Thursday, March 21, 2013

PENGERTIAN ETIOLOGI HALITOSIS


PENGERTIAN
Halitosis adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan ketidaknyamanan atau adanya bau yang tidak enak dalam pernafasan. Halitosis juga dikenal dengan nama fetor ex ore atau fetor oris. Beberapa peneliti melaporkan bahwa senyawa volatile sulfur (VSC) seperti hidrogen sulfida, metil merkaptan dan dimetil sulfida merupakan gas-gas yang berhubungan dengan halitosis.
Peninggian konsentrasi sulfur di dalam rongga mulut diakibatkan oleh reaksi metabolik yang menghasilkan gas H2S dan NHZ dari pembusukan sisa-sisa makanan
dan jaringan nekrotik yang terbentuk dan suplai darah yang berkurang menyebabkan kadar 02 juga berkurang di daerah infeksi (l). Bau mulut dapat berbeda setiap hari bahkan setiap jamnya tergantung pada aliran saliva, sisa makanan, po.pulasi bakteri di dalam mulut dan kondisi hormonal fisiologis (l'IZ).

ETIOLOGI
Halitosis dapat terjadi karena dipengaruhi oleh faktor-faktor fisiologis dan patologis yang berasal dari kondisi lokal atau intra oral dan kondisi sistemik atau extra oral.

Faktor Fisiologis Intra Oral
Bau mulut serta nafa.s yang normal pada pagi had biasa.nya lebih berat dan kurang sedap dibandingkan pada siang hari. Keadaan ini disebabkan karena berkurangnya aliran saliva dan aktivitas pipi maupun lidah untuk menghilangkan, epitelium deskuamasi serta pembusukan ludah dan sisa makanan selama tidur. Disamping itu kebiasaan bernafas melalui mulut dapat memperhebat keadaan tersebut. Biasanya bau akan hilang setelah makan atau menyikat gjgi. Saat makan, aktivitas mengunyah yang melibatkan lidah, pip', gigi dan struktur-struktur lainnya akan meningkatkan aliran saliva serta membantu menyingkirkan penumpukan sisa makanan sehingga intensitas halitosis pun berkurang.
Intensitas dan kualitas bau mulut akan berubah sejalan dengan pertambahan usia. Pada usia muda bau mulut biasanya lebih menyenangkan, namun pada usia lanjut bau mulut akan terasa asam dan tidak nyaman bahkan pada individu yang higiena oralnya baik (12). Individu yang mempunyai kebiasaan merokok terutama pada yang perokok berat, bukan hanya menimbulkan bau nafas yang cukup khas, tetapi juga mengakibatkan hairy tongue yang dapat menyebabkan terperangkapnya sisa-sisa makanan dan bau tembakau. Disamping itu keadaan ini juga mengurangi sekresi mukous sehingga makin memperhebat bau nafas pasien tersebut.
Pemakaian protesa yang terbuat dari vullumite dapat menyebabkan bau mulut dikarenakan adanya poreus-poreus halus yang sering terdapat pada permukaan basis protesa dimana sisa-sisa ma.kanan dapat melekat dan membusuk. Berbeda dengan protesa yang terbuat dari akrilik yang tidak selamanya menimbulkan nafas berbau walau sudah lama dipakai. Oleh karena itu perlu dicamkan kepada pasien untuk tetap menjaga higiena oralnya, bahkan pada pasien yang memakai protesa dari vynil resin dikarenakan saliva dan makanan dengan mudah dapat melekat ke protesa dan menimbulkan bau yang sangat tidak menyenangkan

Faktor Fisiologis Ekstra Oral
Beberapa jenis masakan dan substansi makanan yang dikonsumsi sehari-hari juga dapat menimbulkan bau nafas yang kurang sedap. Makanan yang digoreng dan banyak mengandung bumbu seperti bawang dapat menimbulkan bau yang bertahan di mulut selama 10 - 12 jam. Bahkan bau tersebut masih tetap terasa setelah gigi-gigi dibersihkan. Bau ini timbul karena substansi makanan tersebut diabsorber oleh saluran pencernaan dan dikeluarkan dengan lambat melalui paru-paru. Keadaan ini telah dibuktikan oleh Morris dan Read dengan memberikan suatu kapsul yang mengandung bawang putih kepada pasien yang diteliti dan menghasilkan bau yang bertahan lama pada udara pernafasan. Peneliti Wimp juga membuktikan bahwa bau bawang putih tersebut dalam waktu singkat telah dapat dirasakan pada pernafasan dan, bertahan selama beberapa jam walaupun saluran pencernaan seperti jejunum merupakan bagian yang terpisah dari perut.
Metabolit atau zat-zat yang terkandung dalam makanan dan dikeluarkan melalui paru-paru juga dapat menyebabkan halitosis. Orang yang gemar memakan daging cenderung mempunyai halitosis dibanding dengan seorang vegetarian oleh karena asam lemak jenuh yang berasal dari lemak daging yang dihasilkan dalam sistem pencernaan akan terabsorbsi ke dalam darah dan akhirnya diekskresikan pada pernafasan. Sementara individu yang mengkonsumsi bahan makanan yang cair seperti susu, misalnya pada pasien penderita tukak lambung, dan makanan yang banyak mengandung protein umumnya juga menyebabkan bau nafas yang kurang sedap. Halitosis bisa diatasi secara sederhana yakni dengan mengurangi konsumsi makanan yang mengandung lemak dan banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung serat seperti sayuran atau buah).
Pada orang yang peminum berat, populasi flora normal di dalam mulutnya akan berubah sehingga menyebabkan proliferasi organisme pembusuk yang bisa menimbulkan bau mulut. Sejumlah pasien yang mengalami menstruasi dan menopause juga menderita bau mulut namun hal ini tidak selalu terjadi.

Faktor Patologis Intra Oral
Faktor penyebab halitosis yang paling sering terlihat adalah disebabkan karena kurang terjaganya kebersihan dan kesehatan di rongga mulut. Pada pasien yang higiena oralnya buruk cenderung terjadi pembusukan sisa-sisa makanan yang menumpuk di sela-sela gigi oleh bakteri yang ada di dalam mulut. Keadaan ini akan semakin parah pada pasien yang mempunyai kecenderungan untuk membentuk kalkulus dengan cepat dan juga pada perokok dengan deposit kalkulus serta nikotin pada gigi-giginya, letak gigi yang tidak teratur, pesawat ortodonti yang kurang terpelihara atau poreus juga merupakan faktor pendukung timbulnya halitosis. Demikian juga halnya dengan keadaan karies yang dalam atau besar, papila interdental yang hilang karena adanya resesi gingiva, dan terbentuknya pseudopocket pada gigi yang erupsi.
Penyakit jaringan lunak mulut dan proses keganasan yang dapat menyebabkan nekrosis jaringan seperti stomatitis gangraenous dan norma atau cancrum oris serta lesi-lesi ulseratif yang berhubungan dengan kelainan darah juga dapat menimbulkan bau busuk yang spesifik pada mulut ('). Degenerasi darah dan mulut; baik perdarahan gusi, pasca bedah mulut maupun di daerah bekas pencabutan gigi, dapat menimbulkan rasa asin dan bau mulut yang tidak soap. Bau ini timbul dikarenakan berkurangnya fungsi pengunyahan yang normal pada masa-masa tersebut disamping harus mengkonsumsi makanan yang lunak, adanya perdarahan ringan serta populasi bakteri yang meningkat di dalam mulut.
Pada penyakit periodontal seperti gingivitis dan periodontitis kronrs yang disertai pembentukan saku, hawa pernafasan yang keluar dari dalam mulut terasa berbau busuk. Selain karena pembusukan sisa-sisa makanan yang terperangkap di dalam saku, pada kondisi ini cairan ludah juga dapat cepat membusuk sehingga menambah parah bau mulut individu.
                Reaksi metabolik timbul menghasilkan gas HZS dan NHZ (Amino) sehingga terjadi- peninggian konsentrasi sulfur yang mudah menguap daiam udara di rongga mulut
Gangren pulpa termasuk faktor lokal yang dapat menimhulkan bau busuk yang sangat menusuk pada hawa nafas. Dalam hal ini bau yang timbul merupakan hasil fermentasi bakteri Klostridium sehingga terjadi reaksi metabolisme yang menghasilkan asam dan gas gangren, akibatnya hawa nafas yang keluar dari mulut akan berbau gangren.

Faktor Patologis Ekstra Oral
Rinitis atropik yang ditandai dengan rasa kering dan atrofi membrana sehingga rongga hidung meniadi besar, berkerak dan menimbulkan bau. Hanya saja rinitis atropik jarang dijumpai, sedang sinusitis kronis sering disertai dengan nafas yang bau. Hal ini terlihat nyata pada kasus sinusistis maxilaris kronis, terutama karena disebabkan gigi terinfeksi oleh bakteri streptokokus viridans yog mampu mengeluarkan bau tidak sedap. Bedah tonsilektomi sendiri dapat menghasilkan bau yang serupa dengan bau darah busuk yang terjadi setelah dilakukan operasi mulut.
Keadaan-keadaan seperti abses atau gangraen paru, yang dapat menimbulkan kavitas pada paru-paru akan menyebabkan bau nafas tidak sedap. Diabetes dan penyakit ginjal merupakan contoh kondisi sistemik yang paling dikenal. Kalau pada pasien yang diabetesnya terkontrol tidak terdeteksi adanya bau mulut, maka sebaliknya nafas yang berbau aseton akan tercium pada pasien dengan diabetic acidocis akan cenderung mengalami koma hiperglikemia. Pada penyakit gagal ginjal kronis terjadi penumpukan urea dalam sekret-sekret antara lain dalam keringat dan saliva yang akan menimbulkan bau amonia pada udara pernafasan yang menunjukkan suatu keadaan uremia.
Halitosis juga bisa timbul pada keadaan dimana terdapat gangguan saluran pencernaan seperti adanya pendarahan intestinal yang baunya menyerupai bay kotoran.
Faktor lain yang menyebabkan halitosis adalah pemakaian obat-obatan yang digunakan untuk penyembuhan penyakit sistemik yang mungkin diderita pasien. Bau yang timbul disini ada kaitannya dengan efek samping yang ditimbulkan obat yakni xerostomia. 
Share :

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan masukkan saran, komentar saudara, dengan ikhlas saya akan meresponnya.

 
SEO Stats powered by MyPagerank.Net
My Ping in TotalPing.com