritel Merupakan kesatuan ekonomi terkecil dari kerangka pembangunan dan pengembangan bisnis ritel “ penjualan eceran” baik berupa barang atau jasa dari suatu perusahaan di jual secara eceran. Yang biasanya dilakukan di kios-kios, toko, atau depot/warung. Untuk membangun perkembangan bisnis ritel ini peran koperasi sangat berarti, tidak hanya sekedar dalam pemberian biaya (modal) kepada anggota Koperasi Bisnis Ritel, peran koperasi disini juga dapat menyamakan harga barang kepada para pengecer dan penyediaan langsung barang kepada pengecer sehingga pengecer tidak perlu lagi membeli barang kebutuhannya, sebab koperasi berusaha penuh untuk menanggulangi segala keperluan pedagang hingga sampai ketempat sehingga lebih efektif dan efesien.

Pengertian Bisnis Ritel : Ritel merupakan merupakan salah satu rantai saluran distribusi yang memegang peranan yang penting dalam penyampaian barang dan jasa kepada konsumen akhir.Ritel meliputi semua kegiatan yang melibatkan penjualan barang atau jasa secara langsung pada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan bisnis.

Kotler ( 2003: 535 ) dalam buku Foster (2008:34) mendefinisikan sebagai berikut: “ritel meliputi semua kegiatan yang meliputi semua kegiatan yang melibatkan penjualan barang atau jasa secara langsung pada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan bisnis ”.

Sedangkan menurut Berman dan Ervans (2002 : 3) dalam buku Foster (2008:34) pengertian ritel adalah: “ritel adalah tingkat terakhir dari proses distribusi, di dalamnya terdapat aktivitas bisnis dalam penjualan barang atau jasa kepada konsumen ”.

Dari berbagai pengertian diatas dapat dirumuskan bahwa ritel adalah segala aktivitas perdagangan barang atau jasa kepada konsumen akhir untuk digunakan sendiri, bukan untuk diperdagangkan lagi.
[read more..]

Thursday, June 12, 2014

PERSIAPAN UNTUK WAWANCARA KERJA

0 komentar
Pada saat kita menerima telepon ataupun informasi dari suatu perusahaan yang kita lamar, dimana Perusahaan memanggila Saudara untuk hadir pada Hari..... tanggal......Jam.....untuk menghadiri dan melaksanakan test Wawancara, maka ada baiknya Saudara membaca sedikit Artikel ini karena sangat berarti untuk saudara. Persiapan Untuk menghadapi Wawancara, agar Kelak semoga diterima di perusahaan yang Saudara Idam-idam kan sesuai dengan posisi atau jabatan yang anda lamar. terima kasih.

WAWANCARA KERJA
11.1     Arti Penting Wawancara
            Wawancara merupakan salah satu cara yang sangat penting bagi suatu perusahaan untuk menjaring pelamar yang ada. Jumlah pelamar pada umumnya jauh lebih banyak daripada posisi atau lowongan yang tersedia. Oleh karena itu, dibutuhkan alat penyaring/alat seleksi yang dapat menemukan orang-orang yang paling cocok untuk menempati posisi tersebut. Mengingat ketatnya seleksi dari perusahaan, seorang pelamar mungkin saja diwawancarai lebih dari satu kali.
            Berbagai aspek, khususnya aspek kepribadian, baik secara verbal maupun nonverbal, sejak memasuki ruang wawancara akan diperhatikan oleh pewawancara. Aspek-aspek kepribadian (personality aspects) yang akan dinilai mencakup :
-          Penampilan secara fisik
-          Gerak-gerik dan sopan santun
-          Rasa percaya diri
-          Inisiatif
-          Kebijaksanaan
-          Tanggap dan kerja sama
-          Ekspresi wajah
-          Kemampuan berkomunikasi
-          Sikap terhadap pekerjaan
-          Selera humor

11.2     Persiapan Wawancara
            Mengingat pentingnya wawancara dalam memasuki dunia kerja, sudah selayaknya pelamar mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Berikut merupakan berbagai hal yang perlu diperhatikan saat melakukan wawancara kerja :
  1. Datang tepat waktu
  2. Bersikap yakin
  3. Siapkan sertifikat diploma, dan surat-surat penghargaan
  4. Berpakaian yang rapi dan sopan
  5. Bersikap tenang
  6. Ketuk pintu sebelum memasuki ruang wawancara, kecuali jika ada yang mengantar
  7. Tersenyumlah, tetapi jangan tersenyum terus
  8. Tunggu sampai dipersilakan duduk, atau mintalah izin untuk duduk
  9. Ingat nama pewawancara dengan benar
  10. Tataplah pewawancara saat berbicara
  11. Tunjukkan kemampuan diri tetapi jangan berlebihan
  12. Perhatikan pertanyaan pewawancara dengan baik
  13. Bicaralah dengan jelas
  14. Atur nada suara
  15. Tunjukkan minat dan kesungguhan
  16. Bersikaplah jujur
11.3     Cara Mengenali Pekerjaan dan Perusahaan
            Sebelum melakukan wawancara, perlu dicari berbagai informasi yang berkaitan dengan pekerjaan yang dilamar dan perkembangan perusahaan yang bersangkutan. Informasi dapat diperoleh dari berbagai publikasi resmi yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut, baik yang berbentuk jurnal, majalah, atau buletin.
            Wawancara sebagai bentuk komunikasi dua arah (two-way communication) merupakan kesempatan yang baik bagi pelamar untuk menanyakan secara langsung berbagai hal mengenai pekerjaan dan perusahaan kepada pewawancara. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan antara lain :
  1. Apa tugas dan tanggung jawab dari pekerjaan yang dilamar
  2. Bagaimana kebijakan perusahaan mengenai promosi
  3. Bagaimana kesempatan berkembang dalam perusahaan
  4. Apakah tersedia program pelatihan bagi pegawai baru
  5. Apa yang menjadi produk unggulan perusahaan
  6. Siapa pesaing utama perusahaan
  7. Bagaimana pangsa pasar bagi produk-produk yang diproduksi perusahaan
11.4     Pertanyaan Penting Dalam Wawancara
            Dalam wawancara, berbagai pertanyaan akan diajukan kepada pelamar sehingga pelamar sehingga pelamar harus benar-benar mempersiapkan diri agar bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan dengan baik dan benar. Pertanyaan-pertanyaan dalam wawancara bisa berkaitan dengan pekerjaan yang dilamar, program pelatihan dan pendidikan yang pernah diikuti, pengalaman kerja, pergaulan antarsesama, penilaian kepribadian, hobi, kepribadian, latar belakang keluarga, dan tujuan karier.

11.5     Tindak Lanjut Wawancara
1. Ucapan terima kasih
            Apa yang perlu dilakukan setelah wawancara berakhir ? Segera setelah wawancara usai, berikan ucapan terima kasih kepada pewawancara meskipun kecil kemungkinannya diterima bekerja di perusahaan tersebut. Hal ini perlu dilakukan untuk menunjukkan penghargaan atas waktu yang telah disediakan untuk wawancara.

2. Surat Penerimaan Kerja
            Diterima bekerja dengan jabatan serta di perusahaan yang diinginkan merupakan harapan setiap orang. Oleh karena itu, perusahaan harus bisa membuat surat pemberitahuan dengan baik, dan mengirimkannya sesegera mungkin.

3. Surat Pengunduran Diri
            Surat pengunduran diri (letter declining a job offer) merupakan surat yang dibuat oleh pelamar kerja atau mereka yang sudah bekerja, tetapi mendapat atau mengharapkan pekerjaan di tempat lain yang lebih menguntungkan atau yang menjanjikan prospek yang lebih baik daripada pekerjaan yang telah ada.
[read more..]

Saturday, May 24, 2014

Pengertian Suku Bunga Bank

0 komentar
Pendahuluan
Bank merupakan perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, artinya aktivitas perbankan selalu berkaitan dengan bidang keuangan. seperti telah ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 perubahan dari Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang pebankan, yang menyatakan bahwa bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak (Loen dan Ericson, 2007:1).

Dana yang telah berhasil dihimpun oleh bank dialokasikan berbagai bentuk pengalokasian dana, salah satunya adalah pemberian kredit. Menurut Undang-Undang No.10 Tahun 1998 tentang perbankan, yang dimaksud dengan kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan kesepakatan pinjam-meminjam antara pihak bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga (Loen dan Ericson, 2007:84).

Menurut Siamat (2005:349) salah satu alasan terkonsentrasinya usaha bank dalam penyaluran kredit adalah sifat usaha bank sebagai lembaga intermediasi antara unit surplus dengan unit defisit, dan sumber dana bank berasal masyarakat sehingga secara moral mereka harus menyalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit. Sebagaimana umumnya negara berkembang, sumber pembiayaan dunia usaha di Indonesia masih didominasi oleh penyaluran kredit perbankan yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Pemberian kredit merupakan aktivitas bank yang paling utama dalam menghasilkan keuntungan, tetapi risiko yang terbesar dalam bank juga bersumber dari pemberian kredit. Oleh karena itu pemberian kredit harus diawasi dengan manajemen risiko yang ketat (Hitapupondang, 2009)

Dari segi makroekonomi, perubahan suku bunga akan berpengaruh terhadap perubahan harga barang yang dikonsumsi masyarakat. Suku bunga merupakan faktor yang penting dalam memberikan profitabilitas bagi perbankan dan perekonomian suatu negara. Fluktuasi suku bunga kredit juga akan mempengaruhi permintaan akan kredit tersebut. Misalkan dengan tingginya tingkat suku bunga kredit, hal ini akan sangat meresahkan para pengusaha, yang dengan demikian akan dapat mengurangi permintaan kredit para pengusaha kepada pihak perbankan karena dana yang ditawarkan sangat mahal. Dalam situasi seperti ini, pemerintah menghimbau kepada pihak perbankan untuk menurunkan tingkat suku bunga depositonya agar tingkat suku bunga kredit tidak terlalu besar. 

Tuntutan hidup yang lebih modern dan akibat kemajuan teknologi informasi, kebutuhan masyarakat juga berubah. Berbagai aktifitas ekonomi dilakukan untuk dapat meningkatkan penghasilan atau pendapatan. Untuk mengimbangi kemajuan dan pola hidup modern, berbagai cara ditempuh masyarakat. Salah satunya melalui pinjaman di perbankan dalam bentuk kredit. Usaha yang dilakukan masyarakat untuk meningkatkan pendapatannya dilakukan mulai dari investasi sederhana sampai dengan investasi bermodal besar yang berdampak pada sektor moneter adalah permohonan modal usaha dan investasi akhirnya akan semakin meningkat. Permohonan modal tersebut mengarah pada permohonan kredit ke lembaga perbankan yang semakin meningkat (Aryaningsih, 2008:59).

Muammil Sun’an dan David Kaluge dalam penelitiannya menunjukan bahwa penyaluran kredit investasi oleh sektor perbankan sangat tergantung kepada dana pihak ketiga terutama simpanan berupa giro dan deposito serta besarnya tingkat bunga pinjaman dan inflasi. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Andy Mulyadinata pada PT Bank Lampung menyatakan bahwa dana pihak ketiga, tingkat suku bunga, kinerja portofolio kredit, risiko dan pesaing, baik secara parsial maupun secara simultan mempunyai pengaruh terhadap penyaluran kredit.

Dilandasi oleh berbagai hasil penelitian sebelumnya, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tingkat suku bunga kredit, dan simpanan nasabah secara parsial maupun simultan terhadap jumlah penyaluran kredit investasi pada Bank Persero. 

Pengertian Suku Bunga Bank
Kasmir, (2008:135) mengatakan bahwa bunga bank dapat diartikan sebagai balas jasa yang diberikan oleh bank berdasarkan prinsip konvensional kepada nasabah yang membeli atau menjual produknya. Bunga juga dapat diartikan sebagai harga yang harus dibayar kepada nasabah (yang memiliki simpanan) dengan harga yang harus dibayar oleh nasabah kepada bank (nasabah yang memperoleh pinjaman).

Suku bunga merupakan salah satu faktor yang cukup menarik bagi pemilik dana untuk menyimpan uangnya pada suatu bank. Tingkat suku bunga yang diberikan hendaknya dapat bersaing dengan tingkat suku bunga yang diberikan bank lain. Tingkat suku bunga biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase dari jumlah yang dipinjamkan dan dengan dasar tahunan (annual basis/perannum). 

Menurut Kasmir, (2008:136), dalam kegiatan perbankan sehari-hari ada 2 (dua) macam bunga yang diberikan kepada nasabahnya, yaitu:

1. Bunga Simpanan
Adalah bunga yang diberikan sebagai rangsangan atau balas jasa bagi nasabah yang menyimpan uangnya di bank. Bunga simpanan merupakan harga yang harus dibayar bank kepada nasabahnya. Sebagai contoh: jasa giro, bunga tabungan, dan bunga deposito.

2. Bunga Pinjaman
Adalah bunga yang dibebankan kepada para peminjam atau harga yang harus dibayar oleh nasabah peminjam kepada bank, sebagai contoh bunga kredit.

Suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman merupakan komponen utama faktor biaya dan pendapatan bagi bank. Bunga simpanan merupakan biaya dana yang harus dikeluarkan kepada nasabah, sedangkan bunga pinjaman merupakan pendapatan yang diterima dari nasabah peminjan (debitur). 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Suku Bunga
Agar keuntungan yang diperoleh dapat maksimal, maka pihak manajemen bank harus pandai dalam menentukan besar kecilnya komponen suku bunga. Menurut Kasmir (2008:137-140), faktor-faktor utama yang mempengaruhi besar kecilnya penetapan suku bunga adalah sebagai berikut:

1. Kebutuhan Dana
Faktor kebutuhan dana dikhususkan untuk dana simpanan, yaitu seberapa besar kebutuhan dana yang diinginkan. Apabila bank kekurangan dana, sementara permohonan pinjaman meningkat, yang dilakukan oleh bank agar dana tersebut cepat terpenuhi adalah dengan meningkatkan suku bunga simpanan. Namun, peningkatan suku bunga simpanan akan pula meningkatkan suku bunga pinjaman. Sebaliknya, apabila dana yang ada dalam simpanan di bank banyak, sementara permohonan pinjaman sedikit, maka bunga simpanan akan turun karena hal ini merupakan beban.

2. Target Laba yang diinginkan
Faktor ini dikhususkan untuk bunga pinjaman. Hal ini disebabkan target laba merupakan salah satu komponen dalam menentukan besar kecilnya suku bunga pinjaman.

3. Kualitas Jaminan
Kualitas jaminan juga diperuntukkan untuk bunga pinjaman. Semakin likuid jaminan (mudah dicairkan) yang diberikan, semakin rendah bunga kredit yang dibebankan dan sebaliknya.

4. Kebijaksanaan Pemerintah
Dalam menentukan baik untuk bunga simpanan maupun bunga pinjaman bank tidak boleh melebihi batasan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

5. Jangka Waktu
Faktor jangka waktu sangat menentukan. Semakin panjang jangka waktu pinjaman, akan semakin tinggi bunganya, hal ini disebabkan besarnya kemungkinan resiko macet di masa mendatang. Demikian pula sebaliknya, jika pinjaman berjangka pendek, bunganya relatif rendah.

6. Reputasi Perusahaan
Reputasi perusahaan juga sangat menentukan suku bunga terutama untuk bunga pinjaman. Bonafiditas suatu perusahaan yang akan memperoleh kredit sangat menentukan tingkat suku bunga yang akan dibebankan nantinya, karena biasanya perusahaan yang bonafid kemungkinan resiko kredit macet di masa mendatang relatif kecil.

7. Produk yang Kompetitif
Untuk produk yang kompetitif, bunga kredit yang diberikan relatif rendah jika dibandingkan dengan produk yang kurang kompetitif. Hal ini disebabkan produk yang kompetitif tingkat perputaran produknya tinggi sehingga pembayarannya diharapkan lancar.

8. Hubungan Baik
Biasanya bunga pinjaman dikaitkan dengan faktor kepercayaan kepada seseorang atau lembaga. Dalam praktiknya, bank menggolongkan nasabah antara nasabah utama dan nasabah biasa. Penggolongan ini didasarkan kepada keaktifan serta loyalitas nasabah yang bersangkutan kepada bank. Nasabah yang memiliki hubungan baik dengan bank tentu penentuan suku bunganya pun berbeda dengan nasabah biasa.

9. Persaingan
Dalam kondisi tidak stabil dan bank kekurangan dana, sementara tingkat persaingan dalam memperebutkan dana simpanan cukup ketat, maka bank harus bersaing keras dengan bank lainnya. Untuk bunga pinjaman, harus berada di bawah bunga pesaing agar dana yang menumpuk dapat tersalurkan, meskipun margin laba mengecil.

10. Jaminan Pihak Ketiga
Dalam hal ini pihak yang memberikan jaminan kepada bank untuk menanggung segala risiko yang dibebankan kepada penerima kredit. Biasanya apabila pihak yang memberikan jaminan bonafide, baik dari segi kemampuan membayar, nama baik, maupun loyalitasnya terhadap bank, bunga yang dibebankan pun juga berbeda. Begitu pun sebaliknya.
[read more..]
 

Blog Info

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
My Ping in TotalPing.com

Visitor Info