Friday, April 19, 2013

MENCARI SKENARIO PENGEMBANGAN PERTANIAN


KONDISI UMUM WILAYAH NUSA TENGGARA BARAT
Letak geografis Propinsi NTB sangat strategis karena berada pada lintas perhubungan Banda Aceh Atambua dan jalur segitiga pengembangan pariwisata Bali-Komodo-Tanah Toraja. Kondisi letak geografis ini merupakan peluang besar untuk pengembangan pertanian dan pariwisata serta sektor lain di daerah ini.
Kondisi iklim yang ada di Propinsi NTB sangat beragam dari iklim tropika basah (C3) yang ada di sekitar daerah pegunungan Rinjani Pulau Lombok dan Puncak Ngengas, Uthan Pulau Sumbawa dengan ciri vegetasi hutan tropika basah, sampai ke kondisi iklim semi ringkai tropika (tropical semi arid) tipe iklim D3, D4, E3 dan E4 (Oldeman dkk., 1977) dengan vegetasi hutan iklim kering sampai stepa dan savana serta padang rumput yang merupakan penciri khas untuk iklim kering semiringkai tropika.
Kondisi geologi wialayah NTB merupakan formasi tersier terdiri atas formasi batuan volkan tua, batuan intrusi (granodiorit), dan batuan sedimen (napal, batualiat dan batukapur). Volkan tua terdiri atas augit andesit, porfirit dan augit-hornblende-andesit. Formasi ini umumnya dijumpai di bagian selatan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa memanjang dari barat ke timur.
Kondisi fisiografi dan bentuk wilayah  NTB dibedakan dalam (a) daerah dataran, (b) volkan, (c) lipatan dan patahan, dan (d) angkatan. Daerah dataran terdiri atas dataran aluvial, aluvial-koluvial, aluvial-marin dan marin. Bentuk wilayah umumnya datar. Daerah volkan terdiri atas kerucut volkan yang masih utuh dan volkan yang sebagian telah tererosi. Daerah lipatan dan patahan penyebarannya paling luas di bagian selatan dari Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Daerah ini dibedakan dalam perbukitan lipatan dan pegunungan lipatan. Daerah angkatan berupa batukapur/karang yang terangkat membentuk perbukitan, dijumpai di sebelah utara Pulau Sumbawa bagian barat (Dessaunetes, 1977). Jika dirinci lebih mendalam sebagian besar wilayah NTB mempunyai topografi berbukit-bukit hingga bergunung. Berdasarkan bentuk wilayah dan lereng, daerah ini dapat dibedakan dalam 6 satuan yaitu (1) datar (7,2%), (2) datar-berombak (10,8%), berombak-bergelombang ((17,6%), dan bergelombang sampai berbukit dan gunung (63,4%) (Bappeda, 2002).
Kondisi geologi, fisiografi dan iklim menghasilkan tanah-tanah di propinsi NTB dapat diklasifikasikan menjadi 6 ordo dan diturunkan menjadi sekitar 10 sub-ordo dan 17 gret-group yaitu: Entisols (Ustifluvents. Ustipsamments, Tropopsamments, Ustorhents, Troporthents), Inceptisols (Ustropepts, Tropaquepts, Halaquepts), Mollisols (Haplustolls), Vertisols (Haplusterts), Andisols (Hapludands dan Haplustands), dan Alfisols (Haplustalfs, dan Rhodustlafs) (Suwardji dan Priyono, 2004).
Dengan melihat ciri khas dan keragaman iklim,fisiografi, tanah dan vegetasi yang ada, serta kondisi sosial ekonomi masyrakakat yang cukup beragam di Propinsi NTB tidaklah berlebihan jika daerah ini merupakan pewakil  yang reprensentatif untuk lokasi pengkajian dan pengembangan budidaya pertanian lahan kering semiringkai di Indonesia.
POTENSI DAN PERMASALAHAN DALAM PENGEMBANGAN PERTANIAN LAHAN KERING DI PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT
Propinsi NTB mempunyai keunggulan komparatif berupa potensi wilayah lahan kering yang cukup luas (sekitar 1, 6 juta hektar) dan berpeluang besar dikembangkan untuk sektor kehutanan dan pertanian dalam airti luas guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Potensi pengembangan pertanian lahan kering di propinsi NTB yang cukup besar tersebut dibandingkan dengan pengembangan lahan sawah karena (1) sangat dimungkinkan pengembangan berbagai macam komoditas pertanian untuk keperluan eksport dengan luas dan kondisi agroekosistem yang cukup beragam, (2) dimungkinkan pengembangan pertanian terpadu antara ternak dan taman perkebunan/kehutanan serta tanaman pangan, (3) membuka peluang kerja yang lebih besar dengan investasi yang relatif lebih kecil dibandingkan membangun fasilitas irigasi untuk lahan sawah, dan (4) mengentaskan kemiskinan dan keterbelakangan sebagian besar penduduk yang saat ini tinggal di lahan kering (Suwardji dkk, 2002).
Walaupun potensi lahan kering NTB yang cukup besar, lahan kering yang ada memiliki ekosistem yang rapuh (fragile) dan mudah terdegradasi apabila pengelolaannya tidak dilakukan dengan cara-cara yang tepat, topografi umumnya berbukit dan bergunung, ketersediaan air tanah yang terbatas, lapisan olah tanah dangkal, mudah tererosi, teknologi diadopsi dari teknologi lahan basah yang tidak sesuai untuk lahan kering, infrastruktur tidak memadai, sumberdaya manusia rendah, kelembagaan sosial ekonomi lemah, perhatian pemerintah sangat kurang dan partisipasi berbagai pihak dalam pengembangan lahan kering terutama pihak swasta sangat kurang (Suwardji dan Tejowulan, 2003).
KONSEP DASAR DALAM MENGEMBANGKAN SISTEM PERTANIAN LAHAN KERING YANG BERKELANJUTAN DI PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT
Pertanian yang berkelanjutan bukanlah pilihan tetapi suatu keharusan. yang perlu dilakukan jika kita ingin terus dapat melakukan pembangunan. Kita telah menyaksikan pertambahan penduduk dunia yang terus meningkat begitu besarnya seperti yang terjadi di Indonesia dan menyebabkan penurunan sumberdaya alam (SDA) serta kerusakan lingkungan yang sangat cepat. Beberapa ahli sependapat bahwa kerusakan SDA akan sangat tergantung pada kesuksesan pertanian dalam menjamin sistim pangan dunia. Hal ini dipandang sangat penting karena kegagalan dalam menyediakan pangan berarti bencana dunia yang akan terjadi.
Konsep Sistim Pertanian Berkelanjutan (SPB) menjadi isue global muncul pada tahun delapan puluhan, setelah terbukti pertanian sebagai suatu sistem produksi ternyata juga sebagai penghasil polusi. Pertanian bukan hanya penyebab degradasi lahan, tetapi juga penyebab degradasi lingkungan diluar daerah pertanian (daerah hilir). Meluasnya lahan-lahan marjinal dan pendangkalan perairan di daerah hilir merupakan bukti nyata bahwa pertanian yang tidak dikelola secara berkelanjutan telah menurunkan kualitas sumberdaya pembangunan. Oleh karena itu, tantangan bagi kita semua di masa depan adalah bagaimana pertanian dapat mamasok kebutuhan hidup manusia secara berlanjut tanpa banyak menimbulkan degradasi sumberdaya alam dan lingkungan (Suwardji dan Tejowulan, 2003).
Walaupun perhatian dunia terhadap SPB baru muncul tahun delapan puluhan tetapi sebenarnya proses pematangan konsep tersebut sudah dimulai jauh sebelumnya. Beberapa konsep pertanian klasik yang menjadi dasar pengembangan konsep SPB antara lain pertanian biodinamik (biodynamic agriculture) (1924), humus farming (1930-1960), organic farming (1940-an), dan terakhir muncul alternative agriculture (1988) dan sustainable agriculture (1987) (Hawood, 1990). Di Indonesia sendiri, pertanian dengan konsep SPB sebagai teknologi lokal sebanarnya sudah berkembang sejak zaman nenek moyang dulu antara lain wana tani damar di Krui dan kebun hutan karet di Sumatera, pertanian  kebun di Lombok dan Sumbawa.
Konsep SPB sendiri diturunkan dari konsep dasar pembangunan berkelanjutan, buku deklarasi Johanesburg (2002) tentang pembangunan yang berkelanjutan layak untuk dipedomani yang maknanya adalah bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup manusia saat ini tanpa mengorbankan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup generasi yang akan datang (Deplu, 2002). Artinya, sebagai subsistem, pertanian berkelanjutan harus mampu memanfaatkan sumberdaya secara efisien dan berinteraksi secara sinergis dengan subsistem pembangunan berkelanjutan lainnya (Baron dan Nielson, 1998; Conway dkk., 1990).
Dalam mengembangkan pertanian lahan kering yang berkelanjutan di propinsi NTB ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Diantaranya (1) perlunya upaya untuk mengurangi ketergantungan pada non-renewable energi dan sumberdaya kimia, (2) perlunya mengurangi kontaminasi bahan pencemar akibat samping kegiatan pertanian pada udara, air dan lahan, (3) mempertahankan habitat untuk kehidupan fauna yang memadai, dan (4) dapat mempertahankan sumberdaya genetik untuk tanaman dan hewan yang diperlukan dalam pertanian. Selain itu pertanian harus mampu mempertahankan produksinya sepanjang waktu dalam menghadapi tekanan sosial ekonomi  tanpa merusak lingkungan yang berarti (Sinclair, 1987).
Jika kita ingin mengembangkan sistem pertanian lahan kering seperti yang diungkapkan di atas secara ringkas SPLKB adalah “ sistim pertanian lahan kering yang yang mampu memenuhi kebutuhan kini tanpa mengorbankan kesanggupan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan mereka (Scope, 1990 diubah). Menurut UU No 12/1992 dalam pasal 2 istilah berkelanjutan sebagai salah satu azas pertanian. Sehingga apapun yang dikembangkan untuk sistim pertanian di Indonesia termasuk pengembangan pertanian lahan kering haruslah merujuk asas sistim pertanian yang berkelanjutan. Di samping asas tersebut dalam UU No 12/1992 adalah asas manfaat dan lestari.
Dari uraian di atas, batasan berkelanjutan (sustainability) mengandung pengertian berkelanjutan pendapatan (berwawasan agribisnis) dan kelestarian sumberdaya alam (berwawasan lingkungan). Mengutip Utomo (2001), secara sederhana dapat dirumuskan bahwa sistim pertanian lahan kering yang berkelanjutan (SPLKB) = Produksi pertanian (pendapatan) + Konservasi sumberdaya.
ISUE-ISUE STRATEGIS DALAM PENGEMBANGAN PERTANIAN LAHAN KERING YANG BERKELANJUTAN DI PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT
Untuk mengembangkan sistem pertanian lahan kering yang berkelanjutan (SPLKB) perlu diketahui isue-isue strategis penting dalam pengembangan pertanian lahan kering di Propinsi NTB serta berbagai kendala yang telah dibahas di atas.  Beberapa isue strategis penting dalam pengembangan pertanian lahan kering di Propinsi NTB adalah:
·         Diperlukan pendekatan terpadu dalam pengembangan pertanian lahan kering
·         Diperlukan sekenario model pengembangan pertanian lahan kering yang spesifik lokasi terintegrasi dengan berbagai sektor
·         Diperlukan pendekatan agribisnis
·         Perlunya perubahan kebijakan subsisten menjadi komersial
·         Orientasi produk primer menjadi sekunder
·         Peran masyarakat menjadi lebih besar
·         Meningkatkan daya saing  produk pertanian lahan kering
·         Meningkatkan kesempatan kerja
·         Peningkatan peluang usaha di desa
·         Peningkatan pendapatan petani
·         Peningkatan PAD dan devisa negara
·         Keselarasan pembangunan upland dan lowland untuk mempertahankan kualitas lingkungan
Dari beberapa isue-isue strategis dan berbagai kendala dalam pengembangan pertanian lahan kering yang telah didiskisukan di atas kemudian dapat dissusun kerangka dasar (framework) dalam pengembangan pertanian lahan kering yang berkelanjutan.
Secara umum kerangka dasar penelitian yang perlu dilakukan dalam pengelolaan sumberdaya untuk menuju sistem pertanian yang berkelanjutan dapat dilihat pada Gambar 1. Dari kerangka tersebut jelaslah bahwa permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan sistem pertanian lahan kering yang berkelanjutan sangatlah komplek, sehingga diperlukan pendekatan sistem (system approach) yang terintegrasi (integrated) dan secara menyeluruh (comprehensive) untuk mengatasi berbagai aspek permasalahan tersebut. Untuk itu diperlukan upaya untuk mencari sekenanio model pengembangan pertanian yang bersifat spesifik lokasi yang merupakan integrasi dari berbagai macam sektor baik pertanian, peternakan, industri  maupun sektor-sektor lainnya.
Share :

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan masukkan saran, komentar saudara, dengan ikhlas saya akan meresponnya.

 
SEO Stats powered by MyPagerank.Net
My Ping in TotalPing.com