Thursday, October 9, 2014

MEMBINA HUBUNGAN KELUARGA AGAR TETAP HARMONIS DAN TIRUAN BAGI MASYARAKAT

0 komentar
Kunci keberhasilan dalam kehidupan adalah "Mempertahankan Keluarga Harmonis 

Harta yang paling berharga adalah keluarga 
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga

Apa yang menjadi tujuan dalam suatu perkawinan ? 
Di dalam perkawinan terdapat aktivitas yang dilakukan oleh suami dan istri. Oleh karena itu dalam perkawinan (suami-istri) pasti mempunyai suatu tujuan, yaitu membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal. Keluarga dikatakan bahagia apabila dalam keluarga tersebut tidak terjadi konflik terus menerus atau ketegangan-ketegangan yang dapat menimbulkan pertengkaran-pertengkaran, sehingga keluarga berjalan "smooth" tanpa goncangan-goncangan yang berarti (free from quarelling).

Tujuh hal yang dapat kita persiapkan untuk dapat mengarungi perjalanan rumah tangga dengan baik dan lancar, adalah:

· PERTAMA, adalah Rumah Tangga. Rumah tangga disini diibaratkan sebagai sebuah kapal (bahtera) yang kokoh. Oleh karenanya dalam rumah tangga, harus dibangun atas dasar taqwa, cinta, suka sama suka dan didukung dengan kedua belah pihak keluarga yang merestui serta adanya ridho dari Tuhan Yang Maha Pencipta. Selain itu, harus adanya niat dan kebulatan tekad bahwa dalam berumah tangga itu harus berdasarkan ajaran agama yang dianut dan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan ini mudah-mudahan, rumah tangga akan menjadi kokoh. 

· KEDUA , adanya mesin yang betul-betul baik. Mesin yang dimaksud disini adalah Hati. Artinya bahwa suami istri harus memiliki tujuan yang sama dalam membangun rumah tangga. Berumah tangga bukan hanya sekedar untuk melepas nafsu birahi, melainkan harus memiliki tujuan untuk mencetak generasi-generasi bangsa yang baik, kuat dan tangguh serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tanpa punya perasaan sehati, mungkin saja tujuan tidak akan tercapai. Maka dengan dasar ini, suami istri harus mengetahui dan memahami tentang kepribadian masing-masing.

·KETIGA, adalah dengan adanya bahan bakar yang cukup dan memadai. Bahan bakar yang dimaksud disini adalah Akhlak. Dalam berumah tangga, apabila hanya berbekal cinta dan perasaan saja, tanpa dibekali atau dibarengi dengan adanya akhlak yang mulia, jangan berandai-andai dapat menguasai medan perjuangan yang berat itu. Akhlak adalah pondasi utama dalam beragama. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa : ”tidaklah dikatakan dunia kecuali dengan agama dan tidaklah dikatakan agama kecuali dengan akhlak mulia”. Oleh karena itu kita harus membangun rumah tangga dengan akhlak yang mulia. Akhlak sebagai pondasi utama untuk membangun rumah tangga. Prinsip akhlak disini adalah saling menghargai, menghormati, menyayangi, bersikap dengan penuh senyum. 

·KEEMPAT, adalah membawa peta dan kompas sebagai pedoman perjalanan agar tidak tersesat dalam perjalanan. Dalam hal ini, Kitab suci agama adalah sebagai peta dan kompas. Sebagai pedoman agar tidak tersesat dalam perjalanan dan ketika kita menemukan kesulitan, keresahan dalam perjalanan rumah tangga, maka baca dan pahamilah kitab suci agama yang dianut kemudian kembalikan dan pasrahlah kepada Tuhan Yang Maha Menciptakan. Suami dan istri harus saling mengingatkan dan bekerjasama dalam menghadapi kesulitan hidup. Semua persoalan harus diselesaikan berdua dan ingatlah untuk selalu pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena ada ungkapan bahwa dengan selalu ingat kepada Tuhan, itu dapat dijadikan sebagai obat bagi kita, tetapi jika selalu ingat pada manusia itu adalah penyakit bagi kita. 

·KELIMA, adalah membawa peralatan yang memadai untuk mengantipasi macet. Dalam hal ini peralatan tersebut adalah Nasehat. Agama adalah nasehat, oleh karena itu kembalilah kepada ajaran agama yang dianut dalam menghadapi setiap persoalan, sehingga mudah terselesaikan. Maka dalam kehidupan rumah tangga, sepenuh apapun perasaan cinta suami pada istri atau sebaliknya, kesalahpahaman dan perselisihan (baik kecil maupun besar) mesti ada. Suami dan istri harus saling mengingatkan, saling menasehati dengan sabar antara keduanya untuk mencapai kebaikan. Selain itu, kita juga butuh nasehat-nasehat dari orang tua, tokoh agama, tokoh masyarakat, atau orang yang dianggap lebih berpengalaman, sebagai obat pencerahan dalam mencapai tujuan hidup yang mungkin salah dilakukan oleh kita. Dengan mendapatkan nasehat-nasehat akan tumbuh saling percaya, saling memaafkan, dan menghargai kesalahpahaman yang terjadi. 

·KEENAM, adalah nahkoda yang pandai, lihai, dan memiliki strategi untuk mengemudi kapal. Dalam rumah tangga, suami adalah sebagai nahkoda yang lihai. Suami harus pandai memainkan peranan, dapat menjadi panutan, cerdas melihat situasi, agar penumpang atau orang yang bersamanya merasa aman, tenang dan nyaman. Seorang suami harus memiliki ikhtiar dalam menjalankan perannya, sehingga seburuk apapun situasi dan kondisi yang dihadapinya, suami harus tenang, sabar, dan berserah diri pada Tuhan Yang Maha Esa. Contoh perumpamaan adalah suami sebagai seorang nahkoda yang menghadapi cuaca yang buruk. Dia harus tetap tenang untuk mencapai tujuan, maka secara perlahan-lahan tapi pasti, dia akan lalui badai tersebut dan seluruh penumpang pasti akan menghormati dan menghargainya. Penghargaan itu akan datang dengan sendirinya, mungkin saja berupa ucapan terima kasih, mungkin ciuman, pelukan, bahkan dengan kepasrahan diri penumpang dan penumpang tersebut tiada lain adalah istri. 

·KETUJUH, adalah membawa bekal yang cukup dalam perjalanan. Kepasrahan, sebagai bekal yang cukup. Dalam menjalani kehidupan rumah tangga, kita harus banyak berusaha (bekerja) dan berdoa mencari anugrah Tuhan untuk kehidupan akhirat, tetapi jangan lupa nasib (bagian) mu untuk kehidupan dunia dan berbuat baiklah sebagaimana Tuhan berbuat baik padamu”. Karena usaha atau bekerja tanpa do’a akan sia-sia, dan begitu juga sebaliknya do’a tanpa usaha atau bekerja adalah mimpi atau angan-angan belaka. Suami harus berusaha mencari nafkah untuk menghidupi istrinya. Suami dan istri harus dapat bekerja sama untuk melindungi perjalanan yang panjang, seorang suami selayaknya mengerti kebutuhan istri dan begitu pula sebaliknya selayaknya mengerti kebutuhan suami. Dengan demikian, akan terbangun sikap saling menghargai dan toleransi dalam berumah tangga. 

Beberapa tinjauan psikologis terhadap keluarga di antaranya dapat dinyatakan melalui aspek-aspek sebagai berikut:

· Kematangan emosi dan pikiran. Kematangan emosi seseorang akan terkait erat dengan pikirannya. Jika seseorang telah matang dan dapat mengendalikan emosinya, maka orang tersebut dapat berpikir secara jernih, tenang dan lebih obyektif dalam menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupan keluarganya. Contohnya, jika seorang suami mengalami benturan dan ketegangan dengan istrinya, maka ia harus dapat mengendalikan kemarahannya dengan tetap berpikir positif dan jernih, tenang dan obyektif dalam menyampaikan pendapatnya, tanpa membabi buta, sehingga ucapan-ucapannya pun tidak lepas kendali karena masih dalam pengendalian dirinya secara matang dan sebaliknya.

· Toleransi. Suami dan istri perlu mengembangkan sikap saling toleransi terhadap pasangannya masing-masing. Jika salah satu pihak merasa kurang dapat melaksanakan komitmen yang sudah dibuat dengan alasan yang kuat, sebaiknya pihak lain tidak memaksakan kehendaknya, apalagi menekan atau mengancam, tetapi sebaliknya diperlukan sikap toleran terhadap kendala yang dihadapi oleh pasangannya dalam keluarga. Contohnya, jika melihat istri merasa kurang "mood" melakukan hubungan seks karena kesehatannya agak terganggu, sebaiknya suami bersikap toleran terhadap perasaan istri. Demikian juga sebaliknya, seandainya istri melihat suaminya sibuk, maka ia berusaha untuk bersikap toleran terhadap kesibukkan suami.

· Perhatian. Munculnya sikap saling perhatian antara suami dan istri karena adanya rasa kasih sayang yang menganggap bahwa pasangannya adalah yang terpenting dalam kehidupan keluarga mereka. Saling perhatian yang terjalin di antara suami-istri akan sangat membantu mereka untuk berkembang dan menjadikan seseorang mempunyai daya tarik tersendiri. Contoh, pada waktu suami berangkat ke kantor, istri mempersiapkan keperluan suami baik berupa perlengkapan pakaian maupun sarapan pagi. Sebaliknya, jika istri membutuhkan pergi berbelanja ke pasar atau mall, maka suami seharusnya bersedia untuk mengantar dan mendampinginya.

· Pengertian. Menciptakan hubungan saling pengertian di antara suami dan istri, dapat menjadi salah satu pijakan untuk memahami kekuatan dan kelemahan pasangan masing-masing. Contohnya, jika suami menghendaki istrinya menjadi pengelola keuangan rumah tangga, maka istri perlu mengatur dengan cermat agar tidak timbul masalah di kemudian hari dan sebaliknya. Jika istri mempunyai kebiasaan mengatur kebersihan rumah agar selalu tampak rapi, maka suami pun perlu mengimbanginya. Atau contoh lain, jika suami mempunyai kebiasaan tidur sambil mendengkur, maka istri perlu memahaminya agar ia dapat menyesuaikan dirinya dan sebaliknya.

· Penerimaan. Sikap menerima terhadap kekurangan sangat perlu, supaya tidak menimbulkan kekesalan. Disamping itu, kekecewaan yang disebabkan kegagalan dan tidak tercapainya harapan dapat merusak suasana rumah tangga jika tidak diterima dengan lapang dada. Contoh, seorang suami yang sudah berusaha keras untuk menopang kehidupan selalu bekerja keras. Namun, usaha kerja keras suami seringkali tidak membuahkan hasil yang nyata untuk menopang kehidupan keluarga. Dalam waktu yang bersamaan jika istrinya terus menerus mengutarakan kekecewaan kepada suaminya, maka lambat laun suaminya menjadi jengkel dan kesal yang akhirnya dapat merusak hubungan kedua belah pihak dalam keluarga. Tetapi, jika istri dapat menerima semua kegagalan yang dihadapi suaminya, maka suaminya pun akan merasa senang dan tenang karena istrinya dapat memahami kegagalannya, sehingga kedua pihak dapat membangun rumah tangga yang lebih nyaman, tentram dan bahagia.

· Kepercayaan. Suami dan istri yang saling percaya tanpa menaruh kecurigaan akan membantu memperlancar tercapainya tujuan komunikasi. Pernyataan, pendapat, atau komitmen masing-masing pasangan yang secara meyakinkan dapat dipercaya dan diandalkan, dapat membuat kedua pihak lebih tenang dalam menjalankan aktivitas mereka masing- masing dan menjadi lebih solid dalam membangun rumah tangga. Contohnya, jika kedua pasangan tidak menaruh kepercayaan dan terus menerus curiga satu sama lain, maka akan menghambat tujuan komunikasi yang diharapkan. Akhirnya, dapat menjerumuskan suami dan istri masuk dalam jurang yang semakin tidak nyaman, jauh dari kemesraan, dan komunikasi menjadi terputus karena kedua pihak ingin memuaskan keinginan mereka sendiri.

Jadi dapat kita simpulkan dari penjelasan di atas adalah dalam usaha untuk mencapai keluarga bahagia dan harmonis, maka pasangan diharapkan mempunyai tujuan yang jelas dalam berumah tangga. Kemudian dapat memenuhi kebutuhan yang diharapkan serta menciptakan komunikasi yang kondusif di antara suami dan istri. Tinjauan psikologis dan pertimbangan kematangan emosi dan pikiran, saling toleransi, saling perhatian, saling mengerti, saling menerima, dan saling meningkatkan kepercayaan antara suami-istri dan anak adalah penting dalam kehidupan keluarga terutama dalam mengatasi hambatan-hambatan yang seringkali muncul dalam kehidupan rumah tangga
[read more..]

Wednesday, October 8, 2014

Mencegah agar tidak mudah terserang penyakit

0 komentar
Untuk mengecegah segala bibit penyakit pada metabolisme tubuh kita, agar tetap segar dan semangat dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. maka disini akan dijelaskan sedikit tentang menjaga ketahanan tubuh agar tetap fit.

1. Membiasakan buat lucu di pagi hari agar ketawa dengan syarat ketawanya bukan yang dibuat-buat
    Disaat bangun pada pagi hari biasakanlah meleontarkan kata-kata humur kepada keluarga, agar bisa menimbulkan ketawa bersama, sehingga otak kita terasa segar, dan kelancaran darah pada metabolisme tubuh kita menjadi lancar.

2. Biasakan berdoa setelah bangun dari tidur
    Sebelum beranjak ke tempat lain misalnya ke kamar mandi, ke dapur dan lain-lain, ajalah keluarga untuk berdoa bersama, jikalau mereka sudah duluan bangun, berdoalah sendiri secara iklas sampaikan ucapan rasa syukur atas berkat-Nya pada malam hari hingga masih diberi nafas kehidupan, kesehatan pada pagi hari.

3. Jauhkan dan menghidar lah dari kemarahan, kesal, kecewa khususnya pada pagi hari
    Dalam kehidupan sehari-hari tak luput dari segala cobaan tantangan baik suka maupun duka, untuk itu kita harus bisa menjadikan jiwa kita jiwa kesatria untuk menjaga dan melatih diri kita sendiri agar tidak mudah marah, kesal dan kecewa terhadap orang-orang di sekitar kita khususnya orang-orang keluarga kita terdekat yang biasanya kita merasa kecewa, marah atas ulah kelakuan mereka. untuk itu belajar dan terapkanlah mulai anda membacara artikel ini agar tidak mudah marah, tersingguh, kecewa, kesal demi kesehatan anda harus membiasakan diri untuk membuat ide menyelesaikan hal-hal tersebut dengan arif dan bijaksana sesuai berkat2 yang telah diberikan Yang Maha Kuasa terhadap kita , INGATLAH ini semua demi kesehatan anda sendiri.

4. Olahraga yang cukup dan teratur 
    Walaupun sangat banyak bahkan antri job kesibukan yang menunggu anda di kantor, baik dilapangan, tetapi atur dan biasakanlah membuat Program khusus Olahraga pada pagi hari, bila perlu buatlah jadwal tempat olahraga, serta gerakan apa yang harus dilakukan, dan biasakanlah untuk bersama-sama dengan keluarga, karena apa pun ceritanya kebersamaan itu sangat lah penting dan memberikan semagat hidup kepada kita.

5. Makan yang teratur
    Janganlah terburu-buru untuk makan pada saat makan biarpun sangat banyak pekerjaan yang menanti adan, tetapi buatlah waktu khusu untuk menyantap makanan yang telah tersedia untuk anda, karena apabila anda lebih mementingkan kerjaan anda daripada keteraturan jadwal makan anda, maka tidak ada gunanya banyak hasil pekerjaan yang anda punya, karena hidup ini hanya anugrah dan bersifat sementara.

6. Membiasakan disiplin untuk jam kerja yang teratur
     Biasakanlah disiplin serta bertanggung jawab sesuai dengan prinsip hati nuranimu, bahwa pekerjaan ini sampai sini, pekerjaan ini selesai sampai jam....hari......ini, supaya kelak ada pekerjaan lain, baik job atau rapat tugas tambahan, tugas ke luar kota, tidak memeras perputaran program kerja otak anda, jadi utamakanlah kedisiplinan menyelesaikan pekerjaan anda.

7. Membatasi waktu lembur
     Walapaun lumayan upah tambahan lembur, demi tercapainya ketercukupan dalam kehidupan ekonomi keluarga, tetapi semuanya adalah kesehatan anda lah taruhannya, jadi saya sayarakan anda perlu mempertimbangkan waktu lembur anda, agar tetap fit dalam kehidupan sehari-hari.

8. Tidur yang cukup
    Tidur lah dengan waktu yang cukup, dan usahakanlah apabila anda sudah berada di tempat tidur, agar melupakan segala sesuatu pekerjaan, atau hal-hal yang telah anda lakukan aktifitas seharian, agar pikiran anda tenang dan tidur dengan sehat.

Itulah sedikit hasil pemikiran ide saya yang saya tuliskan di Blog saya ini pada jam 13.09 WIB.
terimakasih semoga bermanfaat untuk adan
Salam saya Efendi Pakpahan,Amd. 
[read more..]

Monday, October 6, 2014

UNSUR-UNSUR YANG MENJADI PERTIMBANGAN DALAM MANAJEMEN KOMUNIKASI

0 komentar
Unsur-Unsur Yang Menjadi Pertimbangan Dalam Manajemen Kompensasi 
Tujuan manajemen kompensasi adalah untuk mebantu perusahaan mencapai tujuan keberhasilan strategis perusahaan dan menjamin terjadinya keadilan internal dan eksternal. Keadilan eksternal menjamin bahwa pekerjaan-pekerjaan dikompensasi secara adil dengan membandingkan pekerjaan yang sama di pasar kerja. Kadang-kadang tujuan ini bisa konflik satu sama lainnya, dan trade-offs harus terjadi. Misalnya, untuk mempertahankan para karyawan dan menjamin keadlian, analisis upah dan gaji merekomendasi pembayaran jumlah yang sama untuk pekerjaan-pekerjaan yang sama. Akan tetapi, perekrut pekerja mungkin menginginkan untuk menawarkan upah tidak seperti biasanya, yaitu upah yang tinggi untuk menarik pekerja yang berkualifikasi. Maka terjadilah trade offs antara tujuan rekruitmen dan konsistensi tujuan dari manajemen kompensasi. Sementara keadilan internal menjamin bahwa permintaan posisi yang lebih tinggi dan orang yang lebih berkualifikasi dalam perusahaan akan diberi pembayaran yang lebih tinggi.

Dengan demikian menurut Mangkuprawira (2003) ada beberapa prinsip yang diterapkan dalam manajemen kompensasi, antara lain :
  1. Terdapatnya rasa keadilan dan pemerataan pendapatan dalam perusahaan.
  2. Setiap pekerjaan dinilai melalui proses evaluasi pekerjaan dan kinerja atau performance.
  3. Mempertimbangkan keuangan perusahaan.
  4. Nilai rupiah dalam sistem penggajian mampu bersaing dengan harga pasar tenaga kerja sejenis.
  5. Sistem penggajian yang baru dapat membedakan orang yang berprestasi baik dan yang tidak dalam golongan yang sama.
  6. Sistem penggajian yang baru harus dikaitkan dengan penilaian kinerja karyawan.
Pada umumnya karyawan akan menerima perbedaan kompensasi yang berdasarkan tanggungjawab, kemampuan, pengetahuan, produktivitas, “on – job” atau kegiatan-kegiatan manajerial. Sedangkan pembayaran yang berdasarkan ras, kelompok etnis, dan jenis kelamin, dilarang oleh hukum dan kebijaksanaan umum.

Handoko (1998) menyatakan bahwa: Kebijaksanaaan-kebijaksanaan dan praktek-praktek manajemen ditentukan oleh interaksi dari tiga faktor, yaitu :

1. Kesediaan membayar
Kesediaan membayar adalah merupakan pernyataan yang berlebihan untuk menyatakan bahwa para manajer sebenarnya ingin membayar upah secara adil. Oleh sebab itu para manajer juga merasa bahwa para karyawan seharusnya melakukan pekerjaan sesuai upah yang mereka terima. Manajer perlu mendorong para karyawan untuk meningkatkan keluaran mereka agar upah dan gaji yang lebih tinggi dapat dibayarkan.

2. Kemampuan membayar
Tanpa memperhatikan semua faktor lainnya, dalam jangka panjang realisasi pemberian kompensasi akan tergantung pada kemampuan membayar dari perusahaan. Kemampuan membayar perusahaan tergantung pada pendapatan dan laba yang diraih, dimana hal ini tergantung pada performance yang diberikan karyawan. Penurunan performance karyawan dan inflasi akan mempengaruhi pendapatan nyata karyawan.

3. Persyaratan-persyaratan pembayaran
Dalam jangka pendek, pengupahan dan penggajian sangat tergantung pada tekanan eksternal dari pemerintah, organisasi karyawan (serikat buruh) dan para pesaing. Sebagai contoh, peraturan pemerintah tentang upah minimum merupakan batas bawah tingkat upah yang akan dibayarkan.

Hadipurnomo (1992) menyatakan bahwa : Untuk memperoleh dasar upah yang sehat perlu adanya pertimbangan sebagai berikut :
1. Apakah yang dicapai oleh sistem upah itu.
2. Apakah sistem upah itu cocok untuk pelaksanaan bentuk usaha yang bersangkutan.
3. Apakah sistem upah itu dapat diterima masyarakat umum yang bersangkutan.
4. Apakah derajat upah itu selaras dengan pasaran upah ditempat upah tersebut.

Dasar upah yang benar haruslah mempunyai kriteria sebagai berikut :
  1. Dasar upah itu harus pasti, tetapi harus memiliki sifat ringkas, sehingga memungkinkan untuk disesuaikan dengan keadaan.
  2. Harus memungkinkan tercapainya ongkos-ongkos perusahaan yang serendah-rendahnya dan memberikan kemungkinan meninggikan produksi dan mengembangkan usaha.
  3. Adanya perimbangan antara upah yang diberikan perusahaan dengan tenaga yang diberikan karyawan sehingga karyawan merasa betah bekerja di perusahaan.
  4. Harus menunjukkan suatu upah yang layak melalui pertimbangan tugas yang diemban karyawan.
Dalam etika tata perusahaan yang wajar akan terdapat suatu itikad yang menetapkan bahwa upah itu harus dapat menjamin penghidupan yang layak dari para tenaga kerja bersangkutan serta keluarganya. Upah ini dinamakan upah penghidupan. Itikad ini bersendikan pada suatu dasar bahwa usaha itu mempunyai fungsi rangkap. Maksud fungsi rangkap disini adalah bertujuan memperoleh keuntungan bagi pemiliknya dan di lain pihak dapat mendatangkan manfaat bagi masyarakat umumnya dan bagi para pekerja khususnya.
[read more..]

JENIS-JENIS KOMPENSASI

0 komentar
Jenis-jenis Kompensasi : Kompensasi pegawai berarti bahwa semua bentuk penggajian atau ganjaran mengalir kepada pegawai dan timbul dari kepercayaan mereka.

Menurut Dessler (1992), kompensasi pegawai memiliki tiga komponen, yaitu :
  1. Pembayaran secara langsung (direct financial payment) dalam bentuk upah, gaji, insentif, dan bonus.
  2. Pembayaran tidak langsung (indirect payment) dalam bentuk tunjangan seperti : asuransi dan liburan atas dana perusahaan.
  3. Ganjaran nonfinansial (nonfinancial rewards) seperti hal-hal yang tidak mudah dikuantifikasi, yaitu ganjaran-ganjaran seperti : pekerjaan yang lebih menantang, jam kerja yang lebih luwes, dan kantor yang lebih bergengsi.
Banyak karyawan dibayar (dalam kas) pada setiap akhir kerja berdasarkan jumlah jam kerja. Di lain pihak, banyak juga yang dibayar berdasar jam kerja yang diterima pada akhir minggu. Bentuk pembayaran ini disebut upah harian. Para karyawan lain dibayar dengan bentuk gaji tetap setiap minggu, bulanan atau tahunan. Di samping itu, bentuk upah insentif (seperti bonus dan komisi) banyak dipakai pada karyawan bagian produksi dan penjualan. Banyak perusahaan juga mempunyai rencana pembagian laba (profit sharing plan), di mana karyawan menerima sejumlah persentase tertentu dari laba perusahaan sebagai pendapatan ekstra (Handoko, 1998).

Kompensasi (gaji dan upah) dapat diperhitungkan sebagai upah yang riel atau upah uang. Upah uang adalah jumlah yang dihitung menurut harga nominal mata uang yang diterima oleh buruh, sedangkan upah nyata (riel) dalam jumlah uang yang dihitung dengan memperhitungkan upah tersebut dengan kebutuhan yang diperlukan oleh penerima upah. Upah yang diterima setiap pekerja dari suatu perusahaan tidak sama besarnya. Besar kecilnya upah yang diterima tergantung pada beberapa faktor.

Menurut Ranupandoyo (1994), bahwa faktor yang mempengaruhi besar kecilnya tingkat upah yang diterima oleh setiap pekerja adalah :
1. Penawaran dan permintaaan tenaga kerja.
2. Organisasi buruh.
3. Kemampuan untuk membayar dari perusahaan.
4. Produktivitas.
5. Biaya hidup.
6. Pemerintah.

Perbedaan dalam pengupahan atau penggajian (salary differentials) dapat dibenarkan karena syarat pekerjaan yang berbeda dan ini selalu ada pada setiap perusahaan. Pekerjaan yang memerlukan pengetahuan dan skill yang lebih tinggi akan mendapat upah atau gaji yang lebih besar jika dibandingkan dengan pekerjaan yang memerlukan pengetahuan dan skill yang lebih rendah. Atau dengan kata lain pekerjaan yang memerlukan tingkat pengetahuan (pendidikan) serta pengalaman tertentu akan mendapat upah yang lebih besar.

Pola upah ini cendrung dirumuskan oleh perusahaan yang telah berhasil dengan baik di dalam menetapkan tingkat upah para pekerja di suatu daerah sehingga pola ini akan diikuti perusahaan lain di daerah tersebut.

Secara garis besarnya sistem pengupahan dimaksud berbentuk :
1. Sistem pengupahan berdasarkan waktu (Time Rate System)
2. Sistem pengupahan berdasarkan satuan hasil (Piece System)
3. Sistem pengupahan berdasarkan premi (Wage Insentive System).

Selain dari pada sistem upah yang telah dijelaskan di atas, dalam prakteknya perusahaan sering pula menentukan tingkat upah seorang pekerja berdasarkan :
  1. Sistem upah borongan yaitu sistem upah ini diberikan kepada sekelompok pekerja dan masing-masing pekerja. Sistem ini dipergunakan terutama bagi suatu jenis pekerjaan yang hasil pekerjaan untuk setiap pekerjaan sukar diukur.
  2. Sistem skala upah berubah yaitu sistem skala upah berubah biasanya menganut salah satu dari 2 cara, yaitu sebagai berikut :
  • Sistem upah scale yang menghubungkan tingkat upah dengan tingkat harga jual barang yang dihasilkan perusahaan.
  • Sistem upah indeks ialah yang menghubungkan tingkat upah dengan tingkat angka indeks biaya kehidupan.
3. Sistem upah pembayaran laba yaitu sistem ini menetapkan bahwa buruh tidak hanya menerima upah biasa tetapi juga bagian laba dengan ketentuan yang telah ditetapkan perusahaan.
Dari uraian di atas, maka dirasa perlu adanya sistem upah atau gaji yang tepat pada karyawan agar dapat mendorong para karayawan lebih giat bekerja sekaligus akan meningkatkan produktivitas kerja.
[read more..]
 

Blog Info

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
My Ping in TotalPing.com

Visitor Info