Tuesday, March 26, 2013

Pengertian Pendekatan Objektif


1. Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif merupakan pendekatan sastra yang menekankan pada segi intrinsic karya sastra yang bersangkutan (Yudiono, 1984 : 53). Yaitu pendekatan yang sangat mengutamakan penyelidikan karya sastra berdasarkan kenyataan teks sastra itu sendiri. Hal-hal yang diluar karya sastra walaupun masih ada hubungan dengan sastra dianggap tidak perlu untuk dijadikan pertimbangan dalam menganalisis karya sastra.

2. Prinsip umum Pendekatan Objektif
            Dalam pendekatan objektif telah banyak dikembangkan metode-metode penelitian, seperti formalisme Rusia, strukturalisme Perancis, strukturalisme Cekoslavia, New Criticiam Amerika, istilah strukturalisme juga berkembang menjadi post strukturalisme, struskturalisme dinamik, intertekstualisme, namun semuanya itu tidak akan diperinci dalam pembicaraan ini.

3. Prinsip Terapan Pendekatan Objektif
            Berdasarkan prinsip umum pendekatan objektif di atas dan unsur fiksi yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu maka terapan dalam cerpen dan novel tidaklah berbeda. Kedua fiksi ini mempunyai unsur yang sama yakni gaya bahasa, sudut pandang, alur, penokohan, latar, dan tema/amanat.
  
B. Metode Penelitian
            Metode yang digunakan dalam penelitan ini adalah metode deskriptif, yaitu mendeskripsikan data yang ada kemudian dianalisis secara kualitatif. Pendeskripsian data ini adalah tentang inventarisasi satuan peristiwa dan identifikasi satuan peristiwa. Penginventarisasian satuan peristiwa secara implicit telah menginventarisasi unsur latar yang memberi suasana satuan peristiwa.

C. Pembahasan Masalah
a. Masalah kehidupan di Pedesaan
            hidup di desa terpencil yang jauh dari keramaian kota dapat menimbulkan perasaan bosan terhadap orang-orang yang berada di dalamnya.  Hal inilah yang tengah melanda tokoh “Hiroko” seperti yang diungkapkannya kutipan berikut :
Aku semakin bosan oleh suasana rumah dan desa seperti kelabunya langit di musim dingin (Namaku Hiroko, 7).
           
b. Masalah Pendidikan
            tokoh “Hiroko” mencegah pendidikan hanya sampai sekolah rendah. Hal ini disebabkan keterbatasan biaya keluarga tokoh “hiroko” sekalipun hanya tamatan sekolah rendah, tokoh “Hiroko” sudah dapat membaca surat kabar seperti yang diungkapkannya pada kutipan berikut ini :
Dari sekolah rendah aku tidak meneruskan pelajaran ke tingkat yang lebih tinggi. Dengan pengetahuan huruf  kanji yang agar terbatas boleh diktakan aku sudah bisa membaca surat kabar (Namaku Hiroko, 9).

 c. Masalah Persahabatan
            persahabatan berlangsung sejak masa kanak-kanak sampai dewasa dan bahka sampai tua, persahabatan tidak terhambat dalam suasana susah, miskin, ataupun kaya. Persahabatan dihubungkan oleh kondisi lahiriah. Persahabatan dihubungkan oleh kondisi lahiriah. Persahabatan tidak hanya tidak berlangsung pada saat senang saja, tapi berlangsung juga saat susah dan senang.

d. Masalah Pekerjaan
            Kebutuhan hidup manusia yang semakin hari semakin mendesak, utamanya kebutuhan primer atau sekunder, menghendaki manusia bekerja sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bekerja seagai pembantu rumah tangga tidak menjadi soal bagi tokoh “Hiroko” karena memag pekerjaan demikianlah yang dapat dilakukannya. Seperti pada kutipan berikut ini :
Ketika ibuku bertanya macam pekerjaan yang akan kudapat disana dengan sabar dan pasti aku menjawab, tentunya sama dengan pekerjaan yang terdahulu. Ya, apakah yang bisa kukerjakan selain menolong sebagai pembantu rumah tangga, (Namaku Hiroko, 22).

e. Masalah Percintaan
            Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, tak cinta maka tak sudi berkorban, kebalikan dari pepatah ini menujukkan bahwa cinta itu datang dari rasa saling mengenal satu sama lain. Setelah saling mengenal maka tumbuh rasa sayang, kemudian rasa sayang berubah wujud menjadi cinta. Selanjutnya cinta membutuhkan pengorbanan, seperti pada kutipan berikut ini :
            Dengan susah payah seringkali aku menyembunyikan kebodohanku karena aku ketahuan olehnya sedang memandanginya. Dadaku terasa peletar api yang menggelagak, sehingga kukhawatirkan akan diketahui oleh orang-orang lain (Namaku Horoko, 36). 
Share :

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan masukkan saran, komentar saudara, dengan ikhlas saya akan meresponnya.