Tuesday, March 26, 2013

Pengertian Modal Kerja


Pengertian Modal Kerja
      Menurut Keown, dkk (2000 : 144), pengertian modal kerja adalah “investasi total perusahaan dalam asset lancar, ini disebut juga modal kerja bruto. Sedangkan modal kerja netto adalah delisih antara aset lancar perusahaan dan kewajiban lancar”.
Menurut Irawati (2006 : 89), “modal kerja mengandung dua pengertian yaitu gross working capital yang merupakan keseluruhan dari aktiva lancar dan net working capital yang merupakan selisih antara aktiva lancar dikurangi hutang lancar.
Pada prinsipnya modal kerja merupakan bagian dari dana perusahaan yang berfungsi sebagai jembatan antara saat pengeluaran uang kas untuk memperoleh hasil produksi atau jasa, dengan saat penerimaan hasil penjualan. Modal kerja pada akhir periode merupakan faktor penting dalam membuat penilaian aktivitas perusahaan yang telah lampau dan dalam pertimbangan kemungkinan dapat di capai pada masa yang akan datang.
Menurut Riyanto (2001 : 57), untuk memahami pengertian modal kerja dapat dikemukakan beberapa konsep yaitu :

  1. Konsep Kuantitatif
Konsep ini menitikberatkan pada kuantum yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan perusahaan dalam membiayai operasinya yang bersifat rutin atau menunjukkan jumlah dana yang tersedia untuk tujuan operasi jangka pendek. Konsep ini menganggap bahwa modal kerja adalah jumlah aktiva lancar.

  1. Konsep Kualitatif
Konsep ini menitikberatkan pada modal kerja. Dalam hal ini modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap hutang lancar.

  1. Konsep Fungsional
Konsep ini mendasar pada fungsi dari dana dalam penghasilan pendapatan (income). Setiap dana yang dikerjakan dalam perusahaan adalah dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan. Tetapi tidak semua digunakan untuk menghasilkan current income namun ada sebagian dana yang akan digunakan untuk menghasilkan pendapatan untuk periode-periode berikutnya, misalnya bangunan, mesin-mesin, pabrik, alat-alat kantor dan aktiva lainnya.
      Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa modal kerja selalu dalam keadaan berputar pada perusahaan selama perusahaan yang bersangkutan dalam keadaan beroperasi.

Jenis-jenis Modal Kerja
            Menurut Abdullah (2002 : 129), modal kerja dapat digolongkan pada dua jenis yaitu :
  1. Modal Kerja Permanen (Permanent Working Capital)
Modal kerja ini harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya atau dengan kata lain modal kerja yang terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha. Modal kerja permanen dapat dibedakan atas :
  • Modal Kerja Primer (Primary Working Capital), yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kelangsungan usahanya. 
  • Modal Kerja Normal (Normal Working Capital), yakni jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal. Pengertian normal disini adalah dalam artian yang dinamis.
  1. Modal Kerja Variabel (Variabel Working Capital)
Yaitu modal kerja yang dibutuhkan saat-saat tertentu dengan jumlah yang berubah-ubah sesuai dengan perubahan dalam suatu periode.
Modal kerja variable ini dapat dibedakan dalam tiga bagian yaitu :

  1. Modal Kerja Musiman (Season Working Capital)
Yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan fluktuasi musiman. Dalam hal ini perusahaan yang mempunyai kegiatan usaha tergantung pada musim atau besar kecil modal kerja yang ditentukan juga kepada factor musim terjadi.

  1. Modal Kerja Siklis ( Cyclical Working Capital)
Modal kerja siklis adalah modal kerja yang besarnya berubah-ubah disebabkan oleh perusahaan permintaan produk. Kebutuhan modal kerja pada jenis ini sangat tergantung dari adan ya pengaruh fluktuasi permintaan produk yang ada dipasar.

  1. Modal Kerja Darurat (Emergensy Working Capital)
Modal kerja darurat adalah modal kerja yang besarnya berubah-ubah karena keadaan darurat yang tidak diketahui, misalnya kebakaran, banjir, gempa bumi, buruh mogok, perubahan keadaan ekonomi yang mendadak ini berfungsi untuk berjaga-jaga dan besar kecilnya modal kerja ini berdasarkan estimasi-estimasi disamping berdasarkan pada pengalaman yang lalu.
       
Unsur Modal Kerja
Syamsuddin (2000 : 144), menjelaskan bahwa unsur modal kerja menurut konsep kuantitatif dan kualitatif terdiri dari aktiva lancar dan hutang lancar.
         1. Aktiva lancar
Ikatan Akuntansi Indonesia (2004 : 19), menyatakan bahwa  “Dalam praktek yang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar adalah aktiva yang diharapkan dapat direalisasikan dalam waktu satu tahun dalam siklus operasional perusahaan.”
a.       Kas dan Bank
b.      Surat-surat berharga yang sudah dijual dan tidak dimaksudkan untuk ditahan.
c.       Deposito jangka pendek.
d.      Wesel tagih yang jatuh tempo dalam jangka satu tahun.
e.       Persediaan.
f.       Pembayaran pajak dimuka
g.      Pembayaran uang muka pembelian aktiva lancar
h.      Piutang lain-lain yang diharapkanakan direalisasikan dalam waktu satu tahun.
  1. Hutang lancar
Hutang lancar merupakan kewajiban  jangka panjang perusahaan kepada pihak lain yang harus dipatuhi dalam jangka waktu yang normal umumnya satu tahun. Yang termasuk kewajiban jangka pendek meliputi :
a.       Pinjaman bank
b.      Bagian kewajiban jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun dejak tanggal neraca.
c.       Hutang usaha dan biaya yang masih harus dibayar
d.      Uang muka penjualan
e.       Penyisihan kewajiban pajak
f.       Hutang deviden
g.      Hutang pembelian aktiva tetap dan hutang lain-lain yang harus dibayar diselesaikan dalam waktu satu tahun

Faktor-faktor yang mempengaruhi modal kerja
      Tersedianya modal kerja yang segera dapat dipergunakan dalam operasi perusahaan tergantung pada tipe atau sifat likuid ( mudah ditukarkan menjadi uang tunai ) dari aktiva yang dimiliki perusahaan seperti kas, piutang, persediaan barang dagang dan lain-lain.
Faktor-faktor yang mempengaruhi modal kerja adalah sebagai berikut :

  1. Sifat atau tipe perusahaan itu
Modal kerja dari suatu perusahaan jasa relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan kebutuhan modal kerja pada perusahaan industri, karena untuk perusahaan jasa tidak memerlukan investasi yang besar dalam kas, piutang, maupun persediaan. Kebutuhan uang tunai untuk pegawai maupun untuk membiayai operasinya dapat dipenuhi dari penghasilan maupun penerimaan pada saat itu juga. Sedangkan piutang dapat ditagih dalam waktu yang relatif pendek, bahkan untuk perusahaan jasa biasanya memiliki atau menginvestasikan modal sebagian besar pada aktiva tetap yang digunakan untuk memberikan pelayanan atau jasa kepada masyarakat.

  1. Harga persatuan dari barang tersebut.
Besar kecilnya kebutuhan modal kerja suatu perusahaan berhubungan langsung dengan waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh barang yang dijual. Semakin tinggi harga pokok per satuan barang yang akan dijual maka semakin besar pula kebutuhan modal kerja.

  1. Syarat pembelian bahan atau barang dagangan.
Syarat pembelian barang dagangan atau bahan baku yang akan digunakan untuk memproduksi barang jadi sangatlah mempengaruhi jumlah modal kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan yang bersangkutan, jika syarat kredit pada saat pembelian menguntungkan maka semakin kecil uang kas yang harus diinvestasikan.

  1. Syarat penjualan
Semakin lunak kredit yang diberikan oleh persediaan kepada para pembeli akan mengakibatkan semakin besarnya jumlah modal kerja yang harus diinvestasikan dalam piutang dan untuk memperkecil resiko adanya piutang yang tidak dapat tertagih, sebaliknya perusahaan memberikan potongan itu kepada pembeli karena dengan begitu para pembeli akan tetarik untuk segera membayar hutangnya dalam priode diskonto tersebut.

  1. Tingkat perputaran persediaan
Tingkat perputaran persediaan menunjukkan berapakah persediaan tersebut diganti dalam arti dibeli atau dijual kembali. Semakin tinggi tingkat perputaran persediaan tersebut, maka jumlah modal yang dibutuhkan semakin rendah, semakin tinggi tingkat perputaran tersebut, maka memperkecil resiko terhadap kerugian yang disebabkan karena penurunan harga dan perubahan selera konsumen.

  1. Pengaruh konjungtor (business cycle)
Pada periode makmur atau aktivitas perusahaan meningkat dan perusahaan cenderung membeli barang-barang lebih banyak dan memanfaatkan harga yang masih rendah, ini berarti perusahaan memperbesar persediaan.
  1. Pengaruh musim
Perusahaan yang dipengaruhi oleh musim membutuhkan jumlah maksimum modal kerja yang relatif lebih pendek.
  1. Credit rating
Jumlah modal kerja dalam bentuk kas termasuk surat-surat berharga dibutuhkan perusahaan untuk membiayai operasinya tergantung pada kebijaksanaan penyediaan uang kas.

Penentuan Besarnya Kebutuhan Modal Kerja
            Besar kecilnya modal kerja terutama tergantung kepada dua faktor yaitu :
  1. Periode perputaran atau periode terikat modal kerja adalah keseluruhan atau jumlah dari periode-periode yang meliputi jangka waktu pembelian kredit, lama penyimpanan bahan mentah digudang, lama proses produksi, lama barang jadi disimpan di gudang dan jangka waktu penerimaan piutang.
  2. Pengeluaran kas rata-rata setiap harinya. Pengeluaran setiap hari merupakan jumlah pemgeluaran kas rata-rata setiap hari untuk keperluan pembelian bahan mentah, bahan pembantu, pembayaran upah buruh dan biaya-biaya lainnya.
Menurut Sundjaja dan berlian (2002 : 157), besarnya modal kerja yang dibutuhkan tergantung pada beberapa hal yaitu :

  1. Besar kecilnya skala usaha perusahaan
Kebutuhan modal kerja pada perusahaan besar berbeda dengan perusahaan kecil. Dimana perusahaan besar mempunyai keuntungan akibat lebih luasnya pembiayaan yang tersedia dibandingkan dengan perusahaan kecil yang sangat tergantung pada beberapa sumber saja.

  1. Aktivitas perusahaan
Perusahaan yang bergerak dibidang jasa tidak mempunyai persediaan barang dagangan sedangkan perusahaan yang menjual persediaannya secara tunai tidak memiliki piutang dagang. Hal ini mempengaruhi tingkat perputaran dan jumlah modal kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi barang yang akan dijual.

  1. Volume penjualan
Volume penjualan merupakan faktor yang sangat penting yang mempengaruhi kebutuhan modal kerja. Bila penjualan meningkat maka kebutuhan modal kerja akan meningkat demikian pula sebaliknya.

  1. Perkembangan teknologi
Kemajuan teknologi khususnya yang berhubungan dengan proses produksi  akan mempengaruhi kebutuhan modal kerja. Otomatisasi yang mengakibatkan proses produksi yang lebih cepat membutuhkan persediaan bahan baku yang lebih banyak agar kapasitas maksimum dapat tercapai. Selain itu akan membuat perusahaan mempunyai persediaan barang jadi dalam jumlah yang lebih banyak pula.

  1. Sikap perusahaan terhadap likuiditas dan profitabilitas
Adanya biaya dari semua dana yang dipergunakan perusahaan mengakibatkan jumlah modal kerja yang relatif lebih besar dan mempunyai kecenderungan mengurangi laba, tetapi dengan persediaan barang yang besar akan membuat perusahaan mempunyai persediaan barang yang cukup.
                        Sebab timbulnya kekurangan modal kerja adalah :
1.      Adanya kerugian usaha
2.      kenaikan tingkat harga
3.      kebijaksanaan pembayaran deviden yang tidak tepat
4.      kegagalan mendapatkan modal kerja pada waktu mengadakan perluasan usaha atau operasi.
     Sebab-sebab timbulnya kelebihan modal kerja adalah :
1.      Pengeluaran saham dan obligasi yang melebihi dari jumlah yang diperlukan
2.      Penjualan aktiva tetap tanpa diikuti penempatan kembali
3.      Pendapatan atau keuntungan yang diperoleh tidak digunakan untuk membayar deviden dan membeli aktiva.
Share :

0 komentar:

Post a Comment

Silahkan masukkan saran, komentar saudara, dengan ikhlas saya akan meresponnya.

 
SEO Stats powered by MyPagerank.Net
My Ping in TotalPing.com