Saturday, February 16, 2013

Ciri ciri Cerpen

Ciri-ciri cerpen
Tarigan (1984:177-178) menyatakan ciri-ciri cerpen adalah sebagai berikut:
1.      ciri-ciri utama adalah singkat, padat, intensif,
2.      unsur-unsur utama cerpen adalah adegan, tokoh, dan gerak,
3.      bahasa cerita pendek haruslah tajam, sugestif, dan menarik perhatian,
4.      mengandung interprestasi pengarang tentang konsepsinya mengenai kehidupan baik secara langsung ataupun tidak langsung,
5.      sebuah cerpen harus menimbulkan perasaan pada pembaca bahwa jalan ceritalah yang pertama-tama menarik perasaan, kemudian menarik pikiran,
6.      cerpen harus menimbulkan satu aspek dalam pikiran pembaca,
7.      cerpen mengandung detail-detail dan insiden yang dipilih dengan sengaja dan bisa menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran pembaca,
8.      dalam sebuah cerpen sebuah insiden yang terutama menguasai jalan cerita,
9.      cerpen harus mempunyai pelaku utama,
10.  cerpen harus mempunyai efek atau kesan yang menarik,
11.  cerpen memberikan inpres tunggal,
12.  cerpen menyajikan suatu kebulatan efek,
13.  cerpen menyajikan satu emosi,
14.  jumlah kata yang terdapat dalam cerpen biasanya dibawah 10.000 kata tidak boleh lebih dari 10.000 kata (kira-kira 33 halaman koarto spasi rangkap).
Memperhatikan ciri-ciri cerpen di atas, patut dicatat bahwa cerpen tidak hanya dilihat sebagai karya semata tetapi sebagai sebuah sistem dengan melibatkan sejumlah komponen atau ciri-ciri yang membangun cerpen tersebut.

Pengertian Nilai
Konsep budaya pada dasarrnya merupakan suatu sistem nilai. Menurut Geria dalam I Made Budiasa (1997:18), ”Sistem nilai mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kebudayaan. Sistem nilai menempati posisi dalam struktur budaya suatu masyarakat baik merupakan perangkat struktur dalam arti kehidupan manusia secara individual maupun sosial.”
Sistem nilai menurut Koentjaraningrat dalam I Made Budiasa (1997:19) biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Sistem tata kelakuan manusia lain yang tingkatnya lebih konkret seperti norma, hukum, aturan-aturan khusus, semuanya juga berpedoman pada sistem nilai budaya.” Sejalan dengan pendapat di atas, Maran (2000:40) menjelaskan, ”nilai mengatur pada apa atau sesuatu yang oleh manusia dan masyarakat dipandang sebagai yang paling berharga, dengan perkataan lain nilai itu berasal dari pandangan hidup suatu masyarakat pandangan hidup itu berasal dari sikap manusia terhadap Tuhan, terhadap alam semesta dan terhadap sesamanya.”
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai merupakan pedoman tertinggi bagi kehidupan manusia yang mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kebudayaan. Nilai juga dipandang yang paling berharga yang merupakan pandangan hidup suatu masyarakat juga dipatuhi oleh kelompok pendukung atas pengayom nilai itu.
Mulyadi (1996:36) menyatakan fungsi nilai adalah sebagai berikut:
1. nilai merupakan seperangkat alat untuk menetapkan harga diri pribadi atau kelompok,
2. nilai berfungsi untuk membentuk cara berpikir dan berprilaku secara ideal dalam masyarakat,
3. nilai merupakan faktor penentu yang terakhir bagi manusia dalam memenuhi peranan-peranan sosialnya sehingga tercapai sasaran masyarakatnya,
4. nilai merupakan alat pengawas, daya tekan dan daya mengikat tertentu supaya manusia terdorong, tertekan untuk berbuat sebaik-baiknya,
5. nilai dapat berfungsi sebagai alat solidaritas dikalangan anggota kelompok dan masyarakat.
Berdasarkan pendapat di atas bahwa fungsi nilai tersebut merupakan suatu patokan yang dipandang sebagai yang paling berharga. Nilai tersebut merupakan tanggapan yang bernilai sesuai dengan penilai tersebut.

Pengertian Sosial Budaya
          Menurut Waluyo (1994:52) bahwa ”Dalam cerita fiksi, latar belakang yang ditampilkan meliputi: tata cara kehidupan, adat istiadat, kebiasaan, sikap, upacara adat dan agama, sopan santun, hubungan kekerabatan dengan masyarakat, dan sebagainya.”
          Sosio budaya yang ditampilkan dapat dilihat dari tempat (pedesaan, perkotaan, luar negeri, dan lain-lain) dan unsur waktu (misalnya sebelum dan sesudah kemerdekaan). Cerita yang ditampilkan pengarang mengandung permasalahan yang sesuai dengan permasalahan masyarakat pada zaman tertentu.
Koentjaraningrat (1993:2-3) mengatakan, ”Nilai sosio budaya merupakan suatu sistem nilai yang ada dalam alam pikiran manusia yang dianggap amat bernilai dalam hidup dan menjadi pedoman tertinggi bagi tingkah laku manusia.” Sejalan dengan itu Sujarwo (dalam Rosyadi 1995:26) mengatakan, ”Nilai sosio budaya berfungsi untuk memberi pendidikan budaya dalam keluarga, seperti: budi pekerti, yang berlaku dalam masyarakat.”
          Berdasarkan kedua pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa nilai sosio budaya bersifat abstrak yang dianggap amat bernilai dalam kehidupan yang berfungsi untuk memberi pendidikan budaya.

Pengertian Cerpen 
Menurut Parera (1996:43), ”Cerpen adalah cerita yang isinya terdiri dari beberapa halaman saja, sehingga pembaca dapat membacanya hanya dalam beberapa waktu.” Sementara dalam Kamus Besar Indonesia (2001:43), ”Cerpen adalah kisah pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan tumggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi.” Sedangkan Rosidi dalam Antilan (2001:53) menyatakan, ”Cerpen adalah cerita pendek dan merupakan suatu kebulatan ide.”
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa cerpen adalah cerita pendek yang hanya memuat beberapa halaman saja (maksimal 10.000 kata) dan bila dilihat dari isinya cerpen yang baik adalah adanya dramatik dalam cerita.
Karya sastra merupakan salah satu cerminan nilai-nilai budaya dan tidak terlepas dari sosio budaya serta kehidupan masyarakat yang digambarkannya. Karya sastra sebagai hasil imajinatif dan pemikiran seseorang, selamanya tidak akan terlepas dari latar kehidupan, pengalaman, lingkungan yang ada disekeliling penciptanya. Didalam karya sastra itu selalu berbagai ide, suatu harapan, nilai kehidupan atau norma-norma gambaran kenyataan atau alternatif jalan dari sebuah permasalahan yang ingin disampaikan kepada pembaca, sehingga pembaca dapat menilai dan mengambil sikap. Ali (1997:78) mengatakan, ”Sastra menghubungkan kita secara mesra dengan segala aspek kita dengan nilai-nilainya yang serbaneka, yang pada saat-saat tertentu bisa atau malah dibisakan menimbulkan benturan-benturan sesuai dengan anutan paham, doktrin, serta nilai yang serbaneka tadi.”
Dari pendapat Ali tersebut sudah jelas, bahwa dalam suatu sastra terdapat berbagai nilai yang terlukis yang terdapat dan berlaku bagi kehidupannya salah satunya adalah nilai sosio budaya.
Jadi, dapat disimpulkan pengertian nilai sosio budaya dalam cerpen adalah bahwa dalam suatu sastra (cerpen) terdapat sistem nilai yang ada dalam pikiran manusia yang merupakan konsep abstrak cerita fiksi yang menggambarkan peristiwa yang dialami sang tokoh dalam cerita mengenai masalah dasar yang sangat penting dan bernilai dalam kehidupan manusia atau sifat-sifat masyarakat baik itu mengenai hubungan interaksi yang berkenaan dengan tokoh yang memiliki suatu sistem kebiasaan yang dilakukan masyarakat itu sendiri.

Share :

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan masukkan saran, komentar saudara, dengan ikhlas saya akan meresponnya.